PLATYHELMINTES

 

 

Ketika kita memperhatikan sekitar kita, maka kita akan mengetahui betapa Maha Kuasa dan Maha sempurnanya Allah swt yang telah menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya yaitu mahluk hidup yang salah satunya hewan. Keberadaan hewan dimuka bumi sangat beraneka ragam Allah menciptakan berbagai ciptaannya agar kita dapat mengambil pelajaran dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup kita semua, sesuai ayat yang tertulis yaitu Surat An-Nuur ayat 45 :

“Dan Allah Telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nuur: 45)

Dengan penafsiran : Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air yang memancar sebagaimana Dia menciptakan tumbuhan dari air yang tercurah. Lalu Allah menjadikan hewan-hewan itu beraneka ragam jenis, potensi, dan fungsi, maka sebagian dari mereka yakni hewanitu ada yang berjalan diatas perutnya, seperti buaya, ular, cacing,dan hewan melata lainnya. Sedang sebagian yang lain berjalan dengan dua kaki, seperti manusia, burung, sedang sebagian yang lain berjalan dengan empat kaki seperti sapi, kambing, dll. Memang Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana karena itu Allah secara terus menerus menciptakan apa dan dengan cara serta bahan yang dikehendaki-Nya, sebagai bukti kekuasaan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Sumber: Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah).

Salah satu mahluk ciptaan Allah swt yang akan kita bahas kali ini adalah cacing. Cacing merupakan salah satu hewan yang berjalan dengan perutnya, tidak bertulang belakang. Cacing ini beraneka ragam jenisnya salah satunya adalah filum Platyhelminthes yaitu cacing daun yang umumnya bertubuh pipih. Platyhelminthes merupakan gabungan dua kata yang berasal dari bahasa yunani, yaitu platy = pipih dan helminthes = cacing. Platyhelminthes atau cacing pipih adalah kelompok hewan yang struktur tubuhnya sudah lebih maju dibandingkan porifera dan Coelenterata.

Cacing ini merupakan yang paling sederhana diantara semua hewan simetris bilateral. Platyhelminthes memiliki tubuh padat, lunak, dan epidermis bersilia. Cacing pipih merupakan hewan tripoblastik yang tidak mempunyai rongga tubuh (acoelomata). Sebagian besar cacing pipih, seperti cacing isap dan cacing pita adalah parasit. Namun, banyak yang hidup bebas yang habitatnya di air tawar dan air laut, khususnya di pantai berbatu dan terumbu.

Filum ini terdiri atas 9000 spesies. Pemberian nama pada organisme ini adalah sangat cepat. Sejumlah besar hewan ini berbentuk hampir menyerupai pita. Hewan ini simetris bilateral dengan sisi kiri dan kanan, permukaan dorsal dan ventral dan juga anterior dan posterior.

Cacing parasit ini mempunyai lapisan kutikula dan silia yang hilang setelah dewasa. Hewan ini mempunyai alat pengisap yang mungkin disertai dengan kait untuk menempel. Cacing pipih belum mempunyai sistem peredaran darah dan sistem pernafasan. Sedangkan sistem pencernaannya tidak sempurna, tanpa anus. Platyhelminthes terbagi dalam 3 kelas, yaitu Kelas Turbellaria, Kelas Trematoda dan kelas Cestoda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Definisi Turbellaria

Turbellaria adalah salah satu ordo dari filum platyhelmintes. Turbellaria ini merupakan cacing yang berbulu getar atau memiliki silia, tidak memiliki rongga, tidak memiliki anus, triplobastik yang hidup bebas di perairan jernih ataupun daratan yang lembab, karena tubuh bagian ventral dan dorsal yang cukup tipis atau pipih maka banyak yang menyebutnya flatworms (cacing pipih).

  • Klasifikasi Turbellaria.

Berdasarkan struktur tubuhnya, Platyhelminthes dibagi menjadi 3 kelas (Gegenbaur,1859) yaitu :

  1. Kelas Turbellaria
  2. Kelas Trematoda
  3. Kelas Cestoda

Pada Kelas Turbellaria (cacing rambut getar) Berdasarkan poros kehidupannya dilihat dari ususnya Kelas Turbellaria dibagi menjadi 5 ordo, yaitu;

Ordo 1 Acoela, contoh: Convolutaw

Ordo 2 Rhabdocoela, dibagi dalam 4 sub-ordo

  • Sub-ordo 1 Notandropora, contoh: Catenula, Rhycoscolex
  • Sub-ordo 2 Opisthandropora, contoh: Macrostomum, Microstomum
  • Sub-ordo 3 Lecithopora, contoh: Anoplodium, Mesostoma
  • Sub-ordo 4 Temnocephalida, contoh: Temnocephala, Monodiscus

Ordo 3 Alloeocoela, mempunyai 4 sub-ordo.

  • Sub-ordo 1 Archopola, contoh: Proporoplana
  • Sub-ordo 2 Lecithoepitheliata, contoh: Prorhynchus
  • Sub-ordo 3 Cumulata, contoh: Hypotrichina
  • Sub-ordo 4 Seriata, contoh: Otoplana, Bothrioplana

Ordo 4 Tricladida,mempunyai 3 sub-ordo.

  • Sub-ordo 1 Maricola, contoh: Bdelloura, Ectoplana
  • Sub-ordo 2 Paludicola, contoh: Planaria atau Dugesia
  • Sub-ordo 3 Tericolla, contoh: Bipalium, Geoplana

Ordo 5 Polikladida, terdiri atas 2 sub-ordo.

  • Sub-ordo 1 Acotylea, contoh: Notoplana, Yungia
  • Sub-ordo 2 Cotylea, contoh: Thysanozoon

Sumber : http://www.scribd.com/doc/51196761/PLATYHELMINTHES

Contoh Turbellaria yang paling umum adalah Planaria sp, klafikasi Planaria menurut barnes (1987) klasifikasi planaria adalah sebagai berikut:

Kingdom           : Animalia
Phylum              : Platyhelminthes
Class                  : Turbellaria
Ordo                  : Tricladida
Sub Ordo           : Paludicola
Famili                 : Planariidae
Genus                : Euplanaria
Species               : Euplanaria, sp                           Gambar 4.1

Sumber :http://www.scribd.com/doc/45264999/Plan-Aria

Taksonomi Dugesia trigina atau Planaria sp.

Domain              : Eukarya

Kingdom           : Animalia

Subkingdom      : Eumetazoa

Super phylum    : Platyzoa

Phylum              : Platyhelminthes

Kelas                  : Turbellaria

Ordo                  : Seriata

Subordo             : Tricladida

Famili                 : Planariidae

Genus                : Dugesia

Spesies               : Dugesia tigrina

 

Sumber : http://www.scribd.com/doc/51196761/PLATYHELMINTHES,2012

 

  • Ciri Umum Turbellaria

Hewan dari kelas Turbellaria memiliki tubuh bentuk tongkat atau bentuk rabdit (Yunani : rabdit = tongkat). Hewan ini biasanya hidup di air tawar yang jernih, air laut atau tempat lembab dan hidup bebas. Tubuh memiliki dua mata dan tanpa alat hisap. Turbellaria mungkin tidak berwarna, putih, merah, kebiruan, hijau, hitam, coklat, atau kekuningan tergantung pada pigmen epidermal dan parenkim, isi usus, dan ganggang simbiotik. Turbellaria tidak mempunyai organ untuk melekatkan diri tubuh.

Hewan ini mempunyai kemampuan yang besar untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuhnya seperti tampak pada gambar di atas. Contoh Turbellaria antara lain Planaria dengan ukuran tubuh kira-kira 0,5 – 1,0 cm dan Bipalium yang mempunyai panjang tubuh sampai 60 cm dan hanya keluar di malam hari.
Permukaan tubuh Planaria bersilia. Belum memiliki alat peredaran darah dan pernafasaan. Alat pencernaanya belum sempurna karena tidak memiliki anus, sistem syarafnya berupa tangga tali. Sistem reproduksinya majemuk, karena bersifat hemaprodit. Metabolismenya ada dibagian tubuh atas. Tubuhnya tidak bersegmen (Aselomata).

  • Struktur Anatomi dan Morfologi Turbellaria

Gambar 4.2

Tubuh pipih dorsoventral, kepala berbentuk segitiga memiliki tonjolan 2 keping disisi lateral atau kita kenal sebagai bintik mata (eyespot) ekor meruncing. Pada kepala ada yang berbentuk telinga (aurikel).Panjang tubuh ± 5-25 mm, tetapi bagi yang hidup di darat panjangnya mencapai 60 cm. Bagian dorsal lebih berwarna gelap dari pada ventral. Pada tengah dorsal kepala ada bintik mata (fungsinya membedakan cahaya gelap dan terang) ini berkaitan dengan habitatnya di tempat yang lembab, sehingga ia akan mencari tempat yang gelap agar tubuhnya tidak kering.

Memiliki tiga lapisan tubuh (triplobastik), pada lapisan epidermis terdapat banyak sel kelenjar yang disebut rhabdoid yang berfungsi untuk melekat, membungkus mangsa, dan sebagai jejak lendir pada waktu merayap. Di bawah epidermis terdapat serabut-serabut otot melingkar, longitudinal, diagonal, dan dorsoventral sehingga Turbelaria mudah memutar dan meliuk-liuk. Panjang tubuh sekitar 0,1 – 600 mm. Lubang mulut terletak di tengah bagian ventral perut ke arah ekor. Lubang mulut berhubungan dengan kerongkongan dengan dinding yang dilengkapi otot daging sirkular dan longitudinal. Kerongkongannya bisa ditarik dan dijulurkan.

Kerongkongan dalam keadaan menjulur seperti belalai gajah (proboscis). Pada sepanjang pinggiran tubuh bagian ventral terdapat “zona adesif” penghasil lendir (untuk melekatkan diri ke permukaan yang ditempelinya). Bagian ventral ditutupi rambut-rambut getar (silia) halus sebagai alat gerak.

  • Fisiologi Tubuh Turbellaria

Gambar 4.3     Struktur Turbellaria

  • Sistem pencernaan makanan

Makanannya berupa bangkai hewan atau hewan kecil (dafnia) lainnya. Alat pencernaannya terdiri dari 1. Mulut 2. Faring 3. Esofagus dan usus halus (intestine). Lubang mulut dilanjutakan oleh kantung silindris memanjang dan disebut rongga mukut ( rongga faringeal). Esofagus merupakan persambungan dari faring yang langsung bermuara ke usus. Usus bercabang tiga , satu menuju ke anterior, yang dua secara berjajar bersebelahan menuju ke posterior. masing-masing bercabang lagi ke arah lateral yang buntu “divertikulata”. Percabangan ini berfungsi untuk peredaran bahan makanan dan memperluas bidang penguapan Faring masing-masing terletak dalam sarung otot, probosis (faring) dapat keluar melalui mulut dan di belakang mulut terdapat porus genital. Planaria sebagian besar karnivora. Pada faring yang berotot tebal yang dapat dijulurkan berfungsi sebagai penangkap mangsa kecil seperti Dafnia, cacing lainnya ataupun bangkai. Planaria memiliki kemoreseptor pada sisi kanan dan kiri anterior, sehingga memungkinkan untuk bereaksi terhadap zat makanannya yang berupa rangsangan zat protein. Jika mangsanya tersentuh maka ujung anterior akan berbelok dengan cepat kearah mangsa dan kemudian akan melingkarinya. Dengan lendir di ekskresikan oleh kelenjar mukosa dan “ rhabdites” mangsa dapat diikat erat. Kemudian faring ditonjolkan keluar untuk mengambil mangsa dan segera di tarik kembali kedalam rongga mulut bersama-sama mangsa tersebut.

Gambar 4.5 Susunan saluran pencernaan Planaria

Pencernaan pada planaria terjadi di dalam sel (interseluler) dan diluar sel (ekstraseluler) untuk pencernaan dalam sel terjadi dengan pertolongan vakuola makanan yang berupa rongga untuk mencerna makanan. Untuk pencernaan luar sel dibantu oleh enzim yang dibentuk usus . Cara menagkap mangsanya pertama-tama makanan ditangkap oleh probiosis kemudian diselaputi lendir ( lendir yang diproduksi oleh kelejar lendir) atau cairan pencernaan yang ditempatakan disekitar makanan, makanan yang larut kemudian diserap usus. Makanan di cerna secara ekstraseluler, kemudian sel-sel tertentu pada epitel usus dapat membentuk pseudopodia dan mencerna makananannya / mangsanya di dalam vakuola makanan (pencernaan intraseluler). Sari-sari makanan di serap (absorpsi) dan secara difusi masuk keseluruh jaringan tubuh. Planaria tidak memiliki anus pada saluran pencernaan makanan sehingga buangan / sisa makanan yang tidak dicerna di keluarkan kembali dari usus melalui mulut. Jika persediaan makanannya habis atau tidak ada maka ia akan memakan tubuhnya sendiri. Dan organ pertama yang dikorbankan adalah organ bagian reproduktif, kemudaian sel-sel parenkim, otot dan seterusnya sehingga tubuhnya berukuran kecil. Dan planaria ini dapat meregenerasikan sel-selnya yang sudah hilang (rusak) atau termakan oleh dirinya sendiri ketika ia telah menemukan makanan kembali.

  • Sistem ekskresi

Gambar 4.6 a) Susunan saluran eksresi pada Planaria; b) Sel api (flame cell);

  1. c) Ekkresi Planaria

Sistem ekskresinya terdiri atas sepasang saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala yang bercabang ke seluruh bagian tubuh , yang mana pada ujung cabang-cabang yang halus itu ujungnya membesar yang kita sebut sel api atau flame cell (protonephridia). Sel api mengandung silia yaitu rambut getar yang didalamnya membetuk seperti api dan berfungsi mendorong air dan sisa metabolisme masuk kedalam saluran ekskresi. Limbah sisa secara difusi masuk kedalam sel api, menuju ke ruang tengah yang bersilium dan bermuara dalam tabung-tabung . Karena gerakan silium maka limbah akan terdorong keluar melalui pori-pori ekskresi. Pengeluaran sisa metabolisme berlangsung selain melalui saluran eksresi, juga melalui lapisan gastrodermis.

  • Sistem respirasi

Belum memiliki organ respirasi khusus sehingga pertukaran gas berlangsung secara difusi melalui seluruh permukaan tubuhnya. Pada Planaria, O2 yang terlarut di dalam air berdifusi melalui permukaan tubuhnya. Demikian juga dengan pengeluaran CO2. Perhatikan Gambar

Gambar 4.7 Pertukaran gas pada Planaria

  • Sistem saraf

Gambar 4.7 Sistem saraf Planaria

Sistem saraf (tangga tali), terdiri dari ganglion serebral terletak di bagian kepala dan berfungsi sebagai otak. Pada planaria terdapat otak yang terdiri dari dua lobus, dari otak keluarlah 2 tali saraf yang menuju kearah belakang dalam mesenkim bagian ventral, yang disebut tali saraf longitudinal. Dari saraf longitudinal keluarlah cabang-cabang saraf lateral ke tepi badan. Kedua tali saraf itu saling berhubungan karena adanya saraf-saraf transversal, sehingga bentuknya seperti tangga. Dari otak (ganglion serebral) keluar pula saraf-saraf ke bagian depan kepala.

Otak pada planaria ini tidak dibutuhkan untuk koordinasi kontraksi badan karena pada penelitian ketika otaknya diambil tetapi masih terlihat adanya pergerakan, kontraksi otot. Tetapi di temukan jika otak dapat berfungsi untuk menyelenggarakan pergantian sensori yang menerima stimulus dari indera ke bagian lain.

  • Sel-sel sensori

Terdapat pada permukaan tubuh di dalam sel-sel epitel, dan ujungnya lancip serta berhubungan dengan dunia luar. Terdapat bermacam-macam sifat antara lain peka terhadap suhu, bahan kimia serta lainnya. Di kepala, sel-sel indera terkonsentrasi membentuk indera.

  • Lobus sensori

Berupa penjuluran ke setiap sisi kepala, sensitif pada perabaan, aliran air, makanan, dan bahan makanan. Mata indera peka terhadap pencahayaan. Masing-masing terdiri dari mangkuk pigmen hitam, penuh dengan sel-sel sensori khusus, dengan ujung berupa saraf masuk kedalam otak. Pigmen melindungi sel-sel sensori. mata sensitif terhadap cahaya yang datang ujung yang terbuka dari mangkuk pigmen.

  • Alat Indera

Alat indera pada planaria adalah bintik mata dan indera aurikel yang keduanya terletak di bagain kepala. Bintik mata berupa titik hitam yang terletak dibagian dorsal kepala. Masing-masing bintik mata terdiri dari sel pigmen yang mana tersusun dalam bentuk mangkok yang yang dilengkapi dengan sel-sel syaraf sensoris yang sensitif pada cahaya atau sinar. Bintik mata hanya bisa membedakan warna gelap dan terang saja.

Planaria bersifat photonegatif (takut cahaya). Dari kenyataan bila planaria terkena cahaya salah satu sisinya maka cacing tersebut segera bergerak menjauhi cahaya.kenapa dikatakan menjauhi cahaya karena planaria butuh tempat yang lembab, dan tubuhnya tidak tahan akan wilayah yang kering. Aurikel merupakan indera rasa , bau dan sentuhan. Jika aurikelnya tidak berfungsi maka hewan tersebut tidak dapat mengetahui jenis makanan kesukaannya.

  • Sistem reproduksi

Gambar 4.8 Sistem reproduksi Planaria

Reproduksi pada cacing pipih seperti Planaria dapat secara aseksual dan secara seksual. Reproduksi aseksual (vegetatif) dengan regenerasi yakni memutuskan bagian tubuh. Sedangkan reproduksi seksual (generatif) dengan peleburan dua sel kelamin pada hewan yang bersifat hemafrodit. Sistem reproduksi seksual pada Planaria terdiri dari perkawinan silang dan perkawinan sendiri. pada reproduksi seksual terdiri atas sistem reproduksi betina meliputi ovum, saluran ovum, kelenjar kuning telur. Sedangkan reproduksi jantan terdiri atas testis, pori genital dan penis. Perhatikan gambar sistem reproduksi Planaria.

Planaria bersifat hemaprodit, yang bisa memiliki kelamin jantan dan betina. Untuk organ kelamin jantan terdiri atas :

  1. Testis (berjumlah ratusan, berbentuk bulat tersebar disepanjang sisi kedua tubuh)
  2. Vasa eferensia (pembuluh berjumlah dua buah yang masing-masing membentang pada setiap sisi tubuh yang keduanya bertemu dan bermuara pada kantung yang disebut vesiculus seminalis (ruang yang fungsinya menampung dan menyalurkan sperma menuju penis
  3. Penis (alat kopulasi pada perkawinan silang dengan palnaria lain ke ruang genitalis).
  4. Ruang genitalis

Organ kelamin betina terdiri atas :

  1. Ovari, dua buah, berbentuk bulat dibagian anterior tubuh .
  2. Oviduck (saluran telur), tiap ovarium akan menuju ke arah posterior sebuah saluran yang kita kenal adalah oviduct, antara saluran yang kiri dan kanan bersejajar yang masing-masing dilengkapi dengan kelenjar yang menghasilkan kuning telur.
  3. Kelenjar kuning telur (yolk gland), menghasilkan kuning telur untuk sel telur bila telah diproduksi oleh ovarium.
  4. Vagina , saluran spermatozoid dari planaria lain yang kemudian spermatozoid akan disimpan dalam ruangan receptaculus seminalis.
  5. Uterus (receptaculus seminalis), ruangan yang menggelembung untuk menyimpan spermatozoid planaria lain.
  6. Genital atrium(ruang genital), muara bersama antara dua oviduct

Proses reproduksinya terbagi menjadi 2:

  • perkawinan silang maka terjadi kopulasi pada kedua cacing yang saling bertempelan di bagian posterior pada bagian ventral, kemudian penisnya dimasukkan kedalam genital atrium pasangannya. Selanjutnya sperma dan vesikal cacing yang satu di transfer pada cacing yang lain dan di tampung di dalam uterus untuk di pertemukan dengan ovum yang ada dalam oviduk, setelah pertemuan sperma selesai maka cacing akan terlepas.

Gambar 4.9 perkembangbiakan seksual planaria

Sumber : http://www.flickr.com

  • Perkawinan sendiri yang mana pada cacing ini karena hemaprodit maka dapat membuahi sel telurnya sendiri, jadi ovumnya di kawinkan dengan spermatozoidnya sendiri yang kita kenal sebagai internal fertilization.

Reproduksi aseksual pada planaria ;

Gambar 4.10 Reproduksi aseksual Planaria

  1. Terpotong secara alami
    B. Dibelah dua
    C. Dibelah tiga

Daya regenerasi pada planaria sangat baik bila hewan ini dipotong menjadi 2 bagian, maka bagian depan akan tumbuh ekor baru dan bagian posterior akan tumbuh kepala baru. Sehingga dapat membentuk 2 individu baru (fragmentasi). Potongan-potongan lain juga dapat membentuk individu baru dengan membentuk ekor atau kepala baru. Bila dalam keadaan lapar tak ada makanan maka dapat memakan organ tubuhnya sendiri dari organ reproduksi, parenkim, usus , otot sehingga menjadi kecil ukurannya, setelah menemukan makanan maka organ-organ yang termakan akan beregenerasi.

Gradien antero-posterior

Planaria memiliki gradien asal dari depan ke belakang, proses metabolisme terjadi dari ujung anterior menuju ke posterior. Misalkan : jika planaria terpotong menjadi 4 bagian , maka bagian kepala akan menghabiskan O2 dan memberikan CO2 lebih banyak dari bagian lainnya.

  • Ciri khusus pada Bangsa Turbellaria
  1. Bangsa Acoela

Gambar 4.11 Acoela

Ciri umum bangsa acoela :

  1. Habitat lautan
  2. Berukuran kecil , berstruktur sederhana.
  3. Tidak ada sistem usus ataupun ekskresi.

Dari kelas turbellaria, ordo acoela merupakan hewan laut kecil yang dapat ditemukan diantara batu-batu dan diantara ganggang laut. Pada tubuh hewan ini tumbuh ganggang laut dan hewan ini memanfaatkan makanan yang dihasilkan ganggang tersebut untuk makanannya. Simbiosis ini begitu lengkap sehingga cacing turbellaria kehilangan system pencernaannya. Ada satu jenis, Convoluta heuseni, hidup bebas sebagai plankton. Bangsa ini merupakan bangsa yang paling sederhana dari Turbellaria. Bangsa Acoela ini tidak memiliki system usus dan tidak memiliki system ekskresi, serta tidak memiliki saluran telur sehingga mereka menumpahkan telur mereka melalui kulit atau mulut mereka. Bangsa Acoela ini berukuran kecil dan mempunyai struktur yang sederhana. Saat dewasa mereka tinggal di semacam simbiosis dengan ganggang flagellated dari genus Chlamydomonas. Ganggang yang dimakan tetapi tidak di cerna, sehingga mereka hidup dalam tubuh cacing. Ganggang memiliki rumah yang aman dan Acoela menyerap nutrisi yang dihasilkan oleh ganggang, dan dengan demikian mereka kehilangan kebutuhan untuk makan sama sekali dan dapat bertahan hidup tanpa system pencernaan. Bangsa Acoela bertempat tinggal (habitat) di lautan. Contoh: Convoluta heuseni, Convoluta rescoffensis.

 

  1. Bangsa Rhabdocoella

(a)                                                                                            (b)

Gambar 4.12 (a) dan (b) Rhabdocoela

Bangsa ini memiliki usus yang berupa kantung, berukuran kecil dan habitat mereka adalah di laut, air tawar, terrestrial. Contoh: Microstomum lineare, Stenostonum leucops.

  • Sub-ordo 1 Notandropora, contoh: Catenula, Rhycoscolex
  • Sub-ordo 2 Opisthandropora, contoh: Macrostomum, Microstomum
  • Sub-ordo 3 Lecithopora, contoh: Anoplodium, Mesostoma
  • Sub-ordo 4 Temnocephalida, contoh: Temnocephala, Monodiscus
  1. Bangsa Alloeocoela

Gambar 4.13 Alloeocoela

Bangsa ini memiliki usus yang berupa kantung atau ventrikulum dan bangsa ini merupakan kelompok yang agak artificial. Contoh: Plagiostomum, Prorhyncus

  • Sub-ordo 1 Archopola, contoh: Proporoplana
  • Sub-ordo 2 Lecithoepitheliata, contoh: Prorhynchus
  • Sub-ordo 3 Cumulata, contoh: Hypotrichina
  • Sub-ordo 4 Seriata, contoh: Otoplana, Bothrioplana
  1. Bangsa Polycladila

(a)                                                                                 (b)

Gambar 4.14 (a) dan (b) Polycladila

Bangsa ini memiliki usus yang bercabang banyak , berukuran besar, dan daur hidupnya dapat melibatkan fase larva yang berenang bebas. Bangsa ini bertempat tinggal di laut. Contoh: Planocera inquilina, Stylocus ellipticus

  • Sub-ordo 1 Acotylea, contoh: Notoplana, Yungia
  • Sub-ordo 2 Cotylea, contoh: Thysanozoon
  1. Bangsa Tricladida

(a)                                        (b)                               (c)

Gambar 4.15 (a), (b) dan (c) Tricladida

Bangsa ini dikenal sebagai non-parasit platyhelmintes. Mereka dapat ditemukan di laut, di air tawar dan di daratan yang lembab atau bahkan sangat lembab. Dari mulutnya, kira-kira ditengah terdapat proboscis (tenggorok yang ditonjolkan keluar) yang berlanjut ke ruang digesti (usus yang terdiri dari 3 cabang utama: 1 anterior, 1 posterior). System ekskresinya terdiri dari 2 tabung ekskresi longitudinal. System syaraf, bagian anteriornya berhubungan silang dan 2 ganglia anterior terletak dibawah mata. Bangsa ini memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Dimana pecahan dari bagian anterior tubuhnya beregenerasi lebih pada fragmen yang berasal dari posterior tubuhnya. Pada tricladida dapat diklasifikasikan jadi 3 sub ordo yaitu:

  • Sub Ordo Paludicola

Contoh: Planaria,Polycelis

  • Sub Ordo Maricola

Contoh: Procerodes wheatlandi, Bdelloura candida (melekat pada lumut)

  • Sub Ordo Terrocoela

Contoh: Bipalium kewensis

Gambar 4.16 Bipalium kewensis

 

Kami menemukan 2 ordo lain pada kelas Turbellaria yaitu Macrostomida, Temnocephalida.

  1. Bangsa Macrostomida

Gambar 4.17 Macrostomida

Bangsa ini dapat ditemukan di perairan tawar dan di laut. Pada satu spesies, Appendiculatum dapat hidup dihabitat yang baik. Hal yang menarik di bangsa ini adalah member makan pada polip air tawar Cnidaria yang dilakukan oleh Macrostomum lineare. Ketika ia menyerap nematocysts Cnidaria (organ menyengat), mereka mengeluarkannya melalui kulit sehingga dapat melindungi diri mereka sendiri. Spesies ini bereproduksi secara aseksual dengan tunas yang tumbuh di ujung ekornya.

  1. Bangsa Temnocephalida
  • (b)

Gambar 4. 18 (a) dan (b) Temnocephalida

Bangsa ini merupakan kelompok yang paling canggih dari kelas Turbellaria dalam hal evolusi. Semua spesies di bangsa ini merupakan komensal dan parasit. Spesies dari Eropa Scutariella didactyla adalah parasit pada udang. Ia tinggal di insang dan menghisap cairan tubuh udang yang keluar dari filament insang.

  • Habitat dan Ekologi

Hidup bebas di perairan air tawar yang jernih dan tidak mengalir, biasanya di tempat-tempat yang teduh( batuan, bawah daun yang jatuh). namun beberapa spesies hidup di darat. Banyak dari spesies kecil Turbellaria hidup antara butiran pasir di habitat berair. Spesies yang lebih besar hidup di air terbuka atau di antara bahan terendam seperti batu, koral, dan ganggang. Pada planaria dia hidup di perairan tawar yang jernih dan tidak tercemar karena membutuhkan oksigen yang cukup sehingga bisa menjadi bioindikator perairan bersih, karena hewan photonegatif maka habitatnya kebanyakan dibawah daunan dan batuan karena takut cahaya matahari, keberadaan planaria berkurang drastis akibat makin tingginya pencemaran.

Kebiasaan hidup cacing turbellaria kebanyakan hidup bebas jarang sebagai parasit, dan biasanya menempel pada dedaunan atau batuan yang tergenang air dan kondisi lembab, cacing ini biasanya memangsa mangsa-mangsa kecil, bangsa krustaseae (dapnia). Hewan itu dalam perairan tidak mudah tampak, kecuali jika sedang bergerak. Hal ini disebabkan oleh ukuran tubuhnya yang kecil, pipih, warnanya gelap. Dugesia (planaria sp) tersebar di seluruh dunia, kebanyakan di tempat lembab, tropic, dan subtropik.

Penyebaran turbellaria ini biasanya ada pada daerah-daerah yang berair jernih, lembab dan banyak kandungan oksigen, seperti diselokan-selokan yang belum tercemar, di saluran irigasi persawahan, sungai yang belum tercemar dan banyak lainnya. Secara umumnya turbellaria hidup bebas, tetapi kebanyakan turbellaria di daerah eropa yang sampai sekarang masih diselidiki merupakan hewan ectoparasit yaitu hewan yang menumpang sementara pada tubuh krustaseae. Sebagian tersebar di daerah laut dan benthic, tetapi juga ada yang hidup didaerah tropis.

Mayoritas Planaria laut aktif di malam hari atau cryptozoic, bersembunyi selama periode rendah pasang untuk menghindari kekeringan dari tubuh lunak mereka lengket dan keluar pada malam hari atau saat pasang tinggi untuk memberi makan. Mereka sebagian besar karnivora, dan gerakan mereka berkorelasi sebagian besar dengan sifat makanan mereka. Di Selandia Baru banyak ditemukan cacing turbellaria ada sekitar 100 spesies lebih di daerah selandia baru. Di Inggris, Autralia dan Finladia juga tedapat banyak spesies.

  • Manfaat Turbellaria

Salah satu contoh yang kita kenal, adalah Planaria sp., cacing ini digunakan oleh manusia sebagai bioindikator air bersih karena planaria hanya dapat hidup di daerah yang belum tercemar dan banyak mengandung oksigen. Selain itu, planaria juga dimanfaatkan untuk pakan ternak ikan.

 

 

  • Ciri-Ciri Umum

Trematoda juga dikenal dengan cacing daun atau cacing hisap. Cacing ini memiliki dua batil hisap yaitu batil hisap anterior yang terletak di anterior tubuh dan batil hisap ventral yang terletak di sepertiga badan bagian bawah. Trematoda tidak memiliki rongga badan (tidak bersegmen) . Tubuh biasanya pipih dorso-ventral, biasanya tidak bersegmen, kebanyakan bentuk seperti daun, ada juga bentuk panjang langsing (Schistosoma sp.) dan berbentuk conus (Paramphistoma sp.). Bentuk tubuhnya simetris bilateral. Mempunyai lekukan yang ditengahnya ada lubang yang disebut alat penghisap (batil isap/sucker) berjumlah dua buah, yang satu mengelilingi mulut dikenal dengan istilah ”Oral Sucker ” dan yang lain berada 1/3 anterior tubuh dibagian ventral atau pada ujung posterior disebut ” Ventral Sucker” (Asetabulum). Kutikula atau tegumen cacing ada yang licin dan ada yang berduri, berfungsi sebagai pembungkus badan juga bertanggung jawab dalam mengedarkan makanan. Daur hidup umumnya melalui stadium larva.

  • Anatomi Dan Fisiologi Secara Umum
  1. Sistem digesti

Dinding luar atau tegumen cacing daun disusun oleh kutikula halus atau berduri.

  1. Sistem pencernaan

Masih sangat sederhana, mulai dari mulut pada bagian anterior yang dikelilingi oral sucker, makanan masuk dan berelanjut ke posterior menuju faring yang berotot kemudian esofagus dan akhirnya menuju usus yang terbagi menjadi 2 sekum bercabang-cabang dan akhirnya buntu. Kebanyakan Trematoda tidak mempunyai anus, sehingga sisa bahan makanan harus diregurgitasi.

  1. Sistem syaraf

Sangat sederhana, ditemukan cincin serabut syaraf dan ganglia mengelilingi esophagus, dan juga tidak berkembang normal karena hidupnya parasit. Sistem saraf utama terdiri dari sepasang ganglia serebral atau otak dan 1-3 pasang tali saraf longitudinal yang dihubungkan satu dengan yang lain oleh komisura saraf transversal. Tipe sistem saraf seperti ini disebut sistem saraf tangga tali.

  1. Sistem sirkulasi dan Sistem respirasi

Tidak ada.

  1. Sistem ekskresi

Tersusun oleh ginjal primitif (protonefridia) yang disebut sel api atau sel obor (sel ekskresi berupa kantung yang mengumpulkan sisa-sisa metabolisme) dan sebuah kantong kemih posterior.

  1. Sistem reproduksi

Pada kelas Trematoda sistem reproduksi sangat kompleks, sebagian besar Trematoda adalah Hermaphrodit (satu individu memiliki organ jantan dan betina) kecuali Schistosomatidae, tetapi pada umumnya terjadi pembuahan silang dan pembuahan sendiri kurang umum.

Sistem reproduksi jantan terdiri dari 2 testis berbentuk lobus atau bercabang-cabang, selanjutnya dari masing-masing testis dilanjutkan dengan sebuah vas deferens, vas deferens kemudian bergabung membentuk vas deferens. Pembuluh ini kadang-kadang melebar membentuk vesika seminalis yang dikelilingi oleh glandula prostata dan terakhir cirrus.

Sistem reproduksi betina secara berturutan dimulai dari ovarium yang tunggal berlobi-lobi atau bercabang-cabang, oviduk, reseptabulum seminalis, saluran vitelina yang menampung kelenjar viteliria, terusan laurel, kemudian menuju ootipe, uterus yang berkelok-kelok, metratem dan akhirnya keluar dari lubang kelamin (Porus genitalis).

Gambar 4.19. Morfologi trematoda dengan dua batil hisap, saluran pencernaan dan dua alat kelamin (hermafrodit)

Gambar 4.20 Sistem pencernaan, eksresi dan saraf trematoda

Sumber: http://fkunand2010.files.wordpress.com

  • Siklus Hidup Trematoda

Sub kelas Monogenea mempunyai daur hidup secara langsung sedangkan sub kelas Digenea tidak langsung atau memerlukan inang antara untuk daur hidupnya. Telur Trematoda Digenea biasanya dikeluarkan melalui feses dan urin dengan ciri khas yaitu terdapat operculum pada salah satu kutubnya. (Gambar 4.21 (a)). Sub kelas Digenea merupakan trematoda yang paling sering menyerang pada hewan ternak maupun satwa liar. Trematoda dewasa biasanya ditemukan pada saluran empedu serta saluran pencernaan (Taylor et al 2007). Telur Schistosoma mempunyai ciri khusus yang agak berbeda dibandingkan telur trematoda pada umumnya, yaitu terdapat spina yang menjadi dasar identifikasi telur Schistosoma (Gambar 4.21 (b)). Telur yang keluar dari inang definitif akan tumbuh menjadi larva bersilia yang disebut sebagai mirasidium. Mirasidium akan mencari inang antara (siput) sebagai tempat untuk pertumbuhan selanjutnya menjadi sporokista. Sporokista tumbuh menjadi redia dan bermigrasi ke hepatopankreas yang kemudian tumbuh menjadi larva, disebut serkaria. Serkaria ini mempunyai ekor yang berfungsi untuk berenang di air menuju rumput. Serkaria yang melepaskan ekornya dan membentuk kista disebut sebagai metaserkaria. Serkaria dan metaserkaria adalah larva infektif bagi trematoda, jika larva masuk ke dalam inang definitif, larva akan tumbuh menjadi Trematoda dewasa (Taylor et al 2007).

operkulum
b
a
spina

Gambar 4.21 Telur trematoda dengan operculum (a) dan telur Schistosoma sp yang memiliki spina (b)

  • Klasifikasi

Kelas Trematoda terdiri dari 3 ordo, antara lain:

  1. Ordo Monogenea

Ordo Monogenea terbagi menjadi 2 subordo:

  • Subordo Monopisthocotylea

Contohnya: Ancyrocephalus, Dactylogyrus, dan Gyrodactylus.

  • Subordo Polyopisthocotylea

Contohnya: Polystoma integerrimum, Diplozoon dan Polystoma megacutyle

  1. Ordo Aspidocotylea

Ordo ini hanya mempunyai satu famili : Aspidogastridae

Contohnya: Aspidogaster

  1. Ordo Digenia

Ordo Digenea terbagi menjadi 9 famili, antara lain:

  • Bucephalidae atau Gasterostometidae

Contohnya: Bucephalus gracilescens

  • Paramphistomatidae

Contohnya: Megalodiscus temperatus dan Gastrodiscoides hominis.

  • Gorgoderidae

Contohnya: Gorgodera minima dan Phyllodistomum.

  • Plagiorchidae

Contohnya: Haematoloechus medioplexus dan Planorbula armigera.

  • Opisthorchidae

Contohnya: Opisthorcis sinensis dan Bythinia.

  • Troglomatidae

Contohnya: Collyriclum faba.

  • Fasciolidae

Contohnya: Fasciola hepatica dan Fasciolopsis buski.

  • Strigeidae

Contohnya: Lymnaea stagnalis dan Cotylurus.

  • Schistosomatidae

Contohnya: Schistosoma japonicum, Schistosoma haematobium, dan S. mansoni.

  • Aspek Biologi Berdasarkan Tiap-Tiap Ordo

Kelas trematoda terbagi menjadi 3 ordo, masing-masing ordo memiliki karakteristik khusus yang membedakan dengan ordo yang lainnya.

  1. Ordo monogenea

Karakteristik khusus :

  • Spesies dari ordo ini merupakan parasit pada hewan vertebrata yang hidup di air.
  • Dalam siklus hidupnya membutuhkan satu hospes (= monogenetik).
  • Mempunyai alat penempel yang besar di bagian posterior disebut Opisthaptor : merupakan organ yang berfungsi untuk melekat pada hospesnya, mempunyai sejumlah sucker yang berukuran kecil dan hooks, anchors dan
  • Sebagian besar merupakan parasit pada ikan laut dan tawar, kadang-kadang terdapat pada amphibi, kurakura, reptil, invertebrata.
  • Sebagian ada yang ektoparasit, contoh : Gyrodactylus elegans, yang hidup pada insang dan permukaan tubuh ikan laut,tawar dan katak.
  • Ada yang bersifat endoparasit, contoh Polystomoidella oblongum merupakan monogenea, parasit pada kantong urine dari kura-kura
  • Pada umumnya parasit bersifat viviparous, contoh : Gyrodactylidae atau oviparous dan siklus hidupnya langsung (direct cycle).
  • Telurnya agak lonjong memanjang biasanya dilengkapi dengan operculum dan terdapat filamen pada satu ujung atau ke dua ujungnya.
  • Larva atau onchomiracidium bersilia dan terdapat satu atau lebih dari satu pasang bintik mata.
  • Pada saat menetas, onchomiracidium mempunyai periode free swimming yang pendek untuk mendapatkan hospes baru, kemudian mencapai stadium dewasa/seksual.
  • Daur hidup

Perkembangan Monogenea berlangsung secara langsung/direct. Telur yang besar berwarna kecoklatan dikeluarkan dekat parasitnya, seringkali telur tersebut dilengkapi dengan tali pengikat yang panjang. Dari telur tersebut, larva menetas menjadi larva yang berambut, onchomiracidium dengan beberapa kait yang halus. Epitel rambutnya akan segera lepas bila larva tersebut sanggup menempel sendiri pada kulit atau insang hospes.

Gyrodactylus elegans

Taksonomi

Phylum            : Platyhelminthes

Classis             : Trematoda

Ordo                : Monogenea

Sub Ordo        : Monopisthocotylea

Super Famili    : Gyrodactyloidea

Famili              : Gyrodactylidae

Genus              : Gyrodactylus

Spesies            :Gyrodactylus elegans

Sumber: http://fpk.unair.ac.id

Ciri-ciri:                                                         

  • Bentuk tubuhnya elliptikal dan datar pada permukaan ventral.
  • Pada bagian posterior tubuh terletak organ seperti mangkok/piring yang dilengkapi dengan satu atau dua pasang kait besar yang dikelilingi oleh kait-kait lebih kecil dibagian tepinya.
  • Merupakan parasit pada ikan, bangsa amphibi, cephalopoda dan bangsa udang. Habitat cacing ini pada kulit dan insang ikan air tawar terutama ikan trout. Dapat pula menginfeksi katak.
  • Ukuran cacing dewasa kurang dari 1 mm panjangnya.
  • Bersifat viviparous.
  • Merupakan parasit yang penting pada perikanan di Eropa, Amerika Utara, Afrika dan Timur Tengah.
  • Perkembangan embrio secara langsung membentuk larva yang hidup bebas, berenang, tertutup oleh silia yang vibratil.
  • Larva akan menempel pada tubuh hospes dan tanpa mengalami metamorfose menjadi bentuk dewasa
  1. Ordo aspidocotylea

Ordo ini hanya mempunyai satu famili : Aspidogastridae.

Ciri-ciri :

  • Merupakan endoparasit dan Monogenetik.
  • Ukuran panjang kurang dari 10 mm s/d beberapa cm.
  • Kompartemen berada pada perut.
  • Mulut di bagian anterior, tidak dikelilingi oleh sucker. Pharing dan esofagus pendek, intestinum sederhana sampai ujung posterior.
  • Alat kelamin jantan terdiri dari satu testis di bagian posterior ovarium.
  • Merupakan parasit pada ikan, kura-kura, siput, kerang, udang dan kepiting

Gambar 4.23:Daur hidup Aspidogaster conchicola

Sumber: The Aspidogastrea, life cycles/krohde.wordpress.com

  1. Ordo digenea

Merupakan parasit pada hewan ternak. Hidup pada dua inang atau lebih, salah satu inang perantaranya pada avertebrata air.

Contoh :

  • Paragonimus westermanii mempunyai satu inang definitif dan dua inang intermedier. Crustacea dan Crab merupakan inang intermedier kedua.
  • Fasciola gigantica mempunyai satu inang definitif dan satu inang intermedier.
  • Schistosoma japonicum mempunyai satu inang definitive dan satu inang intermedier.

Ciri-ciri ordo Digenea:

  • Bentuk pipih dorsoventral, ada beberapa yang panjang dan ramping, ada pula yang berbentuk seperti daun, sedangkan Amphistoma badannya berdaging tebal.
  • Golongan Schistosomatidae gilik panjang seperti cacing Nematoda.
  • Kutikula halus dan ada yang berduri.
  • Organ-organnya meliputi:

Oral sucker (penghisap mulut): di bagian anterior tubuh.

Ventral sucker (penghisap perut): pada sepertiga anterio dari permukaan ventral tubuh.

  • Mulut pengisap ada di bagian perut.
  • Tidak ada cakram atau cantelan.
  • Nephridiopore tunggal.
  • Endoparasit dengan siklus hidup kompleks dan beberapa larva menyerbu satu atau lebih inang.
  • Reproduksinya terdiri dari 2 fase, yaitu:

Fase seksual: pada hospes definitif.

Fase aseksual: pada hospes intermedier/hospes perantara.

  • Saluran pencernaan: dimulai dengan mulut yang dikelilingi oral sucker, kemudian esofagus pendek dan dilanjutkan dengan intestine bercabang dan berakhir dengan sekum.
  • Ada beberapa spesies yang mempunyai kloaka/anus.
  • Sistem ekskresi: terdiri dari sebuah kantong sederhana, tetapi dapat bermacam-macam bentuknya dan terbuka di bagian ujung posterior tubuh.

Dari kantong yang menjadi pengumpulan cairan ekskresi ini keluarlah saluran-saluran yang masuk parenkhim parenkhim berakhir dengan sel obor (flame cells) yang merupakan ciri khas trematoda.

Sel obor adalah sel ekskresi yang mengumpulkan sisa metabolisme.

  • Sistem reproduksi: hermaprodit, kecuali family Schistosomatidae.
  • Sistem syaraf: terdiri dari serabut-serabut syaraf yang melingkar di daerah esofagus dan ganglia. Dari esofagus, beberapa syaraf bercabang keseluruh tubuh.
  • Alat indera hanya terdapat pada bentuk free living larva (miracidium dan cercaria) dan dilengkapi dengan bintik mata (eye spot)

Gambar 4.24. Miracidium kelas Trematoda ordo Digenea

Sumber: http://fpk.unair.ac.id

Gambar 4.25 B. Telur; C. Sporocyst; D. Redia; E. Cercaria; F. Metacercaria,

kelas Trematoda, ordo Digenea.

Sumber: http://fpk.unair.ac.id

Salah satu contoh spesies dari Ordo Digenea adalah Fasciola hepatica (Cacing hati). Cacing ini memiliki daur hidup yang kompleks karena melibatkan setidaknya dua inang. Inang utama dan inang perantara.

  • Fasciola hepatica

Taksonomi

Kingdom         : Animalia

Subkigdom      : Eumetazoa

Super phylum  : Platyzoa

Phylum            : Platyhelminthes

Class                : Trematoda

Subclass          : Digenea

Order               : Echinostomiformes

Subordo          : Echinostomida

Family             : Fasciolidae

Genus              : Fasciola

Species            : Fasciola hepatica

  • Morfologi dan Anatomi

Cacing ini bereproduksi secara generatif dan bersifat hermafrodit. Satu individu bisa menghasilkan 2000-4000 telur. Telur yang sudah dibuahi akan melewati saluran empedu kemudian ke usus dan akan keluar bersama feses. Cacing ini memiliki hospes sementara siput air dan hospes tetapnya adalah ternak. Daur hidup cacing ini dimulai dari telur yang berada dalam feses ke lingkungan. Telur itu akan menetas menjadi larva bersilia mirasidium dan masuk ke dalam tubuh siput (sebagai inang antara), lalu berkembang menjadi sporosista, kemudian menjadi redia, lalu sekaria. Serkaria keluar dari tubuh siput, lalu menempel pada tanaman, kemudian berkembang menjadi metaserkaria. Ketika tanaman dimakan ternak, metaserkaria akan menetas di usus dan dewasa dalam organ hati.

Gambar 4.26 Sistem Reproduksi Fasciola hepatica

  • Tahap Perkembangan Larva

Gambar 4.27 Tahap perkembangan larva Fasciola hepatica

  • Siklus Hidup

Zigot – Larva Mirasidium – Sporosit – Redia – Serkaria – Metaserkaria – Cacing Dewasa.

Gambar 4.28. Siklus hidup Fasciola hepatica

Sumber: http://ml.scribd.com/doc/91797239/79068542-TREMATODA

  1. Telur dilepaskan bersamaan dengan kotoran dari penderita.
  2. Telur akan berkembang menjadi larva mirasidium dan masuk ke inang perantara 1, biasanya adalah siput.
  3. Di tubuh siput, larva mirasidium akan bermetamorfosis menjadi sporosit.
  4. Sporosit ini mengandung banyak kantung embrio, yang akan tumbuh menjadi Redia.
  5. Redia akan tumbuh dan mengandung embrio yang akan berkembang menjadi Serkaria.
  6. Serkaria yang dihasilkan akan berpindah menempel pada tumbuhan air membentuk kista metaserkaria.
  7. Tumbuhan yang mengandung kista dimakan oleh domba, maka kista akan berkembang menjadi cacing hati dewasa.
  • Clonorchis sinensis (Cacing hati Cina)
  • Taksonomi

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Platyhelminthes

Class                : Trematoda

SubClass         : Digenea

Ordo                : Opisthorchiida

Family             : Opisthorchiidae

Genus              : Clonorchis

Species            : Clonorchis Sinensis

 

  • Morfologi dan Anatomi

Cacing dewasa hidup di saluran empedu, kadang-kadang ditemukan di saluran pankreas. Ukuran cacing dewasa 10-25 mm x 3-5 mm, bentuknya pipih, lonjong, menyerupai daun. Telur berukuran kira-kira 30 x 16 mikron, bentuknya seperti bola lampu pijar dan berisi mirasidium, ditemukan dalam saluran empedu.

Gambar 4.29 Cacing dewasa dan telur C. Sinensis

Sumber: http://pathmicro.med.sc.edu/parasitology/trematodes.html

  • Siklus Hidup

Clonorchis sinensis merupakan cacing hati yang parasit pada hati manusia. Cacing ini hospes antaranya adalah ikan air tawar. Daur hidup cacing ini dimulai dari telur yang dikeluarkan bersama feses. Telur menetas bila dimakan keong air (bullinus, semisulcospira). Dalam keong air mirasidium berkembang menjadi sprokista, redia, lalu serkaria. Serkaria keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II, yaitu ikan (famili Cyprinidae). Setelah menembus tubuh ikan, serkaria melepaskan ekornya dan membentuk kista di dalam kulit di bawah sisik. Kista ini disebut metaserkaria. Infeksi terjadi dengan memakan ikan yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang. Ekskistasi terjadai di duodenum. Kemudian larva masuk ke duktus koledekus, lalu menuju ke saluran empedu yang lebih kecil dan menjadi dewasa dalam waktu 1 bulan. Seluruh daur hidup berlangsung selama 3 bulan. Cacing ini dapat merusak sel-sel hati dan dapat menyebabkan kematian.

Gambar 4.30. Siklus hidup Clonorchis sinensis

Sumber: http:/www.dpd.cdc.gov/dpdx

  • Schistosoma japonicum (Trematoda darah)
  • Taksonomi

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Platyhelminthes

Class                : Trematoda

SubClass         : Digenea

Ordo                : Strigeidida

Genus              : Schistosoma

Species            : S. japonicum

Sumber: peternakan.litbang.deptan.go.id/fullteks/lokakarya/lkzo05-36.pdf

 

  • Morfologi dan Anatomi

Cacing Schistosoma berbentuk panjang dan unisexual. Cacing jantan pipih seperti daun, sedangkan cacing betina bentuknya gilig dan ukurannya lebih panjang. Cacing jantan panjangnya 9,5 –20 mm dan lebarnya 0,55 – 0,99 mm. Sedangkan cacing betina 12-26 mm. Sucker (batil isap) tidak jelas atau menutup. Testis terbentuk 4 lobi yang menempati bagian anterior atau posterior. Ovarium memanjang dan kompak. Glandula vitelaria terletak dibelakang ovarium. Telur cacing ini memiliki selaput yang tipis dan tidak memiliki operculum. Pada dinding tubuhnya memiliki spina (duri) yang terletak disebelah lateral atau terminal. Cacing betina pada umumnya melekat pada cacing jantan, terutama pada saat kopulasi disebabkan karena pada bagian ventral cacing jantan terdapat suatu celah yang berbentuk silindris dan mengikuti sisi lateral tubuh yang dinamakan canalis gynaecophorus

Gambar 3.1 telur S.japonicum

Sumber: http://fpk.unair.ac.id

 

  • Siklus Hidup

Cacing betina dewasa yang telah siap untuk bertelur akan segera memasuki pembuluh darah kecil sampai jauh kedalam atau mukosa intestinum untuk meletakkan telurnya. Beberapa telur dapat terbawa aliran darah dan kemudian dapat dijumpai dalam hati dan organ-organ lainnya. Telur cacing berjumlah 300 – 3500 butir per hari akan ada yang terbebas di dalam lumen usus dan terbawa keluar bersama tinja saat defikasi. Setelah telur keluar bersama tinja saat defikasi di alam luar pada kondisi yang menunjang (cahaya, suhu 25-30oC, PH 5-8) telur akan menetas dan terbebaslah larva mirasidium. Larva yang terbebas akan berenang selama 16-24 jam untuk menginfeksi HI yaitu siput jenis Oncomelania sp. Seandainya tidak menemukan inang yang sesuai maka mirasidium akan mati. Mirasidium menembus tubuh siput dan melepaskan silianya selanjutnya menuju kelenjar pencernaan dan berkembang menjadi sporokista generasi I dan berkembang membentuk sporokista generasi ke II, kemudia menghasilkan cercaria dengan ekor bercabang ( furcocercous) . Cercaria keluar dari anak sporocyst kemudian keluar dari tubuh siput dalam waktu 4 minggu sejak masuknya mirasidium dalam tubuh siput. Cercaria berenang ke permukaan air dan dengan perlahan tenggelam kedasar air. Bila cercaria kontak dengan kulit hospes definitif (manusia), kemudian mencari lokasi penetrasi dari tubuh orang tersebut, kemudian menembus (penetrasi) kedalam epidermis dan menanggalkan ekornya sehingga bentuknya menjadi lebih kecil disebut “Schistosomula” yang masuk kedalam peredaran darah dan terbawa ke jantung kanan. Sebagian lain schistosomula bermigrasi mengikuti sistem peredaran cairan limfa ke duktus thoracalis dan terbawa ke jantung. Schistosomula ini biasanya berada dalam jantung sebelah kanan. Cacing muda tersebut kemudian meninggalkan jantung kanan melalui kapiler pulmonaris dan kemudian menuju jantung sebelah kiri, kemudian mengikuti sistem sirkulasi darah sistemik. Hanya schistosomula yang masuk arteri mesenterika dan sistem hepatoportal yang dapat berkembang. Setelah sekitar tiga minggu dalam sinusoid hati, cacing muda bermigrasi ke dinding usus atau ke saluran urin (tergantung spesiesnya), kemudian berkopulasi dan memulai memproduksi telur.

  1. japonicum menyebabkan perubahan patologi terutama di dalam intestinum dan hati. Nodule yang dikelilingi jaringan fibrosa yang berisi telur cacing ditemukan pada jaringan serosa dan permukaan peritonium. Telur cacing S. japonicum terlihat lebih sering mencapai jaringan otak, sehingga menyebabkan gangguan saraf yaitu: koma dan paralysis (99% kasus). Penyakit yang disebabkan oleh cacing S. japonicum dikenal dengan nama Schistosomiasis. S. japonicum, banyak menginfeksi orang di daerah Jepang, China, Taiwan, Filippina, Sulawesi, Laos, Kamboja dan Thailand.

Gambar 4.32 Siklus hidup Schistosoma

Sumber: Sumber : http://www.parasitesinhumans.org

  • Paragonimus westermani (Trematoda Paru)
  • Taksonomi

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Platyhelminthes

Class                : Trematoda

Ordo                : Plagiorchiida

Family             : Troglotrematidae

Genus              : Paragonimus

Species            : Paragonimus westermanii

 

  • Morfologi dan Anatomi

Bentuknya tubuhnya bundar lonjong menyerupai biji kopi, dengan ukuran 8-12 x 4-6 mm dan berwarna coklat tua. Batil isap perut hampir mirip dengan batil isap mulut. Testis berlobus terletak berdampingan antara batil isap perut dan ekor. Ovarium terletak dibelakang batil isap perut. Telur berbentuk lonjong berukuran 80-118 mikron x 40-60 mikron dengan operkulum agak tertekan kedalam.

  • Daur hidup

Cacing dewasa biasanya hidup di paru yang diselaputi oleh jaringan ikat. Cacing tersebut juga dapat ditemukan pada organ lainnya. Fertilisasi silang dari dua cacing biasanya terjadi (hermaprodit). Telurnya sering terjebak dalam jaringan sehingga tidak dapat meninggalkan paru, tetapi bila dapat keluar kesaluran udara paru akan bergerak ke silia epitelium. Sampai di pharynx, kemudian tertelan dan mengikuti saluran pencernaan dan keluar melalui feses. Larva dalam telur memerlukan waktu sekitar 16 hari sampai beberapa minggu sebelum berkembang menjadi miracidium. Telur kemudian menertas dan miracidium harus menemukan hospes intermedier ke 1, yaitu siput Thieridae. Didalam tubuh siput miracidium cepat membentuk sporocyst yang kemudian memproduksi redia yang kemudian berkembang menjadi cercaria, dimana ceracaria ini berbentuk micrococcus.

Setelah keluar dari siput cercaria menjadi aktif dan dapat merambat batuan dan masuk kedalam kepiting (crab) dan Crayfish, dan membentuk cysta dalam viscera atau muskulus hewan tersebut (hospes intermedier ke 2). Hospes intermedier ke 2 ini adalah kepiting yang termasuk spesies Eriocheir japonicus. Dapat juga terjadi infeksi bila krustasea ini langsung memakan siput yang terinfeksi. Cercaria kemudian membentuk metacercaria yang menempel terutama pada filamen insang dari krustasea tersebut. Bilamana hospes definitif memakan kepiting (terutama bila dimakan mentah/tidak matang), maka metacercaria tertelan dan menempel pada dinding abdomen. Beberapa hari kemudian masuk kedalam kolon dan penetrasi ke diafragma dan menuju pleura yang kemudian masuk ke broncheol paru. Cacing kemudian menjadi dewasa dalam waktu 8-12 minggu. Larva migran mungkin dapat berlokasi dalam otak, mesenterium, pleura atau kulit.

Gambar 4.33 Siklus hidup cacing ordo Digenea, cacing Paragonimus westermanii

Sumber: http://www.parasitesinhumans.org

Pada jaringan paru atau jaringan ektopik lainnya, cacing akan merangsang terbentuknya jaringan ikat dan membentuk kapsul yang berwarna kecoklatan. Kapsul tersebut sering membentuk ulser dan secara perlahan dapat sembuh. Telur cacing di dalam jaringan akan merupakan pusat terbentuknya pseudotuberkel. Cacing dalam saraf tulang belakang (spinal cord) akan dapat menyebabkan paralysis baik total maupun sebagian. Kasus fatal terjadi bila Paragonimus berada dalam jantung. Kasus serebral dapat menunjukkan gejala seperti Cytisercosis. Cacing ini ditemukan pada orang di Jepang, Korea dan Filipina. Sekarang parasit ini telah menyebar ke India Barat, New Guenia, Salomon, Samoa, Afrika Barat, Peru, Colombia dan Venezuela. Penyakit yang disebabkan oleh cacing Paragonimus westermani dikenal dengan nama Paragonimiasis.

  • Manfaat Dan Kerugian

Dengan hadirnya Trematoda ini, maka semakin bertambah dan bervariasi biodervitas animalia di Indonesia. Trematoda sebagai indikator biologi atau dengan kata lain sebagai alat percobaan bagi para ilmuan

Hewan-hewan dari kelas trematoda lebih bersifat parasite baik pada binatang maupun manusia oleh sebab itu lebih bersifat merugikan. Berbagai macam hewan dapat berperan sebagai hospes definitive cacing trematoda, antara lain: kucing, anjing, kambing, sapi, tikus, burung, musang, harimau dan manusia, berikut beberapa trematoda sebagai parasite pada manusia.

  1. Trematoda hati (liver flukes): Clonorchis sinensis, Opisthorchis felineus, Opisthorchis viverrini dan Fasciola.
  1. Trematoda usus (intestinal flukes): Fasciolopsis buski, Echinostomatidae dan Heterophyidae.
  2. Trematoda paru (lung flukes): Paragonimus westermanii.

Trematoda darah (blood flukes): Schistosoma japonicum, Schistosoma mansoni dan Schistosoma haematobium

 

Cestoda atau cacing pita kebanyakan darinya adalah parasit. Hampir semua merupakan endoparasit dengan hidup dalam sistem pencernaan pada vertebrata dan larvanya ada di dalam jaringan vertebrata dan invertebrate, ada yang parasit di dalam tubuh manusia khususnya di saluran pencernaan dan ada pula yang menjadi parasit pada hewan lainnya. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah swt semua tertera dalam Al-Quran baik yang tersirat maupun yang tersurat. Kaitannya dengan hewan parasit yang merugikan Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 3 dalam hal mengingatkan tentang apa-apa saja yang tidak boleh dan yang boleh.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Surat Al-Maidah ayat 3)

Dari ayat tersebut Quraish Shihab menafsirkannya sebagai berikut. Darah merupakan saluran yang mengandung seluruh zat metabolis (asimilasi) yang sebagiannya bermanfaat dan yang lain berbahaya. Zat yang membahayakan itu dapat merusak anggota tubuh yang dapat menghilangkan dan mengeluarkan racun yang ada dalam tubuh. Selain itu, di dalam darah juga terdapat racun yang dikeluarkan oleh hewan-hewan parasit dalam tubuh. Di antara hewan parasit yang hidup dalam tubuh manusia itu banyak yang melalui beberapa fase, ada yang panjang dan ada juga yang pendek. Sedangkan babi merupakan binatang yang mudah terserang hewan parasit yang menyerang tubuh manusia seperti berbagai virus, sporadis, leptoseri dan protozoa, cacing pipih dan cacing gelang.  Cacing pita yang terdapat dalam daging babi sangat berbeda dengan cacing pita yang ada dalam daging sapi. Apabila sel telur cacing itu tertelan oleh manusia melalui tangannya yang kotor, atau melalui makanan yang kotor, atau apabila ia memotong bagian cacing yang mengandung telur, atau memotong telur cacing dari ususnya hingga telur itu pecah dan larvanya mengenai bagian otot yang bersangkutan, maka hal itu kemungkinan besar menyebabkan kematian apabila menyerang otak, urat saraf, atau hati dan organ penting lainnya.

  • Morfologi dan Anatomi

Cestoda disebut cacing pita karena bentuknya yang pipih panjang seperti pita yang terdiri dari bagian skoleks, leher, dan proglotid. Pada skoleks terdapat alat penghisap dan kait (rostelum). Alat penghisap dan kait digunakan untuk menempel pada tubuh inang. Di bagian belakang skoleks pada bagian leher terbentuk proglotid. Setiap proglotid mengandung organ kelamin jantan dan betina. Skoleks kecil berbentuk oval, dilengkapi dengan 22-23 kait dan 4 batil. Tubuh atau strobila berwarna putih, berbentuk pipih segmen palsu yang disebut proglotid. Diameter skoleks kira-kira 1 mm, batil penghisap berbentuk mangkuk dan berdiameter kurang lebih 0,5 mm. Segmen-segmen yang belum masak berukuran kecil dan terletak di dekat skoleks, biasa disebut sebagai proglotid muda. Segmen-segmen atau proglotid yang sudah masak kira-kira berjarak 1 meter dari skoleks dan berbentuk bujur sangkar, segmen-segmen di bagian ujung posterior yang telah gravid mencapai panjang kurang lebih 12 mm. Inang utama cacing cestoda dewasa adalah vertebrata termasuk manusia. Cestoda parasit dan menghisap sari makanan pada usus halus inangnya.

  • Fisiologi

Cestoda adalah hewan yang hermafrodit. Contoh dari kelas ini adalah Taenia solium. Tubuh terdiri dari bagian kepala yang disebut Scolex dan bagian badan yang disebut strobila. Strobila merupakan deretan segmen yang disebut proglotid. Setiap proglotid mempunyai sepasang sel kelamin jantan dan betina yang dapat melepaskan/menghasilkan telur. Telur-telur ini dibuahi dengan cara pembuahan sendiri (self fertilisation) yaitu sel telur dibuahi oleh sel sperma dalam proglotid yang sama, perkawinan antara proglotid yang satu dengan yang lain pada strobila yang sama atau perkawinan antara proglotid dari strobila yang berbeda. Jumlah telur yang dapat dihasilkan oleh satu ekor cacing dapat mencapai 1.000.000 butir perhari dengan jumlah proglotid yang dapat mencapai 3.000 buah, dengan panjang strobila lebih dari 10 m.

Telur yang terbawa oleh kotoran yang masuk keperairan akan menetas dan membentuk Coracidium yang diperlengkapi silia untuk berenang bebas. Copepoda yang ada diperairan kemudian diinfeksi oleh Coracidium yang berubah menjadi procercoid. Procercoid termakan oleh ikan bersama Copepoda dan berubah menjadi Plerocercoid.

Apabila ikan ini termakan oleh manusia atau hewan yang memungkinkan Cestoda tersebut dapat hidup, seperti ikan yang tidak dimasak atau setengah matang sehingga larva cestoda masih tetap hidup, maka Cestoda akan menjadi dewasa dan siklus akan berlanjut. Jika ikan tersebut dimakan oleh ikan lain maka parasit tersebut pindah dan dapat hidup pada ikan tersebut tetapi tidak mengalami perkembangan. Sehingga ikan tersebut berfungsi sebagai paratenic host (inang transport).

  • Habitat Cestoda

Pada umumnya Cestoda habitatnya pada saluran pencernaan makanan manusia atau binatang sehingga cacing pita dewasa menimbulkan kelainan intestinal. Sering kali terjadi gejala ekstraintestinal yang diisebabkan oleh cestoda stadium larva.

  • Klasifikasi

Yaitu divisi yang dibagi kedalam dua subclass. Subclass pertama yaitu cestodaria yang mempunyai proglotid dan mempunyai larva dengan sepuluh tahapan dan biasanya memiliki sepuluh alat pelekat. Tetapi cestoda itu sudah mempunyai lapisan epidermis dan sistem pencernaan, dan hanya mempunyai organ pelengkap pada bagian anterior, dan hampir merupakan parasit pada ikan laut. Subclass yang lain yaitu eucestoda. Hampir semua spesies cestoda masuk kedalam eucestoda kebanyakan setelah dewasa memiliki prolotid.

Eucestoda tebagi kedalam 11 ordo tetapi hanya 2 ordo yang merupakan parasit pada mamalia yaitu : pseudophylidae dan cyclophylidae. Organ pelekatnya terdapat pada kepala yang dilengkapi dengan alat pelekat, alat penghisap, bothria, dan othridia.

  • Subkelas Cestodaria
  1. Ordo Amphilinidae

Ordo ini bercirikan probosisnya dapat dikeluarkan di ujung anterior, dan pori genitalnya berada di bagian posterior. Beberapa spesies dari ordo ini adalah Amphilina foliacea dan Gigantolina elongata.

Amphilina foliacea tersebar secara luas di Eropa dan termasuk Asia Barat dan barat daya Eropa serta Asia timur dan selatan. Panjang maksimal tubuhnya berkisar 65 mm dan lebarnya 30 mm. Ikan dan udang adalah inang perantara dalam penyebaran spesies ini.

Spesies yang tidak jauh berbeda dari Amphilina filiacea adalah Amphilina japonica, dengan panjang tubuh 73 mm dan lebar 25 mm . Pada Amphilina japonica yang menjadi inang perantara adalah ikan Acipenser schrenckii dan Huso dauricus.

Kingdom : Animalia

Filum       : Platyhelminthes

Kelas           : Cestoda

Subclass   : Eucestoda

Ordo            : Amphilinidea

Family      : Amphilinidea

Genus          : Amphilina

Spesies     : Amphilina foliacea

 

 

 

 

Spesies lainnya adalah Gigantolina elongata yang merupakan parasit pada kura-kura lewat perantara lobster yang dimakan. Telur cacing ini menetas di air tawar kemudia menginfeksi lobster. Larva tumbuh lambat dan mencapai ukuran mm beberapa setelah beberapa bulan, ketika mereka infektif pada kura-kura. Tahap infektif ditemukan hampir secara eksklusif pada otot bagian posterior perut, menunjukkan larva yang bermigrasi di sana atau bahwa larva hanya menyerang bagian tubuh bertahan hidup.

 

 

 

  1. Ordo Gyrocotylidae

Memiliki ciri-ciri di bagian depan, pori genital di bagian belakang dan depan. Sistem pencernaan ordo ini tidak lengkap. Cacing ordo ini, tidak seperti kebanyakan cestoda, yang unsegmented dan tanpa ‘kepala’ yang berbeda, atau scolex. Cestodaria memiliki larva dengan sepuluh kait lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah kait umumnya yang hanya enam pada kelas cestoda. Ukuran Gyrocotylids antara 32-75 mm dan berwarna putih krem. Pada salah satu ujung bagian tubuhnya terdapat ‘rosette’ mencolok dibentuk oleh kerutan atau gelombang dari dinding tubuh, rosette ini membentuk perbatasan rongga berbentuk corong yang membuka melalui pori dorsal yang lebih kecil. Pada dinding tubuh setiap sisi organ pengisap seperti anterior (‘acetabulum’) terdapat sejumlah duri besar. Kehidupan siklus Gyrocotyle tidak diketahui, telur dari G. rugosa sangat tipis-dikupas, dan segera menetas dalam air laut dalam kurun waktu dua minggu. Larva baru-menetas ditutupi dengan silia dan berenang sangat cepat untuk mencari inang. Contoh dari ordo ini adalah Gyrocotyle fimbriata, Gyrocotyle urna, dan Gyrocotyle rugosa.

Tiga spesies Gyrocotyle dapat dibedakan dengan karakteristik sebagai berikut:

G. fimbriata: Rosette besar, diameter rata-rata 82% (62% sampai 112%) dari lebar tubuh terbesar, lekukan/gelombang tubuh banyak, rata-rata 31 (18 sampai 60), dan sangat berkembang, tubuh duri ini; bidang testis kiri sekitar 33% dari panjang tubuhnya; folikel vitelline memanjang sampai perbatasan anterior dari Roset, gulungan lateral uterus kurang dari setengah lebar tubuh, telur ketika diendapkan mengandung embrio awal. Host: Hydrolagus colliei dan Chimaera monstrosa.

G. urna: Diameter roset rata-rata 45% (35% sampai 60%) dari lebar tubuh terbesar, lekukan lateral tubuh sedikit, rata-rata 15 (8 sampai 30), tubuh duri ini; bidang testis kiri 11% (7% sampai 15%) dari total panjang tubuh, vitelline folikel hanya untuk memperluas pori dorsal corong, gulungan lateral uterus kurang dari setengah lebar tubuh, telur ketika diendapkan mengandung embrio awal. Host: Hydrolagus colliei, Chimaera monstrosa, Chimaera ogilbyi, Callorhynchus milii.

Kingdom         : Animalia

Filum               :Platyhelminthes

Kelas               :Cestoda

Subclass          : Cestodaria

Ordo                : Gyrocotylidea

Family             : Gyrocotylidae

Genus              : Gyrocotyle

Spesies : Gyrocotyle urna

  • rugosa: Rosette 33% sampai 50% dari lebar tubuh terbesar, lekukan lateral tubuh kurang, vitelline folikel tidak mencapai perbatasan anterior dari Roset, gulungan lateral uterus lebih dari setengah lebar tubuh, telur ketika disimpan berisi lycophore sepenuhnya berkembang. Host: Callorhynchus milii.
    • Subkelas Eucestoda
  1. Ordo Tetraphyllidea

Cacing pita berukuran sedang, scolex dengan 4 bothridia, vitterallia di bagian samping, parasit pada ikan elasmobranch, calliobothrium certicillatum terjadi dikatup spiral pada mulut anjing laut. Cacing pita ini kurang lebih mempunyai 60 genus dan 800 jenis. Contoh dari ordo ini adalah genus Phyllobothrium dan Myzophyllobothrium.

Dari kedua jenus tersebut ternyata ditemukan genus baru lagi yaitu genus Crossobothrium genus dengan nama spesies Crossobothrium antonioi yang memiliki panjang sekitar 47,4 – 51,5 mm. Spesies baru tersebut ditemukan di ditemukan di lepas pantai Provinsi Buenos Aires, Argentina, yang merupakan parasit pada spesies hiu Notorynchus cepedianus.

  1. Ordo Proteocephalidae

Cacing pita kecil, scolex denagan 4 alat penghisap, vitellaria sebagai pita samping, parasit pada ikan, amphibi, dan reptil. Contoh spesies dari ordo ini adalah Proteocephallus macrocephalus yang merupakan parasit dari ikan sidat (Anguilla Anguilla), habitat umunya di lautan. Karakteristiknya memiliki strobila yang panjangan 150-200 mm, scolexnya melingkar, pengait apikalnya belum sempurna, perbedaan panjang dan lebar tubuhnya bervarisi tergantung kematangan dari segment-segmen tubuhnya. Bentuk alat kelaminnya berupa infudibulum dengan letak pada pertengahan segment tubuhnya

  1. Ordo Trypanorhynchydea

Scolexnya terdiri dari 2 atau 4 bothria dan 4 rectractile, proboscides berduri dan tubuhnya memanjang. Pori alat kelaminnya terletak dipinggir. Ketika dalam keadaan larva merupakan parasit pada ikan teleoste dan setelah dewasa menjadi parasit pada ikan elasmobranch. Biasanya disebut cacing spaghetti karena penampilan mereka, mendekati bentuk spageti. Spesies tersebut termasuk Poecilancistrium caryophyllum dan Pseudogrillotia pleistacantha.

Kingdom         :Animalia

Filum               : Platyhelminthes

Kelas               :Cestoda

Subclass          : Eucestoda

Ordo                : Trypanorhyncha

Family             : Otobothriidae

Genus              : Poecilancistrium

Spesies              : Poecilancistrium caryophyllum

Cacing putih Poecilancistrium caryophyllum ini berbahaya pada tahap larva yang benar-benar menargetkan hiu, dan hanya tinggal di dalam ikan air tawar selama satu fase dari siklus hidupnya. Cacing pita dewasa panjangnya hingga delapan inci dan hidup dalam sistem pencernaan hiu seperti sapi dan lemon. Telur dari cacing dewasa yang dilewatkan ke dalam air laut di mana mereka menetas menjadi kecil berenang bebas larva. Larva yang dimakan oleh udang kecil-seperti binatang disebut copepoda, yang pada gilirannya dimakan oleh baitfish, yang kemudian dimakan oleh ikan trout speckled. Siklus hidup selesai ketika hiu memakan ikan trout dan menjadi tuan rumah bagi cacing dewasa. Parasit ini dapat hidup di ikan sampai tiga tahun.

  1. Ordo Pseudophyllidea

Cacing pita yang kecil atau besar, scolexnya punya dua pothria, pitelaria sebagai polikel yang tersebar pada pori uterine yang terbuka di permukaan, parasit pada ikan, burung dan mamalia, tidak pernah memiliki emapat sucker atau empat proboscis. Bentuk kepala lonjong, memiliki dua buah lekuk atau celah yang disebut bothrium sebagai alat menempel pada inangnya. Kebanyakan ada pada manusia khususnya pada wanita pada bothriocephalus latus yang mempunyai dua inang intermediet, pada copepoda ikan air tawar. Panjangnya dapat mencapai 20 kaki dan usianya lebihdari 20th dan dapat juga menjadi penyebab symptoom seperti anemia pada laki-laki. Cacing yang menjadi parasit pada manusia dari superfamili Bothriocephaloidea

Superfamili Bothriocephaloidea (Braun, 1903) memiliki scolex dengan dua sucker memanjang atau satu sucker apical dengan proboscis atau rostellum; memiliki porus uterinus; tidak terjadi degenerassi organ genital pada saat oviposisi; teluur memiliki operculum dengan satu kulit telur; embrio matang (oncospher) memiliki silia; larva membutuhkan satu atau dua inang perantara; dewasa pada usus vertebrata. Famili Diphyllobothriidae yang memiliki cirri yaitu cirrus dan vaginanya membuka pada satu sisi yang sama, sebelah anterior porus uterinus. Contoh spesiesnya Diphyllobothriidae latum, spargnum mansoni, S. Ploriferum

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 43 Diphyllobothriidae latum

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 44 Siklus hidup cacing pita

Kingdom         : Animalia

Filum               : Platyhelminthes

Kelas               :Cestoda

Subclass          : Eucestoda

Ordo                : Pseudophyllidea

Family             : Diphyllobothriidae

Genus              : Diphyllobothrium

Spesies : Diphyllobothrium latum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Siklus hidupnya di dalam air, terjadi pematangan telur menjadi oncosphere yang mengandung embrio bersilia. Telur menetas, keluar larva stadium I yang disebut coracium, memiliki silia sehingga dapat berenang di air, dimakan oleh inang perantara I dari golongan Copepoda. Di dalam tubuh Copepoda akan tumbuh akan menjadi larva procercoid (Larca stadium II). Jika Copepoda dimakan inang perantara II berupa ikan atau kodok, di dalam tubuh inang akan berkembang menjadi larva stadium III disebut larva Plerocercoid (sparganum) yang merupakan stadium infektif. Di dalam lambung larva akan bebas menuju usus dan menancapkan scolexnya pada mukosa usus untuk menjadi dewasa.

  1. Ordo cycophyllidea

Scolexnya bundar mempunyai 4 alat penghisap dan juga dilengkapi oleh rostellum, tidak ada pori uterin sehingga kantung telur keluar bersama feses ketika proglotid terbuahi, porus genital terdapat di pinggir proglotid. Proglotidnya pecah dari srtobila ketika ia hampir mati, telurnya tidak memiliki operkulum dan ochospernya tidak bersilia terdapat pada taenidae. Larvanya hanya membutuhkan satu inang perantara. Salah satu yang termasuk ordo ini adalah Taenia solium yang merupakan parasit pada manusia, Taenia fisiform pada kucing dan anjing yang memproduksi larva ketika pada tubuh inang. Semua spesies yang terdapat pada manusia termasuk superfamili Taenioidea.

Morfologi daging babi cacing pita dewasa dibagi menjadi tiga bagian: scolex, leher, dan strobila. Scolex adalah kepala dari cacing pita, diposisikan pada akhir anterior dari organisme. Scolex bertindak sebagai perangkat penyentuh dengan empat kait pengisap dan rostellum digunakan untuk menempelkan dirinya sendiri ke usus dari tuan rumah. Leher adalah wilayah memanjang antara scolex dan strobila tersebut. Strobila berisi sebagian besar sistem dari cacing pita dan memiliki panjang rata-rata 2-3 m. Ini terdiri dari beberapa segmen yang

disebut proglottid.

Sebagai spesies monoecious, Taenia solium adalah spesies monoecious yang memegang sistem reproduksi baik perempuan dan laki-laki di dalam proglottid tunggal. (Pawlowski, 2002).

Proglotids matang secara seksual saat mereka maju ke arah posterior dari strobila tersebut. Cacing pita babi tidak memiliki sistem pencernaan, namun terdiri dari sistem berikut: tegumen, saraf, osmoregulator dan otot. Telur Taenia solium memiliki kulit terluar yang rapuh yang bisa ditumpahkan ketika telur keluar tubuh inang, meninggalkan larva oncosphere ke lingkungan eksternal. Larva oncosphere berdiameter 30 µm dan juga disebut larva hexacanth karena memiliki enam kait.  Larva adalah massa padat sel dan dikelilingi oleh kulit pelindung yang disebut embryophore . Kulit ini melindungi oncosphere dari kondisi yang keras saat larva terkena lingkungan. Oncosphere ini berkembang menjadi bentuk cysticercus, mengkonversi dari larva solid vesikel dengan cairan terbuat dari batu baiduri. Larva ini memiliki lapisan luar dan dalam dan di antara lapisan tanda-tanda pertama dari diferensiasi organ sistem terlihat (Pawlowski, 2002 , . Sciutto, et al, 2000).

Superfamili Taenioidea (Zwicke, 1841) memiliki ciri-ciri emapat pengait; telur tidak beroperkulum dengan satu atau lebih kulit telur; oncospher tidak bersilia; dewasa di dalam usus vertebrata. Famili Hymenolepididae memiliki proglotid yang biasanya lebih lebar daripada panjangnya; testisnya berjumalah 1-4; porus genital unilateral dan uterus berbentuk kantung. Contoh spesies dari family Hymenolepididae adalah Hymenolepsis nana, H. diminuta. Famili Taeniidae memilki scolex yang yang dilengkapai rostellum; uterusnya berbentuk batang memanjang denga cabang lateral; porus genital terletak di lateral. Contoh dari family Taeniidae adalah Taenia solium, T. saginata, Echinococcus granulosus, E. locularis.

Siklus hidup Dalam tubuh manusia, proglotid cacing pita dewasa yang mengandung embrio melepaskan diri dari rangkaian proglotid serta keluar dari usus inang bersama feses. Jika proglotid dewasa ini tertelan oleh babi, maka dalam usus babi, selubung telur dalam proglotid larut hingga keluar larva yang disebut heksakan. Disebut heksakan atau onkosfer karena memiliki enam kait kitin. Dengan menembus dinding usus babi, heksakan ikut aliran darah dan singgah di otot atau jaringn tubuh babi. Larva ini kemudian tumbuh menjadi sistiserkus.

 

 

Rentang Geografis Taenia solium, yang dikenal sebagai cacing pita daging babi, dapat ditemukan di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang dimana babi dibesarkan dalam kondisi sanitasi yang buruk. Di belahan bumi Barat, kebanyakan ditemukan di Amerika Selatan dan Tengah. Kanada, Amerika Serikat, Argentina dan Uruguay empat negara dari kawasan ini yang tampaknya telah membasmi cacing pita, meskipun kasus infeksi Taenia solium pada manusia telah muncul baru-baru ini. Munculnya kembali T. solium telah dikaitkan dengan meningkatnya jumlah imigran dari negara-negara dengan cacing pita transmisi, yang host ke T. solium. Cacing pita juga banyak ditemukan di seluruh negara-negara di Afrika dan Asia, namun jumlah infeksi rendah pada populasi dari budaya Muslim dan Yahudi dimana makan daging babi dilarang (Schantz, 2002).

  1. Ordo Aporidea

Variabel scolex, biasanya besar dengan 4 sucker, tidak bersegmen, tidak memilki pori-pori kelamin, vitellarium tersusun rapat di belakang ovarium dan parasitkecil pada angsa dan bebek. Kemungkinan banyaknya lebih dari 2.000 jenis. Contoh spesiesnya adalah Nematoparataenia paradoxa.

 

 

 

 

 

  1. Ordo Nippotaeulidea

Scolexnya memiliki 1 sucker dibagian anterior, punya beberapa proglotid dan parasit pada ikan di jepang dan rusia. Terdapat penghisap apical yang kuat untuk melingkarkan tubuh ke inang dengan bantuan sfingter. Terdiri dari 6-9 proglottis serta ukurannya tubuhnya pendek dengan leher lebar., proglotid anterior lebih panjang. Vitellaria terdapat dua lobus yang simetris. Uterus menggulung melintang pada posterior ovariumnya. Telurnya terdiri dari tiga lapisan, lapisan pertamnaya halus, lapisan tengahnya keras, dan lapisan dalamnya berselaput.

  1. Ordo Diphyllidea

Variabel scolex pada bagian anterior dan posterior dilegkapi oleh 4 alat penghisap, parasit pada ikan elasmobranch. Salah satu spesies dari ordo ini adalah Echinobothrium californiense. Spesies tersebut memiliki alat kelaminnya terdapat di posterior, di bawah lobus ovarium, untuk yang jantan jumlah testesnya setiap segment mencapai 8-11 buah, genting kemudian menyeberangi untuk bergabung, ovariumnya memenuhi 33% dari segmen tubuhnya, yang terdiri atas dua lobus yang tergabung oleh isthmus pusat, ujung pengaitnya berukuran besar

Kingdom         :Animalia

Filum               : Platyhelminthes

Kelas               : Cestoda

Ordo                : Diphyllidea

Family             : Echinobothriidae

Genus            : Echinobothrium

Spesies            : Echinobothrium  californiense

  1. Ordo Lecanicephaloidea

Bentuknya tidak bersegmen, parasit pada pisces dan oligocaetae, berkembang dengan reproduksi seksual, procercoid saat larva dan hanya memiliki beberapa spesies.

  • Turbellaria mrupakan cacing pipih yang memiliki bulu getar yang halus (silia).
  • Turbellaria dibagi menjadi 5 ordo, yaitu: Acoela, Rhabdocoella, Allocoela, Polycladila dan Tricladida. Pembagian 5 ordo tesebut, berdasarkan ususnya. Dari yang hanya berupa kantung sampai yang bercabang.
  • Ciri umum Turbellaria: tidak berongga, memiliki silia, hidupnya bebas, lapisan tubuh triploblastik, simetri bilateral, dapat beregenerasi dengan baik.
  • Contoh dari Turbellaria yang paling umum adalah Planaria sp. Yang memiliki bintik mata, berkepala segitiga dengan ekor meruncing. Memiliki penjuluran kerongkongan (probosis). Hidup bebas, tidak berongga.
  • Fisiologi tubuhnya yaitu sistem pencernaan; interseluler dengan enzim, intraseluler dengan pseudopodia sel atau oleh vakuola makanan, alat pencernaan usus yang bercabang tig. Sitem sarafnya adalah tangga tali yaitu dari dua batang saraf membujur memanjang. System reproduksinya majemuk karena hemaprodit (memiliki dua organ reproduksi yang berbeda dalam satu individu) untuk seksualnya, sedangkan aseksualnya melakukan pemutusan bagian tubuh dan menjadi individu baru . Sistem ekskresi berupa saluran longitudinal yang bercabang-cabang pada ujungnya (sel api ).
  • Habitat dari kelas turbellaria adalah di daerah yang belum tercemar, baik di perairan maupun di daratan yang lembab. Dapat hidup didaerah tropis, subtropis
  • Peranan kelas turbellaria adalah sebagai bioindikator air bersih dan sebagai pakan organisme lain (ikan).
  • Trematoda adalah cacing yang secara morfologi berbentuk pipih seperti daun. Pada umumnya cacing ini bersifat hermaprodit, kecuali genus Schistosoma. Pada dasarnya daur hidup trematoda ini melampui beberapa beberapa fase kehidupan dimana dalam fase tersebut memerlukan hospes intermedier (inang perantara) untuk perkembangannya.
  • Semua anggota dari kelas Trematoda adalah parasit.
  • Menurut lokasi berparasitnya cacing Trematoda dikelompokkan sbagai berikut:
  • Trematoda pembuluh darah: Schistosoma haematobium, S. mansoni, S. japonicum
  • Trematoda paru: Paragonimus westermani
  • Trematoda usus: Fasciolopsis buski, Echinostoma revolutum, E. ilocanum
  • Trematoda hati: Clonorchis sinensis, Fasciola hepatica, F. gigantica.

 

  • Distribusi geografik: Pada umumnya cacing ini ditemukan di Indocina : Cina, Jepang, Korea, India, Vietnam, dan Indonesia (Fasciolopsis buski: Kalimantan, Echinostomatidae: Jawa dan Sulawesi, Heteropidae: Jakarta, Schistosoma japonicum : Sulawesi Tengah).
  • Cestoda atau cacing pita adalah cacing yang hidup sebagai parasit yang termasuk filum platyhelminthes. Cacing dewasa hidup dalam digestivus vertebrata dan larvanya hidup dalam jaringan vertebrata dan invertebrata.
  • Cestoda mempunyai spesies penting yang dapat menimbulkan kelainan pada manusia pada umumnya adalah : Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, Echinococcus multilocularis, Taenia saginata, dan Taenia solium. Hospes definifnya yaitu manusia, anjing, kucing, dan kadang-kadang paling sedikit 22 macam mamalia lainnya. Ciri-ciri cestoda yaitu
  • Bentuk tubuh pipih, terdiri dari kepala, leher, dan strobila, bersifat hermaprodit.
  • Hidup sebagai parasit dalam usus vertebrata dan tanpa alat pencernaan.
  • Sistem ekskresi terdiri dari saluran pengeluaran yang berakhir dengan sel api.
  • Sistem saraf sama       seperti planaria dan cacing hati, tetapi kurang berkembang

Turbelaria

  1. Turbellaria merupakan cacing golongan platyhelminthes yang memiliki berapa lapisan tubuh …
  2. Satu lapisan tubuh (monoblastik)
  3. Dua lapisan tubuh (diplobastik)
  4. Tiga lapisan tubuh (triplobastik)
  5. Empat lapisan tubuh (tetrablastik)
  6. Banyak lapisan tubuh ( polyblastik)
  7. Apa yang membedakan secara umum dari 5 ordo turbellaria pada klasifikasinya ..
  8. Lapisan tubuhnya.
  9. Bintik matanya.
  10. Sistem pernafasannya
  11. Sistem pencernaan (pada ususnya)
  12. Habitat cacing turbellaria ini biasa ditemukan di daerah yang jernih maka dapat digunakan sebagai …
  13. Bioindikator air bersih
  14. Penunjuk adanya abrasi
  15. Menujukkan adanya logam mulia
  16. Penujuk adanya kadar garam yang tinggi
  17. Sebagai penunjuk adanya sumber tambang.
  18. Sistem ekskresi pada kelas turbellaria berupa sel api yaitu …
  19. Percabangan 3 usus yang berupa anterior dan posterior.
  20. Saluran longitudinal seperti jala yang bercabang berlubang dan bersilia.
  21. Saluran melingkar yang tertutup
  22. Cabang dari anterior menuju posterior
  23. Rambut-rambut halus
  24. Yang merupakan salah satu contoh dari cacing kelas turbellaria adalah…
  25. Fasiola hepatica
  26. Skiftosoma
  27. Planaria sp
  28. Taenia saginata
  29. Taenia solium
  30. Dibawah ini merupakan salah satu bangsa dari kelas turbellaria yang bersifat parasit adalah…
  31. Polycladila
  32. Tricladida
  33. Temnochepalida
  34. Macrostomida
  35. Acoella
  36. Perkembangbiakan kelas turbellaria secara aseksual dapat dilakukan dengan cara..
  37. Membelah diri
  38. Fragmentasi
  39. Konjugasi
  40. Tunas
  41. Pelekatan
  42. Yang merupakan contoh dari kelas turbellaria dengan ordo Tricladida adalah ..
  43. Planaria, Bipallium
  44. Notoplana, Yungia
  45. Hypotricina, planaria
  46. Anoplodium, Mesostoma
  47. Macrostomum, Microstomum
  48. Pada gambar dibawah ini meunjukkan gambar planaria sp. Pada gambar tersebut yang ditunjukkan oleh nomor 2 adalah…
  49. Usus
  50. Kerongkongan
  51. Lengkung faring
  52. Bintik mata
  53. mulut
  1. Salah satu ordo yang ada pada turbellaria yang ususnya berupa kantung atau ventrikulum adalah…
  2. Acoella
  3. Rhabdocoella
  4. Alloeocoela
  5. Polycladida
  6. Macrostomida

Essay !

  1. Sebutkan lima ordo pada kelas turbellaria dan berikan contohnya masing-masing!
  2. Bagaimana sistem ekskresi pada kelas Turbellaria !
  3. Bagaimanakah mekanisme pernafasaan yang terjadi pada turbellaria karena pada turbellaria belum meimiliki alat pernafasan khusus?
  4. Sebutkan dan jelaskan secara singkat perkembangbiakan turbellaria secara seksual?
  5. Bagaiamana mekanisme kerja dari bintik mata pada turbellaria dan manfaatnya?

Trematoda

  1. Trematoda termasuk dalam filum…
    1. Mollusca
    2. Echinodermata
    3. Platyhelminthes
    4. Arthropoda
    5. Nemathelminthes
  2. Berikut adalah fase-fase dari daur hidup cacing Trematoda yang tidak berurutan : (1) mirasidium; (2) telur; (3) sporokis; (4) redia; (5) cacing dewasa; (6) metaserkaria; (7) serkaria. Urutan fase yang benar adalah ….
    1. 1-2-4-3-6-7-5
    2. 2-1-3-4-6-7-5
    3. 1-2-3-4-7-6-5
    4. 2-1-4-3-7-6-5
    5. 2-3-4-1-7-6-5
  3. Dari bentuk-bentuk pertumbuhan pada cacing hati, yang ada dalam tubuh manusia adalah ….
    1. Mirasidium
    2. serkaria
    3. cacing gelembung (sistiserkus)
    4. cacing dewasanya
    5. redia
  4. Telur Fasciola hepatica menetas menjadi larva bersilia yang disebut ….
    1. Mirasidium
    2. sporokis
    3. metaserkaria
    4. Redia
    5. serkaria
  5. Fasciola hepatica termasuk ….
    1. Annelida
    2. Trematoda
    3. Nematoda
    4. Cestoda
    5. Hirudinea
  6. Fasciola hepatica bertelur di dalam ….
    1. usus manusia
    2. aliran darah
    3. dalam otot
    4. paru-paru
    5. dalam hati ternak
  7. Telur Schistosoma mempunyai ciri khusus yang agak berbeda dibandingkan telur trematoda pada umumnya, yaitu …
    1. Spina
    2. Sucker
    3. Asetabulum
    4. Operkulum
    5. Protonefridia
  8. Penyakit yang disebabkan oleh cacing Paragonimus westermani dikenal dengan nama….
    1. Schistosomiasis
    2. Tuberculosis
    3. Gastritis
    4. Arterioklorsis
    5. Paragonimiasis
  9. Fasciola hepatica dan Chloronchis sinensis adalah cacing hati yang mempunyai inang sementara berupa…
    1. Kambing dan manusia
    2. Siput dan manusia
    3. Siput dan ikan
    4. Nyamuk culex dan ikan
    5. Kambing dan siput
  10. Paragonimus westermani dikenal juga dengan sebutan…
    1. liver flukes
    2. lung flukes
    3. kidney flukes
    4. intestinal flukes
    5. blood flukes

Perhatikan gambar berikut untuk menjawab soal 11-13

  1. Pada tahap manakah larva masuk ke dalam tubuh siput…
    1. (1)
    2. (3)
    3. (5)
    4. (2)
    5. (4)
  2. Pada tahap manakah larva akan keluar dari tubuh siput kemudian berpindah menempel pada tumbuhan air…
    1. (1)
    2. (3)
    3. (5)
    4. (2)
    5. (4)
  3. Pada tahap manakah larva membentuk sporocyst yang kemudian memproduksi redia…
    1. (1)
    2. (3)
    3. (5)
    4. (2)
    5. (4)
  1. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
    1. Sebutkan dan jelaskan fisiologi dari trematoda?
    2. Sebutkan 3 Ordo dari kelas trematoda dan jelaskan karakteristik khusus yang dimiliki masing-masing ordo?
    3. Gambar dan jelaskan stadium larva dari Fasciola Hepatica?
    4. Buatlah skema daur hidup dari Japonicum, dan jeaskan!
    5. Sebutkan beberapa spesies dari kelas trematoda yang berparasit dalam tubuh manusia dan sebutkan tempat hidup/bagian tubuh dari inangnya?

Essay !

  1. Sebutkan lima ordo pada kelas turbellaria dan berikan contohnya masing-masing!
  2. Bagaimana sistem ekskresi pada kelas Turbellaria !
  3. Bagaimanakah mekanisme pernafasaan yang terjadi pada turbellaria karena pada turbellaria belum meimiliki alat pernafasan khusus?
  4. Sebutkan dan jelaskan secara singkat perkembangbiakan turbellaria secara seksual?
  5. Bagaiamana mekanisme kerja dari bintik mata pada turbellaria dan manfaatnya?

Lampiran Jawaban

1.c

2.d

  1. a

4.b

5.c

6.d

7.b

8.a

9.e

10 c

Essay :

  1. Ordo Acoela, contoh: Convolutaw, 2 Ordo Rhabdocoela contoh: Anoplodium ,3. Ordo Alloeocoela contoh: Proporoplana ,4. Ordo Tricladida contoh: Planaria atau Dugesia, 5 ordo Polycladida contohnya Notoplana
  2. Pada turbellaria sistem eksresinya menggunakan sel api yaitu saluran yang menuju keruang tengah yang bersilium dan bermuara pada tabung-tabung ,karena ada gerakan dari silium limbah keluar tabung melalui pori-pori ekskresi.
  3. Turbellaria dengan cara difusi melalui kulitnya oksigen yang terkandung dalam air akan terserap oleh kulit tubuhnya secara difusi.
  4. Perkembangbiakan turbellaria secara seksual yaitu dengan peleburan anatara sel sperma dan sel ovum, yang mana bisa teerjadi dengan sendirinya karena turbellaria merupakan hewan hemaprodit yang bisa melakukan pembuahan sendiri karena pada satu individu terdapat dua organ reproduksi baik jantan ataupun betina.
  5. Kerja bintik mata pada turbellaria terdiri dari sel pigmen yang mana tersusun dalam bentuk mangkok yang yang dilengkapi dengan sel-sel syaraf sensoris yang sensitif pada cahaya atau sinar. Jadi ketika bintik mata terkena cahaya maka planaria akan bergerak kearah yang tidak ada cahaya. Manfaat Bintik mata untuk membedakan warna gelap dan terang saja.
A
Anterior Bagian depan atau kepala
Asegmental Tidak memiliki segmen tubuh
Aseksual Perkembangbiakan tanpa terjadinya pembuahan / bergabungnya anatara sel jantan (sperma) dan sel betina (sel telur)
Aselomata Tidak memiliki rongga tubuh
Aurikel Merupakan indera rasa, bau dan sentuhan berupa bintik mata
D
Diventrikulum Suatu tabung atau kantung dengan ujung yang buntu,   sebagai percabangan dari suatu saluran atau rongga
Dorsal Sebutan permukaan yang menjauhi sumbu (permukaan sisi bawah)
F
Flatworms Cacing yang tubuhnya berbentuk pipih
Fragmentasi Perkembangbiakan dengan cara memtuskan bagian tubuhnya dan menjadi individu yang baru
G
Ganglion serebral Otak
Gastrovaskular Saluran pencernaan makanan pada hewan
H
Hemaprodit Hewan yang memiliki 2 organ reproduksi dalam satu individu
I
Invertebrata Hewan yang tidak bertulang belakang.
P
Parenkim Jaringan tak terspesialisasi yang umumnya terdiri dari sel isodiametris berdinding tipis tak berlignin dan bersi protoplasma
Posterior Posisi yang menyatakan terletak dibelakang atau belakang sumbu tubuh
Proboscis Kerongkongan dalam keadaan menjulur keluar
Protonephridia Sistem ekskresi saluran seperti jala yang tersebar keseluruh tubuh yang cabang ujungnya membesar.
Pseudopoda Organ yang menyerupai kaki (kaki semu)
R
Regenerasi Pembaruan atau restorasi struktur atau jaringan sesudah rusak / hilang.
Silia Rambut getar yang pendek dan banyak biasanya digunakan untuk alat gerak.
Simbiotik Hidup bersama dua makhluk yang berbeda
T
Terrestrial Hidup atau terkait pada tanah ataupun permukaan tanah, sebagai suatu tipe lingkungan daratan dipisahkan secara tegas dengan lingkungan air (akuatik) dan atmosfer (aerial).
Triplobastik Berasal dari tiga lapisan embrional yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm.
V
Vakuola Ruangan di dalam sitoplasma (cairan sel) yang berisi cairan yang isotonik (konsentrasi sama) dengan sitoplasma dan dikelilingi satu selaput.
Ventral Permukaan bawah atau sisi perut organ tubuh hewan, permukaan dalam atau yang mendekati sumbu (sisi atas) pada tumbuhan.

Anonim. Latar Belakang Masalah,http://www.scribd.com/doc/46493933/1/A-Latar-Belakang-Masalah. 2012. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2012 pukul 09.00.

Anonim. Platyhelminthes, http://www.scribd.com/doc/51196761/PLATYHELMINTHES, 2011 diakses pada tanggal 6 oktober2012 pukul 13;00.

Anonim. Habitat Turbellaria, http://animals.jrank.org/pages/1507/Turbellarians-Turbellaria-HABITAT.html. .2012 diakses pada tanggal 7 oktober pukul 10.00

Nawangsari sugiri, Zoo Avertebrata 1.Bogor:IPB,1988.

Rusydan, Adun, Zoologi Invertebrata(Teori dan praktek).Bandung:Alvabeta,2011.

Syamsyudin, Hamid. Kamus Lengkap Biologi:Jakarta:Gama Press.2010

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s