ARTHROPODA

CRUSTACEA

 

Copepoda

e

Ostracoda

 

Branchiopoda

 

ENTOMOSTRACA

 

Nebaliacea

 

Anaspidacea

 

TRILOBITA

 

ARTHROPODA

 

CHELICERATA

 

Cirripedia

e

MALACOSTRACA

 

Mysidacea

 

Cumacea

 

Isopoda

 

Amphipoda

 

Euphausiacea

 

Decapoda

 

Stomatopoda

 

UNIRAMIA

 

Ordo
Ordo
Kelas
Sub  kelas
Sub kelas
PETA KONSEP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

 

 

 

Kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT patut bersyukur dengan apa yang telah di ciptakanNya. Di bumi ini, keanekaragaman hewan sangat beragam jenisnya. Oleh karena itu, kita perlu mengklasifikasikannya untuk mempermudah dalam mempelajarinya.

 

“Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) -Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” (Q. S. Asy-Syura: 29)

 

Klasifikasi bertujuan untuk mempermudah mengenal objek yang beranekaragam dengan cara melihat/mencari persamaan dan perbedaan ciri dan sifat pada objek tersebut. Keuntungan yang diperoleh dengan mengklasifikasikan makhluk hidup adalah mempermudah dalam mencari keterangan tentang makhluk hidup yang dipelajari serta mempermudah dalam penamaan nama ilmiah.

Dalam klasifikasi terdapat kingdom/dunia animalia (hewan). Kingdom animalia dapat dibagi menjadi beberapa filum. Namun, dalam sistem klasifikasi dapat berbeda antara satu sistem dan yang lainnya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat antara ilmuan di dunia pada sistem klasifikasi tertentu seperti Diplopoda dan Chilopoda merupakan tingkat kelas pada Myriapoda, sedangkan pada sistem lain Diplopoda dan Chilopoda dikelompokkan menjadi kelas dalam Filum Arthropoda dan Subfilum Uniramia.

Pada makalah ini, klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi yang membagi Filum Arthropoda menjadi 2 subfilum, yaitu Subfilum Chelicerata dan Subfilum Uniramia.

Arthropoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu arthro yang berarti ruas dan podos yang berarti kaki. Jadi, Arthropoda berarti hewan yang kakinya beruas-ruas. Organisme yang tergolong filum arthropoda memiliki kaki yang berbuku-buku. Hewan ini memiliki jumlah spesies yang saat ini telah diketahui sekitar 900.000 spesies. Hewan yang tergolong arthropoda hidup di darat sampai ketinggian 6.000 m, sedangkan yang hidup di air dapat ditemukan sampai kedalaman 10.000 meter.

Arthropoda adalah golongan hewan dengan jumlah paling besar di dunia ini. Diperkirakan lebih dari 80% dari seluruh jenis hewan sekarang ini adalah Arthropoda, menghuni semua jenis habitat yang ada, baik terestrial maupun akuatik.

Dari filum Arthropoda ini, kelas Insecta atau serangga merupakan jenis yang terbesar. Hal ini disebabkan oleh daya tahan tubuhnya yang baik, cepatnya menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan penyebaran yang sangat luas yaitu mulai dari daerah tropis hingga daerah kutub.

Tubuh Arthropoda merupakan simeri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata. Arthropoda adalah hewan dengan sistem saraf tali dan organ tubuh telah berkembang dengan baik. Tubuh artropoda terbagi atas segmen-segmen yang berbeda dengan sistem peredaran darah terbuka. Contoh : laba-laba, lipan, kaki seribu, kalajengking, jangkrik, belalang, udang, lalat, kecoa, dll.

Tubuh ditutupi lapisan kutikula yang merupakan rangka luar (eksosketelon). Ketebalan kutikula sangan bervariasi, tergantung dari spesies hewannya. Kutikula dihasilkan oleh epidermis yang terdiri atas protein dan lapisan kitin. Pada waktu serangga mengadakan pertumbuhan, kutikula akan mengalami pengelupasan. Kutikula berfungsi melindungi tubuh bagian dalam, memberi bentuk pada tubuh serangga dan dapat menjadi tempat melekatnya otot, terutama yang berhubungan dengan alat gerak. Otot serangga merupakan otot serat lintang yang susunannya sangat kompleks. Otot ini diperlukan untuk melakukan gerakan yang cepat.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, makalah ini menggunakan klasifikasi dimana terdapat Subfilum Uniramia di dalam Filum Arthropoda.

Uniramia berasal dari bahasa Latin unus berarti satu dan ramo berarti cabang karena semua apendik pada ruas tubuhnya uniramus. Pada setiap ruas kepala terdapat sepasang antena, sepasang mandibel dan sepasang maksila. Sebagian besar hidup di darat, beberapa di air tawar dan sedikit di laut. Terbagi menjadi 5 kelompok yaitu kelas Diplopoda, Chilopoda, Pauropoda, Symphilla, Insecta.

 

  • SUB FILUM UNIRAMIA

Uniramia berasal dari bahasa Latin unus berarti satu dan ramo berarti cabang karena semua apendik pada ruas tubuhnya uniramus. Pada setiap ruas kepala terdapat sepasang antena, sepasang mandibel dan sepasang maksila. Sebagian besar hidup di darat, beberapa di air tawar dan sedikit di laut. Terbagi menjadi 5 kelompok yaitu kelas Diplopoda, Chilopoda, Pauropoda, Symphilla, Insecta

  • Kelas Diplopoda

Kelas Diplopoda atau yang dikenal dengan luing (kaki seribu) merupakan kelas dari filum Antropoda. mereka sudah ada sekitar 400 juta tahun yang lalu sehingga layak disebut hewan purba. Sangat berpengaruh dalam rangkaian ekologi bisa dikatakan sebagi dekompuser, karena mereka merupakan komponen utama perombak kayu dan dedaunan di lantai hutan,terutama di daerah tropika.

  • Ciri kelas diplopoda

Diplopoda berasal dari kata di=dua dan podos=kaki. Jadi Diplopoda adalah kelas hewan yang memiliki dua pasang kaki.

Ciri-ciri umum dari kelas diplopoda ialah:

  • Tubuhnya berbentuk silindris dan beruas-ruas (25-100 segmen) terdiri atas kepala dan badan. Setiap segmen (ruas) mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai taring bisa (maksiliped). Pada ruas ke tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ kopulasi.
  • Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dengan dua kelompok mata tunggal.
  • Hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung tumbuhan yang telah membusuk.
  • Respirasi dengan trachea yang tidak bercabang.
  • Alat ekresi berupa dua buah saluran malphigi.

 

 

  • Struktur tubuh, terdiri dari:

Kaki seribu memiliki tubuh yang terbagi atas dua bagian, kepala di sebelah depan dan bagian tubuhyang panjang dibelakangnya. Tubuhnya terdiri dari segmen-segmen tubuh. Pada hampir setiap segmen tubuh dari kaki seribu dewasa terdapat dua pasang kaki. Segmen tubuh pertama setelah kepala disebut tengkuk (collum) dan tidak berkaki. Tiga segmen berikutnya (segmen 2 hingga 4) mengandung sepasang kaki pada tiap segmennya Kaki seribu yang belum dewasa sering kali mempunyai segmen terakhir yang tidak berkaki. Kaki seribu yang belum dewasa sulit sekali ditentukan jenisnya. Oleh karena itu pilihlah kaki seribu dewasa, spesimen yang segmen terakhirnya lengkap dengan kaki atau specimen yang hanya mempunyai sedikit segmen tanpa kaki untuk ditentukan identitasnya.

Alat mulut kaki seribu hanya memiliki dua pasang alat mulut, mandibula yang digunakan untuk mengunyah dan suatu keping di sebelah belakang yang disebut gnathochilarium. Organ Tömösváry: Ini adalah organ perasa yang terletak di kepala pada kebanyakan kaki seribu. Organ ini umumnya berbentuk cincin yang agak menonjol, tetapi dapat juga berbentuk dalam atau hanya sekedar berbentuk suatu lubang. Posisinya terletak di bagian belakang dasar sungut. Tidak semua bangsa kaki seribu memiliki organ ini. Ozopor: Organ ini pada kebanyakan bangsa kaki seribu terdapat pada sejumlah segmen tubuh, yaitu lubang kelenjar yang menghasilkan bau tertentu dan  bagian ini agak sulit untuk dilihat. Pada kebanyakan hewan, ozopore terletak di sebelah samping tubuh dan dimulai pada segmen ke enam. Pada sebagian kecil kelompok hewan ini, lubang kelenjar terdapat di sepanjang bagian tengah dorsal.

Paranota: Bagian dorsal setiap segmen cincin ditutupi dengan perisai yang kerat dan disebut tergit. Pelebaran kearah samping tubuh dinamakan paranota. Kebanyakan kaki seribu memiliki “bintik mata” pada daerah sisi kepala. Mata demikian dapat terdiri dari sejumlah bintik mata yang bersatu membentuk daerah penglihatan. Sejumlah kaki seribu, misalnya Polydesmida, tidak pernah memiliki bintik mata. Kaki seribu yang hidup di dalam gua pada beberapa bangsa telah kehilangan alat penglihatan mereka, meskipun kerabatnya yang hidup di permukaan tanah mempunyai daerah penglihatan yang terbentuk dengan baik.

Kaki seribu dewasa umumnya mempunyai alat kelamin yang jelas. Alat kelamin tentu terdapat pada kedua jenis kelamin, hanya lebih nyata pada hewan jantan. Kaki yang berubah menjadi alat kelamin umumnya dapat ditemukan di dua bagian, di daerah segmen cincin yang ke tujuh atau pada bagian ujung tubuhnya, meliputi pasangan kaki yang terakhir.

Pasangan kaki yang terakhir umumnya dinamakan telopod. Pasangan kaki ke tujuh yang termodifikasi kadang-kadang tersembunyi pada suatu kantung. Pada kelompok hewan demikian hewan jantan terlihat tidak punya pasangan kaki pada segmen ke tujuh). Pasangan kaki ke tujuh yang mengalami modifikasi dikenal dengan gonopod. Organ ini sangat penting untuk mengidentifikasi jenis. Hewan betina mempunyai alat kelamin (kadang-kadang disebut cifopod) dapat ditemukan di sebelah belakang pasangan kaki kedua.

Lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini :

Gambar 8.1 Kaki seribu

Bagian-bagian tubuh suatu kaki seribu jantan dari Bangsa Julida. Pada tampak samping kaki pada bagian segmen depan, kaki-kaki terlihat lebih depan dibandingkan dengan tempat sebenarnya (menurut Blower, 1985). Perhatikan bahwa pasangan kaki pertaman berbentuk cakar adalah ciri paling jelas dari Julid jantan. collum = tengkuk, ocelli = bintik, mata, ocular field = daerah mata, mandible = rahang, ozopore(s) = ozopor, gonopod(s) = gonopod, leg(s) = kaki.

Gambar 8.2  Struktur segmen

Struktur segmen cincin (diplosegmen) (menurut Demange, 1981). ozopore(s) =ozopor, leg(s) = kaki, gland = kelenjar, prozonite = prozonit, metazonite = metazonit, suture = sambungan, stigma = lubang halus, sternite = sternit, posterior = belakang, anterior = depan.

  • Fisiologi
  • Sistem Peredaran Darah

Darah tidak berwarna merah karena tidak mengandung hemoglobin (Hb), melainkan hemosianin yang larut dalam plasma. Dari jantung darah dipompa ke dalam arteri ke tiap segmen, dan kembali ke jantung lewat hemosoel (rongga tubuh yang mengambil bagian dalam peredaran darah).

  • Sistem Reproduksi

Pada kelas diplopoda sudah dapat dibedakan jantan dan betina. Bukaan genital terletak pada segmen ketiga, dan pada jantan disertai oleh satu atau dua penis, yang paket setoran sperma ke gonopods. Pada wanita, membuka pori-pori genital ke kamar kecil, atau vulva, yang ditutupi oleh tudung kecil seperti penutup, dan digunakan untuk menyimpan sperma setelah sanggama.

Dalam beberapa spesies jantan memancarkan feromon untuk menarik si betina. Sebelum perkawinan, kaki seribu jantan terlebih dahulu mengisi organ-organ seksual sekunder dari yang utama, untuk melakukan hal ini dia harus menekukkan tubuhnya ke depan sehingga spermatophore dari Gonopores pada segmen tubuh ke-3 dapat ditransfer ke Gonopods (berarti ‘seks-kaki’) pada 7 segmen tubuh.

Kaki seribu jantan dan betina melakukan pendekatan untuk kawin dengan cara, kaki seribu jantan berjalan di belakang betina dan merangsang dengan irama pulsa dari kakinya. Ketika betina mengangkat segmen depan jantan mengelilingi tubuhnya dan ketika mereka menentang alat kelamin transfer sperma terjadi. Sperma dilewatkan ke perempuan sebagai sebuah paket disebut spermatophore. Gonopods atau organ seksual sekunder yang digunakan dalam transmisi spermatophore ini bervariasi dalam bentuk dengan spesies yang berbeda, ini terkait erat dengan membantu menghentikan bentuk spesies hybridizing. Betina dapat dan akan kawin beberapa kali dalam jenis Iulid tetapi jenis Polydesmoid betina cenderung untuk kawin hanya sekali dalam semusim.

Betina menghasilkan 10-300 telur dalm satu waktu, telur ditempat pada tempat yang lembab atau sampah organik, walaupun terkadang di tempat yang kering, sarang akan dilapisi dengan kotorannya.

  • Sistem Pernafasan

Organ pernafasan berupa satu pasang trakea berspirakel yang terletak di kanan kiri setiap ruas, kecuali pada Diplopoda terdapat dua pasang di tiap ruasnya.

  • Sistem Pencernaan

Saluran pencernaanya lengkap dan mempunyai kelenjar ludah. Chilopoda bersifat karnivor dengan gigi beracun pada segmen I, sedangkan Diplopoda bersifat herbivor, pemakan sampah atau daun-daunan.

  • Pertahanan diri

Kaki seribu tidak menggunakan sungut berbisa untuk melindungi diri dari musuh. Mekanisme pertahanan utamanya adalah menggulungkan diri. Tetapi ada juga yang memancarkan zat beracun berupa hydrogen sianida melalui pori-pori di sepanjang sisi tubuh. Zat ini mampu membakar eksoskeleton dari serangga kecil pengganggu seperti semut.

  • Makanan

Hewan kelas diplopoda bersifat herbifor, memakan dedaunan, maupun kayu-kayu yang membusuk. Hanya yang berukuran saja menggigit manusia tetapi hanya sebagai mekanisme pertahanan. Kebanyakan kaki seribu membusuk makan daun dan mati lain tanaman materi, pelembab makanan dengan cairan dan kemudian menggoreskan dalam dengan rahang.

  • Habitat

Hewan ini hidup didarat tempat, tempat gelap seperti di dalam gua, dan pada daerah yang lembab seperti pada dedaunan mati dan serasah kayu.

  • Klasifikasi

Taksonomi Diplopoda berdasarkan filogenetik. Dipopoda dibagi dalam lima belas bangsa, namun yang akan di bahas hanya 2 bangsa saja. Berikut adalah urutan pengklasifikasiaan kelas diplopoda:

 

  • Order Spirostreptida
  • Ordo Glomerida

Dari ordo ini dapat kita salah satu spesies  yaitu luing pil (Arthrosphae armagna). Hewan ini memiliki ukuran yang lebih kecil atau pendek, dengan hanya memiliki 11-13 segmen tubuh dan mampu menggulung menjadi bentuk sebuah bola jika diganggu. Keluwing pil adalah herbivora, mencari makanan di materi pembusukan tanaman.

Keluwing yang termasuk dalam genus Arthrosphaera adalah penghuni daerah tropis yang sangat melimpah pada horizon tanah atas di hutan di kawasan lembab. Mereka endemik dan bisanya berperan dalam pembentukan berbagai tipe humus. Mereka terbatas dalam daerah persebaran yang luas di wilyah Indo-Australia, Afrika Selatan dan Madagaskar. Semenanjung India dihuni oleh sekitar 27 spesies Arthrosphaera. Mereka diketahui berasal dari wilayah yang cukup curah hujan, hutan tertentu di Ghats Barat dan Ghats Timur. Genus Arthrosphaera memiliki ukuran tubuh yang besar (panjang 3-6 cm, lebar 1,5-3 cm) dan jika diganggu akan menggulung menjadi pil raksasa, karena itulah disebut dengan Keluwing Pil (Arthrosphae armagna).

 

Berikut adalah gambar spesiesnya Arthrosphae armagna :

Gambar 8.5 Sebelum menggulung Setelah menggulung

  • Peranan

Dapat dikatakan tidak memberi keuntungan bagi kehidupan manusia. Bahkan ada beberapa yang dianggap mengganggu meski tidak membahayakan. Namun, Diplopoda ternyata mempunyai andil dalam memecah bahan-bahan organik atau serasah untuk membentuk humus.

 

  • KELAS CHILOPODA
  • Ciri-ciri umum Chilopoda

Kelas chilopoda merupakan bangsa lipan. Anggota chilopoda ini sering disebut hewan berkaki seratus atau sentipeda. Jumlah pasang kaki atau jumlah ruas bisa mencapai 190 ruas. Tubuh dan kepala chilopoda berbentuk pipih (dorsoventral) memanjang dan bersegmen dengan bagian badan terdiri dari kepala dan batang badan.

Tiap segmen terdapat sepasang kaki, kecuali pada segmen di belakang kepala dan dua segmen terakhir. Pada segmen di belakang kepala terdapat satu pasang “taring bisa” atau “cakar racun” (maksiliped / pedes maksilaris) yang berfungsi untuk membunuh mangsanya.

Pada kepala terdapat mulut, dua buah mata tunggal (oselus), dan sepasang antena panjang yang beruas banyak, sedangkan pada bagian akhir batang badan biasanya terdapat sepasang organ modifikasi dari kaki yang berfungsi untuk perlindungan diri yaitu sting organ.

  • Fisiologi
  • Sistem pernapasan

Alat respirasi (pernafasan) Chilopoda berupa trakea yang bercabang-cabang keseluruh bagian tubuh dengan lubang yang terbuka hampir pada setiap ruas. Lubang tersebut berupa satu pasang trakea berspirakel yang terletak di kanan kiri setiap ruas.

  • Sistem pencernaan

Alat pencernaan makanannya sudah sempurna atau lengkap, terdiri dari mulut, esofagus, lambung, usus, anus dan mempunyai kelenjar ludah. Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi.

Lipan atau kelabang adalah predator dan akan membunuh dan mengkonsumsi berbagai invertebrata lainnya seperti laba-laba, moluska, serangga, slaters dan kelabang lainnya. Bila bertemu mangsanya, lipan akan menyerang mangsanya dengan cara menggigit menggunakan rahang yang kuat dan gigitan yang berbisa atau kaki beracun yang berguna untuk melumpuhkan mangsa. Mangsa biasanya bergerak kemudian racun disuntikkan melalui taring dan kemudian dirobek-potong oleh rahang dan bagian-bagian tubuh mangsa yang lunak dimakan.

  • Sistem reproduksi

Chilopoda bereproduksi secara kawin (seksual) dengan pembuahan secara internal, yaitu dengan pertemuan ovum dan sperma. Terdapat satu organ kelamin di ujung abdomen. Setelah pembuahan, telur yang telah dibuahi diletakkan dibawah batuan yang ditempati.

Beberapa kelabang menghasilkan sutera, yang dipakai pada waktu kawin. Yang jantan membuat jaring kecil di tempat itu ia menaruhkan satu paket sperma, dan paket ini kemudian diambil oleh yang betina.

 

  • Habitat dan Ekologi

Hewan dari kelas Chilopoda ini banyak dijumpai di daerah tropis dengan habitat di darat. Terutama di tempat yang banyak mengandung sampah, misalnya di kebun dan di bawah batu-batuan. Habitatnya juga di bawah batu-batuan/timbunan tumbuhan yang telah membusuk.

Adakalanya merayap ke dalam ruang di lokasi tersembunyi. Lebih menyukai tempat yang lembab. Mudah kehilangan air jika mereka tidak memiliki kutikula lilin. Biasanya ditemukan di luar ruangan, tapi dapat merayap ke dalam ruangan.

Chilopoda hidup sebagai hewan buas (karnivora) yang dapat bergerak cepat dengan menggunakan kaki yang banyak. Lipan dapat menaklukkan mangsanya dengan racun yang berasal dari sepasang kaki pertamanya yang disebut cakar racun.

Di siang hari, mereka lebih banyak bersembunyi di tempat yang gelap semisal di bawah batu atau di celah pohon. Bukan tanpa alasan mengapa kelabang memiliki pola hidup demikian. Kelabang tidak memiliki semacam penutup pada lubang pernapasannya (spirakel) sehingga kelabang mudah kehilangan cairan dalam bentuk uap saat beraktivitas. Untuk mencegah dehidrasi akibat suhu lingkungan yang tinggi & pengeluaran uap air secara berlebihan, kelabang pun selalu berusaha menghindari cahaya yang intensitasnya berlebihan.

 

  • Klasifikasi

Berdasarkan klasifikasinya Chilopoda terdiri atas ordo Lithobiomorpha, Scutigeromorpha, Scolopendromorpha, Geophilomorpha.

  • Ordo Lithobiomorpha

Kelabang ini bertungkai pendek, biasanya kelabang yang berwarna coklat dengan 15 pasang tungkai pada yang dewasa. Panjang meraka bervariasi dari kira-kira 4 sampai 45 mm. Beberapa anggota dari ordo ini sangat umum, biasanya terdapat di bawah batu-batuan (kelabang batu) atau kayu-kayuan, di bawah kulit kayu, dan tempat-tempat yang serupa. Bila diganggu, kadang-kadang mereka menggunakan tungkai-tungkai posterior mereka untuk melemparkan tetesan-tetesan bahan yang lengket kearah penyerang mereka. Ordo ini memiliki dua family yaitu Henicopidae (panjangnya 4-11mm), tungkai tanpa duri-duri yang kuat, dan mata terdiri dari masing-masing sebuah faset yang tunggal atau tidak ada) dan Lithobiidae (panjangnya 10-45 mm, paling tidak beberapa tungkai dengan duri-duri yang kuat, dan mata biasanya terdiri dari banyak faset).

Gambar 8.6 Lithobius forficatus.

Kelabang berkaki pendek (beracun berbahaya)

 

  • Ordo Scutigeromorpha

Kelompok ini mencakup kelabang rumah (house centipede), yang terdapat di seluruh Amerika Serikat bagian timur dan Kanada. Habitat di alam terdapat di bawah kayu gelondong dan tempat-tempat yang serupa. Didalam rumah seringkali kelabang dijumpai disekitar tempat pencucian dan pipa pembuangan. Makanannya adalah hewan-hewan kecil seperti lalat atau laba-laba. Kelabang ini tidak berbahaya bagi manusia.

Gambar 8.7 Seekor kelabang berkaki panjang dari spesies Scutigera coleoptrata.

 

Scutigeromorpha atau bisa juga disebut sebagai “kelabang berkaki panjang” adalah salah satu tingkatan ordo dalam klasifikasi ilmiah kelabang di mana kelabang-kelabang yang termasuk ke dalam anggota ordo ini memiliki kaki-kaki berjumlah – umumnya 15 pasang yang berukuran lebih panjang bila dibandingkan dengan kelabang-kelabang pada umumnya. Ordo Scutigeromorpha lebih lanjut dalam tangga klasifikasi ilmiah terbagi lagi menjadi 3 famili utama : Psellioididae, Scutigeridae, & Scutigerinidae. Salah satu contoh anggota Scutigeromorpha yang dikenal sebagai kelabang rumah adalah Scutigera coleoptrata.

 

 

  • Ordo Scolopendromorpha

Scolopendromorpha memiliki ciri-ciri yaitu terdiri dari 21 atau lebih segmen. Antena mereka memiliki 17 atau lebih segmen. Kelompok ini terutama terdapat di daerah tropika, dan di Amerika Serikat terdapat terutama di negara-negara bagian di selatan. Scolopendrida mencakup kelabang-kelabang terbesar di Amerika Utara, yang mencapai panjang kira-kira 150 mm. Beberapa jenis daerah tropis mungkin setengah meter atau lebih panjangnya. Banyak scolopendrid-scolopendrid berwarna kehijau-hijauan atau kekuning-kuningan. Golongan ini adalah kelabang yang paling beracun dan gigitan jenis yang lebih besar sangat menyakitkan. Tiga family terdapat di dalam ordo ini yaitu Scolopendridae (tiap-tiap mata dengan empat faset), Cryptopidae (masing-masing mata dengan satu faset), dan Scolopocryptopidae.

Berikut adalah beberapa contoh spesies Scolopendromorpha yang kebanyakan berukuran besar (famili Scolopendridae):

  • Lipan Galapagos (Scolopendra galapagoensis)

    Gambar 8.8 Panjang : 44-46 cm, ukuran terbesar yang pernah ditemukan berukuran 62 cm. Habitat : Kepulauan Galapagos

 

  • Lipan Amazon (Scolopendra gigantea Robusta)

    Gambar 8.9 Scolopendra gigantea Robusta

Panjang: 25-30 cm
Habitat: Hutan hujan amazon

 

  • Lipan Malay (Scolopendra subspinipes ssp)

    Gambar 8.10 Panjang: 18-20cm

Habitat: Hutan Hujan di Malaysia dan Indonesia

  • Ordo Geophilomorpha

Anggota-angota ordo ini langsing, mempunyai 27 atau lebih pasangan-pasangan tungkai yang pendek dan cakar besar yang beracun, dan biasanya berwarna keputih-putihan atau kekuning-kuningan. Kebanyakan jenis adalah kecil, tetapi beberapa dapat mencapai panjang 100 mm atau lebih. Mereka biasanya terdapat di dalam tanah (kelabang tanah), pada kayu-kayu yang membusuk, atau dalam reruntuhan.

Jenis ini tidak memiliki mata dan buta. Mereka mempunyai antena dengan 14 segmentasi. Apabila diganggu, mereka menggulung dan memberikan sekresi yang rupa-rupanya bertindak sebagai zat penolak terhadap pemangsa yang potensial.

Empat family di dalam ordo ini yang terdapat di Amerika Serikat dipisahkan oleh ciri-ciri mandible. Mecistocephalidae, Neogeophilidae, Geophilidae, dan Linotaeniidae.

 

  • (b)

Gambar 8.11 Contoh spesies dari famili Geophilidae, a. Geophilus flavus, b. Geophilus carpophagus Leach

 

  • Peranan

Fungsi Chilopoda secara umum, hampir sama dengan makrofauna pada umumnya, yaitu mempunyai andil dalam memecahkan bahan-bahan organik atau serasah untuk membentuk humus yang berguna untuk membantu proses dekomposisi dalam tanah, jika mati dapat memberikan tambahan bagi  tanah serta urinenya juga berperan penambahan pupuk bagi tanah, merupakan makanan bagi aves serta predator pada beberapa ekosistem yang berperan penting dalam penyeimbang ekosistem, serta bioindikator kualitas tanah.

 

  • KELAS PAUROPODA
  • Ciri-ciri Umum Pauropoda

Anggota Pauropoda ini berukuran kecil dengan panjang tubuh 0,5 sampai 2 mm. Tubuh berbentuk silindris dan bersegmen. Hewan ini tidak berwarna, namun ada juga yang berwarna kecoklatan atau putih. Tubuh dibedakan atas kepala dan badan. Antena hewan ini bercabang 3 dan tidak memiliki mata.

Jumlah spesies dari kelas Pauropoda sekitar 500 spesies, tetapi jumlah individunya sangat banyak. Diperkirakan 5 juta hewan hidup dalam 1 hektar sampah hutan.

Pauropoda kurang lebih mirip dengan kelabang dengan sepasang kaki pada setiap segmen tubuh, dan kaki seribu yang memiliki dua pasang kaki pada setiap segmen. Pauropoda memiliki batang 12-tersegmentasi dengan sembilan pasang kaki dalam bentuk dewasa. Mereka buta, tetapi memiliki struktur mata seperti pada kepala. Antena dua-bercabang, tapi satu cabang biasanya berakhir dalam dua flagela yang memberikan mereka penampilan memiliki antena tiga-bercabang.

Berikut adalah gambar dari pauropoda, ciri-ciri yang khas adalah mempunyai 3 antena & 9 pasang kaki:

  •                                                       (b)

 

            Gambar 8.12 (a) dan (b) Pauropus luxleyi

  • (b)

 

 

( c )                                                                (d)

 

Gambar 8.13 (a); (b); ( c ) dan (d) Eurypauropus spinopus

 

  • Habitat dan Ekologi

Hewan kelas ini hidup dalam tanah. Di Selandia Baru Pauropoda dapat ditemukan di habitat yang sama seperti arthropoda tanah kecil lainnya, misalnya di sampah daun, di bawah lumut dan batu-batu, di kayu membusuk, atau dibawah kulit kayu yang membusuk.

  • Fisiologi
  • Sistem peredaran darah

Sistem peredaran darahnya bersifat terbuka. Organ transportasi berupa jantung yang panjang dan terletak memanjang dibagian punggung tubuh. Darah tidak berwarna merah karena tidak mengandung hemoglobin, melainkan hemosianin yang larut dalam plasma.

  • Sistem reproduksi

Pauropoda merupakan hewan hemafrodit. Terdapat juga pauropoda memiliki kelamin terpisah. Pada beberapa spesies, reproduksi jantan belum diamati. Spesies ini dianggap partenogenesis.

  • Makanan

Makanan berupa hewan yang berukuran mikroskopik. Pauropoda juga memakan jamur, tanaman membusuk dan bahan hewani.

Beberapa pauropoda telah memiliki rahang bawah dan dapat memakan makanan padat. Contoh hewan dari kelas Pauropoda: Pauropus luxleyi dan Eurypauropus spinopus

 

  • KELAS SYMPHYLA
  • Ciri-ciri umum:
  • Bentuk tubuh bilik dan bersegmen
  • Terdapat kurang lebih 200 spesies
  • Terdapat dua family, yaitu: Scultigerelidae dan Scollopendrellidae
  • Mempunyai sepasang antena, tidak memiliki mata, dan pigmen
  • Mempunyai 12 pasang kaki
  • Habitat tempat lembap, kayu busuk, dan bawah batu
  • Sumber makanan ialah tumbuhan yang membusuk
  • Contoh : Scolopendrella sp

 

  • KELAS INSEKTA

Kata insekta, berasal dari bahasa latin, insecti yang berarti serangga. Insekta termasuk salah satu anggota dari filium Arthropoda. Banyak anggota insekta yang dapat ditemukan disekitar kita misalnya lalat, kupu- kupu, kecoak, jangkrik, semut, nyamuk dan belalang. Anggota insekta sangat beragam, tetapi memiliki ciri khusus, yaitu kakinya berjumlah enam buah, sehingga disebut juga hexapoda (hexa = enam, podos = kaki).

 

 

  • Ciri-ciri Umum

Tubuh terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala, dada, dan perut. Insekta merupakan satu-satunya invertebrata yang dapat terbang, dengan ukuran tubuh yang beragam.

Insekta memiliki beberapa ciri antara lain:

  1. Tubuh terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaput (kepala), toraks (dada), dan abodemen (perut).
  2. Memiliki sepasang kaki pada setiap segmen toraks, sehingga jumlah kakinya tiga pasang dan berfungsi untuk berjalan.
  3. Kebanyakan insekta memiliki sayap pada segmen kedua dan segmen ketiga di daerah dada, pada jenis lain sayapnya tereduksi bahkan ada yang tidak memiliki sayap.
  4. Mempunyai sepasang sayap kecuali Anoplura, Mallophaga dan Siphonaptera.
  5. Makanan insekta ada yang berupa sisa organisme lain, ada yang hidup sebagai parasit dalam tubuh (tumbuhan, hewan bahkan manusia), serta bersimbiosis dengan organisme lain.
  6. Alat pernapasan insekta berupa trakea.
  7. Alat ekresi berupa tubulus malpighi yang terletak melekat pada bagian posterior saluran pencernaan.
  8. Sistem sirkulasinya terbuka.
  9. Organ kelamin insekta berumah dua artinya insekta jantan dan insekta betina terpisah, alat kelaminnya terletak pada segmen terakhir dari abodemen .
  10. Fertilasi terjadi secara internal.
  11. Insekta mengalami ekdisis pada tahap tertentu selama perkembangan hidupnya.
  12. Mempunyai sepasang antenna.
  13. Perangkat mulut telah mengalami perkembangan dan penyesuaian sedemikian rupa sehingga dikenal berbagai ragam tipe seperti menggigit/mengunyah, menusuk, menghisap, menyerap dan sebagainya.
  • Struktur Tubuh Insekta

Insekta memiliki struktur tubuh sebagai berikut:

  • Kepala (caput)

Pada kepala insekta terdapat sepasang antena, sepasang mata majemuk (mata facet), kadang-kadang ditemukan juga mata tunggal (ocellus), dan mulut. Sedangkan mulut tersusun dari sepang mandibula, tiga pasang maksila, bibir, atas (labrum), bibir bawah (labium) yang berbeda-beda tergantung dari bentuk mulutnya, serta organ perasa (palpus). Bentuk kepala insekta dapat dibedakan berdasarkan bentuk mulut dan makanan yang dimakannya.

  • Dada (toraks)

Dada terdiri dari tiga segmen atau ruas yang terlihat jelas, yaitu dari depan prothoraks, mesothoraks, dan metathoraks dan pada setiap segmen terdapat sepasang kaki, sayapnya terdapat mesothoraks dan metathoraks. Pada insekta yang bersayap sepasang, sayap belakangnya mereduksi, mengecil dan disebut halter yang berfungsi sebagai alat keseimbangan. Tubuh insekta diperkuat dengan rangka luar atau eksoskelet dari chitine.

Susunan kaki pada insekta terdiri-dari ruas-ruas yaitu :

  1. Panggul (coxa)
  2. Gelang paha (trokanter)
  3. Paha (femur)
  4. Ruas betis (tibia)
  5. Ruas-ruas kaki (tarsus)
  • Perut (abdomen)

Pada perut insekta ada sebelas segmen, pada stadium embrio segmen ditemukan lengkap, tetapi pada bentuk dewasa segmen dibagian poeterior menjadi alat reproduksi. Abdomen dalam bentuk dewasa tidak berkaki tetapi pada stadium larva mempunyai kaki. Pada abdomen terdapat spirakel, yaitu lubang pernapasan yang menuju tabung trakea. Anatomi internal terdiri beberapa sistem organ yang kompleks, yaitu sistem pencernaan, sistem pernapasan, sistem sirkulasi, sistem pengeluaran zat, dan sistem saraf.

 

  • Fisiologi
  • Sistem Sirkulasi

Sistem sirkulasi insekta berupa sistem sirkulasi terbuka dengan organ sebuah jantung. Alat peredaran darah jantung ini yang memompa darah dari belakang ke depan melalui aorta dan terus beredar ke seluruh tubuh. Darah serangga tidak mengandung haemoglobin dan hanya berfungsi untuk mengangkut zat makanan, menghantarkan nutrien, sisa merabolisme dan hormon, memusnahkan bibit penyakit yang masuk kedalam tubuh, mempompa hemolimfa melalui sinus homesoel kemudian menyuplai organ-organ dan jaringan-jaringan.

  • Sistem Respirasi

Sistem respirasi terdiri atas sistem cabang (jaringan) dari pembuluh-pembuluh yang disebut trakea. Trakea tersebut ke bagian luar berhubungan dengan lubang pernafasan yang terletak dibagian perut dan dada yang disebut stigmata (spirakel) dengan percabangannya disebut trakeol. Melalui trakeol inilah udara disuplai ke seluruh jaringan tubuh dan karbondioksida dibawa keluar. Sistem saraf merupakan sistem tangga tali, terdiri atas ganglion otak (tiga pasang di kepala), ganglion kerongkongan, ganglion perut, dan ganglion dada. Dimana sistem trakea yang berupa tabung bercabang yang dilapisi kitin. Oksigen masuk secara langsung dari trakea ke sel-sel tubuh. Sistem trakea membuka ke bagian luar tubuh melalui spirakel, yaitu pori-pori yang dapat membuka dan menutup untuk mengatur aliran udara dan membatasi hilangnya air.

  • Sistem Pengeluaran Zat (ekskresi)

Sistem pengeluaran insekta berupa tubulus malphigi yang melekat pada bagian posterior saluran pencernaan yang berfungsi mengeluarkan sisa metabolisme berupa cairan. Saluran malpigi bermuara pada usus belakang dan akhirnya cairan dari saluran ini dibuang melalui anus seperti pada semut. Apabila kita perhatikan Famili formicidae (semut), maka mereka akan meningalkan jejak dengan aroma feromon.

  • Sistem Saraf

Sistem saraf insekta terdiri dari pasangan tali saraf ventral dengan beberapa ganglia segmental. Beberapa segmen ganglia anterior menyatu membentuk otak yang terletak dekat dengan antena, mata, dan organ indera lain yang terpusat dikepala. Berfungsi untuk menghasilkan dan mengalirkan implus elektrik, mengintegrasikan informasi yang diterima dan menstimulasi otot untuk pergerakan.

Sistem ini dibagi menjadi dua yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf visceral atau sistem saraf stomodial. Organ indera serangga meliputi organ fotoreseptor, kemoreseptor dan mekanoreseptor.

  • Sistem Pencernaan Serangga

Sistem pencernaan serangga sesuai dengan cara hidupnya, dibagi dalam 3 daerah utama yaitu :

  1. Usus depan (foregut) atau stomodaeum berasal dari ektodermal. Daerah ini dibagi menjadi pharing, oesophagus, crop, dan proventrikulus.
  2. Usus tengah (midgut) atau mesenteron berasal dari endodermal. Daerah ini hanya meliputi ventrikulus.
  3. Usus belakang (hingut) berasal dari ektodermal. Daerah ini terdiri dari ileum, rektum dan anus.
  • Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi pada serangga terdiri atas alat kelamin jantan dan betina. Alat kelamin jantan terdiri atas dua buah testis yang masing-masing dihubungkan oleh vas deferen yang akan bersatu membentuk saluran ejakulasi yang terbuka ke permukaan dorsal. Alat kelamin betina terdiri atas dua buah ovarium dengan sejumlah tabung-tabung telur yang disebut ovariola. Ovariola tersebut melekat dibagian posterior pada oviduk.

Dua oviduk akan bersatu membentuk vagina pendek, diteruskan ke porus genital yang terdapat di antara peletak telur (ovipositor). Di daerah vagina juga terdapat kantong penerima sperma (spermateka). Reproduksi secara internal dan sel telur yang telah dibuahi akan dilepaskan (ovipar).

 

  • Siklus Hidup

Dalam proses menuju kedewasaannya dikenal ada pergantian bentuk yang disebut metamorfosis. Ada tiga bentuk metamorfosis pada serangga yaitu :

  1. Ametabola adalah perkembangan yang hanya berupa pertambahan ukuran saja tanpa perubahan wujud. Contohnya kutu buku (Lepisma saccharina).
  2. Hemimetabola (metamorfosis tidak sempurna), tahap perkembangan Insecta yang tidak sempurna, dimana Insecta muda yang menetas mirip dengan induknya, tetapi ada organ yang belum muncul, misalnya sayap. Sayap itu akan muncul hingga pada saat dewasa hewan tersebut. Fase dimulai dari telur – larva (nimfa) – dewasa (imago). Tanpa fase pupa. Misalnya Orthoptera, Hemiptera dan Odonata). Contoh Insecta ini adalah belalang, kecoa (Periplaneta americana), jangkrik (Gryllus sp), dan walang sangit (Leptocorisa acuta).
  3. Holometabola (metamorfosis sempurna), adalah perkembangan Insecta dengan setiap tahap menunjukan perubahan wujud yang sangat berbeda (sempurna dimulai dari fase telur – larva – pupa – imago. Larvanya berbentuk ulat tumbuh dan mengalami ekdisis beberapa kali. Setelah itu larva menghasilkan pelindung keras disekujur tubuhnya untuk membentuk pupa. Pupa berkembang menjadi bagian tubuh seperti antena, sayap, kaki, organ reproduksi, dan organ lainnya yang merupakan struktur Insecta dewasa. Selanjutnya, Insecta dewasa keluar dari pupa. Misalnya: Coleoptera, Diptera, Hymenoptera, dan Lepidoptera. Contoh Insecta ini adalah kupu-kupu, lalat, dan nyamuk.

 

Serangga memiliki siklus hidup baik melalui metamorfosis lengkap atau tidak lengkap. Metamorfosis lengkap memiliki tiga tahap utama: telur, nimfa, dan dewasa.

  1. Telur – Sebuah serangga betina bertelur. Telur-telur ini sering dibahas oleh kasus telur, yang melindungi telur dan memegang mereka bersama-sama.
  2. Nymph – Telur menetas menjadi nimfa. Peri terlihat seperti orang dewasa kecil, tapi biasanya tidak memiliki sayap. Nimfa gudang atau meranggas exoskeletons mereka (casing luar yang terbuat dari zat keras yang disebut kitin) dan menggantinya dengan yang lebih besar beberapa kali saat mereka tumbuh. Kebanyakan nimfa meranggas 4-8 kali.
  3. Dewasa – Serangga berhenti molting ketika mereka mencapai ukuran dewasa. Pada saat ini, mereka juga tumbuh sayap.

 

  • Habitat

Kebanyakan serangga yang mendarat di air terperangkap oleh tegangan permukaan air, dan yang kecil bahkan dapat tenggelam di dalam tetesan air, tidak mampu untuk keluar dari permukaan gelembung. Serangga air mengatasi dengan memiliki waterproofed kulit sehingga sejumlah besar air tawar tidak berdifusi ke dalam tubuh. Banyak ditutupi dengan lapisan lilin yang menolak air. Mereka juga biasanya memiliki kaki berbulu atau lilin, yang mengusir air sehingga mereka tidak terjebak oleh tegangan permukaan air.

Invertebrata air bergantung pada saat ini untuk membawa nutrisi turun dari hulu, hilir dan limbah siram. Tercepat saat ini tepat dibawah permukaan, dan paling lambat di atas dan di sepanjang bagian bawah (akibat gesekan dengan udara dan substrat). Tanah sekitar wilayah pengaruh debit. Jika suatu daerah dapat menyerap hujan deras, maka debit dapat relatif stabil. Namun, jika sungai dikelilingi oleh permukaan kedap, seperti tempat parkir beton atau jalan-jalan, debit bisa sangat tidak menentu dan tinggi (dan suhu bisa hangat). Seperti air mengalir di atas bebatuan, lapisan batas pelindung, sekitar 1-4 mm, dibentuk di mana kecepatan arus jatuh secara dramatis.

 

  • Klasifikasi Insekta

Berdasarkan tipe makanannya serangga dikelompokkan sebagai:

  1. Fitofagus memakan tumbuhan misalnya jaringan daun, batang dan akar.
  2. Zoofagus memakan hewan lain termasuk vertebrata atau infertebrata
  3. Serangga saprofagus memakan materi-materi organik yang telah mati termasuk colembola.

Berdasarkan ada tidaknya sayap, insekta dikelompokkan menjadi dua sub kelas yaitu :

  1. Insekta tidak bersayap, Insekta ini dikelompokkan dalam sub kelas Apterygota.
  2. Insekta bersayap dikelompokkan dalam sub kelas Pterygota.

Berdasarkan metamorfosisnya insekta dibedakan menjadi dua yaitu:

  1. Hemimetabola
  2. Holometabola

Klasifikasi Insekta:

  1. Berdasarkan Ada Tidaknya Sayap Insekta
  2. Sub kelas Apterygota (tidak bersayap)

Jenis-jenis dalam ordo ini adalah makhluk-makhluk yang tidak bersayap, berukuran kecil sampai metamorfosis sederhana (Ametabola). Microcoryphia (Archeognatha) dan Thysanura (Zygentoma) adalah kerabat dekat dari serangga bersayap tetapi berbeda dalam banyak hal. Pada Microcoryphia dan Thysanura tidak terdapat sutura pleura, furka-furka dan fragmata. Microcoryphia dan Thysanura adalah ektognatus, yaitu bagian-bagian mulut agak terbuka dan tidak tertutup oleh lipatan-lipatan kranium. Ruas-ruas flagelum antena tanpa urat daging, tarsi tiga sampai lima ruas, biasanya terdapat mata majemuk dan tentorium cukup bagus berkembang. Strategi reproduksi pada serangga ini dengan pembuahan secara tidak langsung, yaitu dengan spermatofor, seperti pada ordo Diplura dan Collembola (Hexapoda entognatha).

Kedua jenis serangga ini mempunyai sifat primitif dibanding ordo lainnya yaitu vestigial (degeneratif), mempunyai sepasang embelan (styli), mempunyai caudal cerci, dan tidak bersayap secara primitif. Mereka juga punya sifat ‘maju’ (advanced) dengan memiliki alat mulut ectognatha dan antena musculate (scape dan pedicel dengan otot dalam).

Sub kelas Apterygota ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Tidak bersayap.
  • Tidak mengalami metamorfosis (ametabola).
  • Tipe mulutnya menggigit.
  • Batas antara kepala, dada, dan perut tidak jelas.
  • Antenanya panjang tidak beruas-ruas.
  • Contoh speciesnya yaitu kutu buku (Lepisma sacharina)
  • Kutu buku dapat merusak buku karena dapat mengeluarkan enzim selulase

Sub kelas apterygota terdiri atas beberapa ordo diantaranya :

  1. Ordo Protura

Protura berasal dari kata “proto-” yang berarti pertama atau awal, dan “-ura” atau ekor, merujuk pada tiadanya bangunan atau alat yang terdapat pada ujung abdomen seperti layaknya artropoda lain.

Gambar 8.14 Eosentomon dawsoni (Protura) (massey.ac.nz)

Heksapoda ini dicirikan oleh tubuhnya yang  pucat; tidak mempunyai mata dan antena sebagaimana layaknya artropoda lain; kepala berbentuk mirip kerucut. Alat mulut tipe menghisap dan alat mulut tersebut dapat ditarik masuk ke dalam kepala. Pasangan kaki depan biasanya diadakan di depan tubuh dan tampaknya berfungsi sebagai organ-organ indera. Protura baru menetas memiliki sembilan segmen perut. Setiap kali mereka berganti bulu, segmen lain yang ditambahkan di dekat akhir perut sampai mereka dewasa (dan seksual dewasa) dengan 11 segmen perut. Sepanjang pertumbuhan dari nimfa awal hingga dewasa, Protura melewati lima instar melalui proses yang disebut anamorfosis, yaitu menambahkan jumlah abdomen sampai total ruas pada setiap instarnya. Stadia maturus adalah stadia di antara nimfa dan imago (dewasa), dan pada stadia ini, jumlah ruas abdomennya sudah mencapai 11.

Artropoda yang berukuran kecil (panjang tubuhnya kira-kira 0,5 – 2,0 mm) berwarna keputih-putihan  ini hidup di dalam bahan-bahan organik dan memakan cendawan mikoriza, bahan-bahan tumbuhan yang membusuk dan sejenisnya. Oleh karena itu, para ahli menduga bahwa heksapoda ini penting dalam proses perombakan bahan organik.

Ordo protura dibagi menjadi 3 famili yaitu:

  1. Eocentomidae

Mempunyai trachea  dengan dua pasang spirakulum pada thorax. Alat tambahan pada abdomen mempunyai sebuah terminal vesicle.

  1. Protentomidae

Tidak mempunyai trachea dan spirakulum.  Alat tambahan pada abdomen mempunyai dua pasang terminal vesicle.

  1. Acerentomidae

Tidak mempunyai trachea dan spirakulum. Alat tambahan pada abdomen hanya pasangan pertama yang mempunyai terminal vesicle.

  1. Ordo Collembola

Nama ordo ini berasal dari gabungan kata Yunani cole– yang berarti lem atau perekat, dan –embolon yang berarti pasak. Collembola tidak bersayap, tubuh kecil umumnya berwarna hitam  mempunyai sepasang antena, tiga pasang kaki, dan beberapa mempunyai mata yang terdiri dari ommatidia.

Collembola berupa serangga kecil, panjang tubuh kurang dari 6 mm, alat mulut disesuaikan untuk menggigit, antena 4 ruas, tidak memiliki mata majemuk. Abdomen berjumlah 6 ruas, pada ruas abdomen keempat terdapat furcula (ekor pegasyaitu alat untuk meloncat. Pada waktu istirahat, furcula dilipat di bawah abdomen dan dijepit oleh tenaculum yang terdapat pada ruas abdomen ketiga. Pada ruas abdomen kesatu terdapat kolofor (collophore), suatu struktur yang berperan dalam pengambilan air. Tidak mempunyai sistem trakea dan tidak mengalami metamorfosis.

Banyak Collembola memiliki ommatidia sampai 8 pada kepala, sedangkan yang lainnya berkurang atau sama sekali tidak mempunyai (buta). Serangga ini ditemukan di tanah, pada daun tanaman yang telah membusuk (serasah), di antara herba, di bawah kulit kayu dan sebagainya. Hewan ini memiliki peranan penting pada bahan-bahan yang membusuk (bangkai), jarang yang bertindak sebagai hama.

Gambar 8.16 Morfologi Collembola

 

Colembolla dibagi menjadi 2 sub ordo berdasarkan bentuk tubuh dan sifat abdomenya yaitu:

  1. Sub ordo Arthropleona

Tubuhnya panjang, abdomen terdiri dari 6 ruas yang jelas, sub ordo ini dibagi menjadi 4 famili yaitu: Poduridae, Onychiuridae, Isotomidae dan Enthomobrydae.

Sub ordo Arthropleona terdiri dari:

Famili Produridae

Perkembang dengan baik, dapat dilihat dari atas dan mempunyai rambut atau setae sebelah dorsal. Mempunyai mata. Ruas antena ketiga hanya mempunyai alat perasa seperti papila,ruas ke 14 mempunyai terminal vesicle yang dapat ditarik. Kulitnya tidak mempunyai pori yang tersebar teratur.

Famili Onychiuridae

Sifat prothoraxnya sama dengan Poduridae. Tidak mempunyai mata. Ruas antena ketiga mempunyai dua atau tiga alat perasa berbentuk kerucut dan alat perasa seperti papila. Ruas antena keempat ada yang mempunyai terminal vesicle ada yang tidak. Kulitnya berpori yang tersebar.

Famili Entomobrydae

Entomobryidae merupakan Familia yang terbesar dari ordo Collembola.  Berwarna kecoklat-coklatan atau keputih-putihan dan beberapa jenis ada yang berwarna belang. Memiliki antena panjang, memiliki abdomen 6 ruas dan ruas abdomen keempat sangat besar. Protoraks menyusut, biasanya tidak terlihat dari atas dan tidak memiliki rambut-rambut duri atau seta di bagian dorsal. Tubuh bersisik dan jika ada seta bentuknya seperti gada. Furkula berkembang dengan baik. Contoh, Tomocerus elongates dan Entomobrya sicia.

 

Famili Isotomidae

Isotomidae berwarna putih, putih kuning, dan hijau sampai biru, coklat dan ungu tua dengan garis-garis longitudinal atau pita-pita transversal. Tubuh memanjang, abdomen memiliki enam ruas yang jelas terlihat. Ruas abdomen ketiga dan keempat kira-kira sama panjang dengan panjang garis tengah ruas abdomen ketiga. Tubuh tidak bersisik dan jika memiliki seta bentuknya sederhana. Furkula seringkali menyusut

Gambar 8.17 Isotomurus tricolor

 

  1. Sub ordo Symphypleona

Tubuhnya oval atau bulat, keempat ruas abdomen berfusi menjadi satu, sedang ruas kelima dan ke enam membentuk apikal papila yang kecil. Sub ordo ini hanya terdiri dari satu famili yaitu Smynthuridae yang ciri-cirinya seperti sub ordonya.

 

 

  1. Ordo Thysanura (Kutu Buku, Renget)

Serangga ini disebut dengan serangga perak memiliki ukuran sedang sampai kecil, biasanya bentuknya memanjang dan agak gepeng, mempunyai embelan-embelan seperti ekor pada ujung posterior abdomen. Tubuh hampir selalu ditutupi oleh sisik-sisik, tipe mulut adalah mandibulata yang berfungsi untuk mengigit, mata majemuk kecil dan sangat lebar terpisah, mata tunggal ada atau tidak ada, tarsi 3-5 ruas, embelan seperti ekor terdiri dari sersi dan sebuah filamen ekor median.  Abdomen beruas 11, pada ujung abdomen terdapat dua atau tiga embelan yang menyerupai ekor dan pada beberapa ruas abdomennya terdapat stili. Cercus terdapat satu pasang yang beruas banyak. Pernapasan pada Thysanura dengan sistem trakea. Serangga ada yang mengalami metamorfosis sederhana atau tidak mengalami metamorfosis.

Habitat dari serangga ini terdapat pada kulit kayu, gua-gua, di bawah tanah, lubang-lubang mamalia dan beberapa jenis yang jinak menghuni gedung-gedung, tapi umumnya hidup bebas ditempat yang lembab dan beberapa hidup berasosiasi dengan semut. Mereka makan segala macam substansi yang bertepung dan seringkali sebagai hama. Pada perpustakaan mereka memakan kertas-kertas di toko-toko mereka makan sayuran dan makanan yang mengandung tepung.  Di pemukiman mereka makan pakaian yang bertepung, gorden, sutra dan kertas dinding, ordo ini bersifat omnivora (kapang dan bahan-bahan yang mengandung pati).  Serangga ini sangat aktif dan bergerak dengan cepat, dengan tipe tungkai cursorial. Beberapa famili yang sering dijumpai adalah Lepismatidae, Lepidoctrichidae dan Nicoletilidae. Ordo Tysanura dibagi menjadi 4 famili:

Famili Lepidotrichidae

Mempunyai mata facet kecil, letak keduanya terpisah lebar. Mempunyai ocelli. Coxa kaki tengah dan belakang tidak mempunyai styli. Tarsus beruas 5. Letak styli abdomen bervariasi. Tubuhnya ada yang tertutup sisik ada yang tidak. Serangga pelari.

 

 

 

Famili Nicoletiidae

Tidak mempunyai mata facet dan ocelli. Coxa kaki tengah dan belakang tidak mempunyai styli, tarsi beruas 3 atau 4. Letak styli abdomen bervariasi. Tubuhnya ada yang tertutup sisik ada yang tidak.

Famili Lepismatidae

Mempunyai mata facet yang kecil dan letak keduanya terpisah, tidak mempunyai ocelli. Coxa kaki tengah dan belakang tidak mempunyai styli, tarsi beruang 3 atau 4. Letak styli abdomen bervariasi. Tubuh selalu tertutup sisik.

Famili Machilidae

Mempunyai mata facet yang besar dan letak keduanya berdekatan. Coxa kaki tengah dan belakang mempunyai styli, tarsi beruas 3. Abdomen mempunyai styli yang terletak pada ruas kedua sampai ke sembilan. Serangga pelompat.

Gambar  8.18 Famili Machilidae

 

  1. Ordo Archeognatha (Microcoryphia)

Microcoryphia serupa dengan serangga perak pada ordo Thysanura, tetapi mereka lebih silindris dengan thoraks agak melengkung, mata majemuk besar dan bersinggungan, terdapat mata tunggal, masing-masing mandibel memiliki satu titik artikulasi dengan kapsula kepala, tarsi tiga ruas dan koksa-koksa tengah dan belakang biasanya mengandung stilus-stilus.  Sebagian dengan eversible vesicles dekat stili di abdomen.

Serangga ini hidup di daerah rumput atau hutan di bawah daun-daunan, di bawah kulit kayu, batu-batuan, karang dan tempat-tempat yang serupa. Kebanyakan mereka adalah binatang malam dan matanya bercahaya pada waktu malam bila disinari dengan lampu. Serangga ini sangat aktif dan meloncat bila diganggu, dengan menggunakan tungkainya yang bertipe cursorial.  Tubuh ditutupi oleh sisik-sisik yang kadang-kadang membentuk pola-pola yang jelas, makanannya adalah ganggang, lumut, buah-buahan yang membusuk dan bahan-bahan yang serupa.  Famili dari ordo ini adalah Machilidae dan Meinertellidae.

  1. Ordo Diplura

Nama Diplura berasal dari bahasa Yunani, diplo– yang berarti dua, dan –uros yang berarti ekor. Panjang tubuh heksapoda ini kira-kira 2-5 mm, meskipun genus Japyx dapat mencapai panjang tubuh 20 mm.

Diplura mirip Thysanura, tetapi diplura tidak memiliki filamen ekor bagian median dan hanya mempunyai dua filamen atau embelan pada ekornya. Tubuh Diplura biasanya tidak tertutup dengan sisik, tidak terdapat mata majemuk dan mata tunggal. Tarsi memiliki satu ruas, dan bagian-bagian mulut terdiri dari mandibula dan tertarik ke dalam kepala. Terdapat stili pada ruas-ruas abdomen 1-7 atau 2-7. Memiliki panjang tubuh kurang dari 7 mm, dan biasanya berwarna pucat. Terdapat di tempat-tempat lembab di dalam tanah, di bawah kulit kayu, di bawah batu-batuan, pada kayu yang sedang membusuk, dan di tempat-tempat lembab lainnya.

Kebanyakan spesies Diplura adalah pemakan, sekaligus perombak bahan organik, meskipun beberapa kelompok, misalnya anggota famili Japygidae, dikategorikan sebagai predator pada Collembola, isopoda, dan artropoda kecil yang lain.

 

Gambar 8.18 Ordo Diplura

 

  1. Sub Kelas Pterygota (Bersayap)

Merupakan kelompok insekta yang sayapnya berasal dari tonjolan luar dinding tubuh yang disebut Eksopterigota. Kelompok lain yang sayapnya berasal dari tonjolan dalam dinding tubuh disebut Endopterigota.

Sub kelas Pterygota ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Memiliki sayap.
  • Mengalami metamorfosis.
  • Tipe mulutnya bervariasi.

Berdasarkan asal tumbuhnya sayap sub kelas Pterygota dibedakan menjadi dua kelompok, yakni:

Eksopterygota, adalah kelompok Insekta yang sayapnya berasal dari tonjolan luar dinding tubuh. Berdasarkan tipe sayap, tipe mulut, dan metamorfosisnya, eksopterygota dibedakan menjadi beberapa ordo yaitu ordo Isoptera, ordo Orthoptera, ordo Hemiptera, ordo Odonata.

Endopterygota, adalah kelompok Insekta yang sayapnya berasal dari tonjolan kearah dalam dinding tubuh. Berdasarkan tipe sayap, tipe mulut, dan metamorfosisnya, endoptrygota dibedakan menjadi beberapa ordo yaitu ordo Coleoptera, ordo Hymenoptera, ordo Diftera, ordo Lepidoptera, ordo Shiponaptera.

 

 

Eksopyterygota

  1. Ordo Isoptera.

Isoptera berasal dari bahasa Latin iso = sama, pteron = sayap yang berarti Insekta bersayap sama.

Ciri-ciri lain yang dimiliki oleh ordo Isoptera adalah :

  • Memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan ukurannya sama.
  • Mengalami metamorfosis tidak sempurna.
  • Tipe mulut menggigit.
  • Cara hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu yang disebut polimorfisme. Pembagian tugas itu adalah raja, ratu dan prajurit atau tentara.
  • Contoh : Helanithermis sp. (rayap).

 

Gambar 8.19 Helanithermis sp.

 

  1. Ordo Orthoptera

Orthoptera berasal dari bahasa Latin orthop = lurus, pteron = sayap yang berarti Insekta bersayap lurus. Othoptera berarti bersayap lurus, serangga yang tergolong dalam ordo ini melipatkan sayapnya pada saat istirahat secara lurus di atas tubuhnya. Ukuran tubuh sedang sampai besar. Banyak diantaranya yang menjadi hama tanaman pertanian, ada pula yang bersifat sebagai predator.

Bentuk tubuh bulat panjang dengan kepala hypognathus. Mata majemuk jelas dan besar dengan dua atau tiga mata tunggal (ocelli) atau juga tanpa mata tunggal. Antena relatif panjang dan banyak spesies yang antenanya melebihi panjang tubuhnya dengan ruas yang banyak. Mulut bertipe penggigit pengunyah. Dada mengalami pengerasan yang kuat. Pada Orthoptera, serangganya ada yang bersayap ada juga yang tidak bersayap.

Serangga yang bersayap terdiri dua pasang sayap. Sayap depan memanjang mempunyai jejari (vena) sayap yang banyak dan teksturnya menebal agak kaku disebut tegmina. Tekstur sayap belakang seperti selaput dan lebar dengan banyak jejari. Tungkai belakang lebih besar dan panjang daripada kedua tungkai yang depan. Tungkai tersebut dengan femur yang besar untuk meloncat (tipe saltatorial). Terdapat pula dengan jenis dengan tungkai besar dan lebar berfungsi untuk menggali (tipe fossorial) pada Gryllotalpidae.

Abdomen umumnya terdiri atas banyak ruas. Pada Orthoptera yang menghasilkan suara biasanya terdapat timpana pada ruas abdomen pertama (misal belakang). Ovipositor pada beberapa jenis bentuknya panjang seperti jarum, tetapi pada beberapa jenis yang lain pendek dan tersembunyi. Ada pula yang bentuknya seperti pedang. Perkembangbiakannya secara perkawinan dan mengalami metamorphosis sederhana. Serangga muda dan dewasa mempunyai habitat dan makanan yang sama. Umumnya fitofag dan beberapa zoofag dan bahkan ada yang bersifat kanibal. Ordo Orthoptera dibagi menjadi 6 subordo yaitu subordo Caelifera, Ensifera, Mantodae, Phasmatodae, Blattodae dan Grylloblattodae. Dari 6 subordo dibagi menjadi famili antara lain beberapa disebutkan di bawah ini dengan contoh spesiesnya, yang erat hubungannya dibidang pertanian baik sebagai hama atau predator.

Ciri umum Orthoptera adalah salah satu ordo dari kelas Insecta

  • Tubuh bersegmen /beruas/berbuku buku
  • Tersusun atas segmen kepala (Chepalo), segmen dada (Thorax) dan segmen perut (Abdomen) sehingga ke tiga segmen itu terpisah
  • Jumlah kaki 3 pasang, berada di bagian dada (Thorax) maka disebut Hexapoda
  • Di bagian Thorax juga di lengkapi sayap
  • Tripoblastik selomata
  • Simetri bilateral
  • Eksoskeleton
  • Bersegmen
  • Sistem pencernaan : mulut, esophagus, lambung, usus, dan anus
  • Sistem respirasi : insang / paru-paru / trakea
  • Sistem ekskresi : saluran / tubula Malpighi
  • Sistem saraf : tangga tali
  • Sistem gerak : otot dan rangka eksokeleton
  • Sistem reproduksi : Aseksual : parthenogenesis, Seksual : gamet (dioseus)
  • Sistem sirkulasi : sistem peredaran terbuka (jantung, pembuluh pendek, sinus / hemosol, hemolimfe) artinya darah beredar di luar pembuluh sehingga darah bergerak bebas dari hempasan jantung keluar jantung ke sel seluruh tubuh dan kembali ke jantung dengan tekanan otot tubuh
  • Darah hanya membawa Sari makanan tanpa Oksigen karena O2 bisa langsung akses ke sel tubuh karena dialirkan ke Tracheo hingga ke sel
  • Darah tidak berwarna merah karena tidak mempunyai Hb karena memang tidak diperlukan

 

Ciri khas Ordo Orthoptera:

  • Termasuk Exopterygota
  • Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain dan ada yang sebagai hama-hama pada tanaman budidaya
  • Beberapa adalah pemangsa dan sedikit sebagai pemakan bahan organik yang membusuk, dan beberapa lagi sebagai omnivora.
  • Orthoptera ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap, yang bersayap biasanya mempunyai empat buah sayap.
  • Sayap depan Orthoptera ini khas biasanya memanjang lebih sempit, memiliki banyak rangka dan agak menebal, yang biasa disebut tegmina.
  • Sayap belakang berselaput tipis (membranus) dan melebar dengan vena-vena yang teratur dan banyak rangka-rangka sayap.
  • Ketika istirahat biasanya sayap belakang dilipat seperti kipas dibawah sayap depan.
  • Tubuhnya memanjang, sersi bagus, antena relatif panjang dan memiliki banyak ruas.
  • Tungkai belakang saltatorial, yang digunakan untuk meloncat.
  • Beberapa dari serangga ini dikenal dengan serangga penyanyi (belalang dan jengkerik) Suara ini biasanya digunakan untuk memanggil betina dan sebagai perilaku agresif yang menunjukan daerah kekuasaan
  • Suara dihasilkan dari gesekan satu bagian tubuh kebagian lainnya. Nyanyian-nyanyian belalang dan jengkerik mempengaruhi tingkah laku mereka.
  • Betina dari Orthoptera mempunyai suara yang empuk, tetapi kebanyakan nyanyian dilakukan oleh yang jantan.
  • Orthoptera kebanyakan hanya bernyanyi pada malam hari.
  • Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah
  • Pada mulutnya memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya.
  • Metamorfosisnya tidak sempurna

 

Klasifikasi Ordo Orthoptera

Ordo Orthoptera terbagi dalam dua subordo:

  • Subordo Caelifera

Mempunyai antenna pendek, tarsi  memiliki dua atau lebih sedikit ruas, timpanum bila ada, terletak pada sisi-sisi ruas abdomen yang pertama.

Memiliki dua familia yaitu:

2.1.a. Familia Acrididae

Disebut juga belalang bersungut panjang (long-horned grasshoper) karena memiliki antenna lebih pendek dari panjang tubuhnya, tarsus 3 ruas, ovipositor pendek, dan alat pendengar (tympanum) terdapat pada sebelah sisi dari ruas abdomen pertama. Kaki belakang lebih panjang dibandingkan dengan kaki tengah dan kaki depannya. Kaki belakang berfungsi untuk meloncat.

Belalang jantan pada siang hari dapat mengeluarkan bunyi dengan cara menggesekkan femur kaki belakang dengan sisi bawah dari sayap depan karena pada sisi dalam dari femur kaki belakang terdapat semacam duri-duri atau dengan cara menggesekkan sisi depan dari sayap belakang dengan sisi belakang dari sayap depan. Serangga yang termasuk Acrididae pemakan tumbuh-tumbuhan atau herbivora. Contohnya:Locusta migratoria , Valanga nigricornis

  

Gambar 8.20 Locusta migratoria                Gambar 8.21 Valanga nigricornis

 

  • Sub ordo Ensifera

Mempunyai antenna panjang dengan 3 atau 4 ruas, timpana bila ada terletak pada ujung atas tibia depan. Ovipositor panjang berbentuk seperti pedang atau selindris.

Memiliki 5 familia yaitu:

2.2.a. Familia Tettigoniidae

Disebut juga belalang bersungut panjang (long-horned grasshoper) karena mempunyai antenna panjang menyerupai rambut. Ada yang tidak bersayap. Jika mempunyai sayap, sayap depan sebelah kiri  biasanya menutupi tepi sayap depan sebelah kanan. Biasanya sayap berwarna hijau. Serangga jantan dapat mengeluarkan bunyi dengan cara menggesekkan sayap depan sesamanya. Serangga ini aktif dimalam hari. Tarsus beruas 4, jika mempunyai alat pendengar maka alat pendengar tersebut terdapat pada dasar tibia kaki depan. Serangga betina memiliki ovipositor yang panjang, bentuknya pipih seperti pedang, sehingga serangga ini sering disebut belalang pedang. Contoh: Tettigonia viridissima dan Microcentrum rhombifolium.

 

 

Gambar 8.22 Tettigonia viridissima

2.2.b. Familia Gryllidae

Dalam familia ini tergolong beberapa jenis jangkrik. Serangga ini mempunyai antenna yang panjang, tarsus tidak lebih dari 3 ruas, mempunyai sepasang cercus yang panjang tidak beruas-ruas, ovipositor bentuknya silindris atau menyerupai jarum. Serangga jantan dapat menghasilkan bunyi dengan cara menggesekan sayap depan sesamanya dan serangga ini aktif malam hari. Contohnya : Brchytrypes megacephalus dan Gryllus mitratus

Gambar 8.23 Gryllus mitratus

2.2.c. Familia Gryllotalpidae

Berwarna kecoklatan, kaki depan sangat melebar dan kuat dan dapat digunakan untuk menggali. Mata tereduksi, ovipositor hilang, ada yang bersayap, ada yang bersayap kerdil dan ada juga yang tidak bersayap. Serangga ini hidup didalam lubang pada tanah yang lembab. Contonya: Gryllotalpa hexadactyla

Gambar 8.24 Hexadactyla

2.2.d. Familia Mantidae

Jenis serangga yang termasuk Mantidae disebut belalang sembah, berupa serangga dengan ukuran sedang sampai besar. Bentuk tubuhnya memanjang dan gerakkannya sangat lamban. Kepala kecil berbentuk segitiga dan dapat bergerak dengan bebas,  mempunyai mata majemuk yang besar. Protoraks memanjang, kaki depan banyak mengalami perubahan dan berfungsi untuk menangkap mangsa yang berupa serangga. Contoh : Mantis religiosa (belalang sembah)

Gambar 8.25 Mantis religiosa

2.2.f. Familia Blattidae

Terdiri atas serangga yang tergolong keco. Bentuk tubuhnya lonjong dan pipih. Pronotum besar sehingga menutupi kepala, mempunyai antenna yang panjang. Seranggga ini banyak terdapat di rumah, menyenangi tempat yang gelap dan makan berbagai jenis makanan. Contoh : Blatta orientalis dan Periplaneta Americana

                                 Gambar 8.26 Periplaneta Americana

Klasifikasi

Kingdom                       : Animalia

Phylum                          : Arthopoda

Class                              : Insecta

Ordo                              : Orthoptera

Upaordo                        : Ensifera

Super family                  : Grylloidea

Family                           : Gryllidae bolivar

 

 

  1. Ordo Hemiptera (bersayap setengah)

Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain. Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli. Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah.

Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Bentuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya.

Ciri-ciri lain yang dimiliki oleh ordo hemiptera adalah :

  • Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan satu pasang seperti berkulit dan sayap belakang transparan.
  • Mengalami metamorfosis tidak sempurna.
  • Tipe mulut menusuk dan menghisap.
  • Contoh: Kutubusuk (Cymex rotundus) dan Walang sangit (Leptocorisa acuta).

Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.27 (Leptorixa acuta)                      Gambar 8.28 (Nezara viridula L)

 

Klasifikasi:

Kingdom : Animalia

Phylum    : Arthopoda

Class        : Insecta

Ordo        : Hemiptera

Family     : Alydidae

Genus      : Leptocorixa

Spesies    : Acuta

  1. Ordo Homoptera (bersayap sama)

Anggota ordo Homoptera memiliki morfologi yang mirip dengan ordo Hemiptera. Perbedaan pokok antara keduanya antara lain terletak pada morfologi sayap depan dan tempat pemunculan rostumnya. Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus. Alat mulut juga bertipe pencucuk penghisap dan rostumnya muncul dari bagian posterior kepala. Alat-alat tambahan baik pada kepala maupun thorax umumnya sama dengan anggota Hemiptera.

Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman. Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti :

 

Gambar 8.29 (Nilaparvata lugens Stal.)        Gambar 8.30

(Aleurodicus destructor Mask)

 

Gambar 8.31 Kutu loncat lamtoro

( Heteropsylla sp)

 

  1. Ordo Odonata.

Ciri-ciri yang dimiliki oleh ordo homoptera adalah :

  • Mempunyai dua pasang sayap
  • Tipe mulut mengunyah
  • Metamorfosis tidak sempurna
  • Terdapat sepasang mata majemuk yang besar
  • Antenanya pendek
  • Larva hidup di air
  • Bersifat karnivora
  • Contohnya : Capung (Aeshna sp) dan Capung besar (Epiophlebia)

 

Gambar 8.32 Capung (Aeshna sp)     Gambar 8.33 Capung besar (Epiophlebia)

 

Klasifikasi:

Kingdom   : Animalia

Phylum      : Arthopoda

Class          : Insecta

Ordo          : Odonata

Family       : Alydidae

 

  1. Ordo Coleoptera

Coleoptera berasala dari bahasa Latin coleos = perisai, pteron = sayap, berarti insekta bersayap perisai. Anggota-anggotanya ada yang bertindak sebagai hama tanaman, namun ada juga yang bertindak sebagai predator (pemangsa) bagi serangga lain. Contohnya kumbang tanduk dan kutu gabah.

Ciri-ciri ordo Coleoptera adalah :

  • Memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan sayap belakang. Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang mengandung zat tanduk sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis seperti selaput.
  • Apabila istirahat, elytra seolah-olah terbagi menjadi dua (terbelah tepat di tengah-tengah bagian dorsal). Sayap belakang membranus dan jika sedang istirahat melipat di bawah sayap depan.
  • Mengalami metamorfosis sempurna.
  • Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong (pupa) —> dewasa (imago). Larva umumnya memiliki kaki thoracal (tipe oligopoda), namun ada beberapa yang tidak berkaki (apoda). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/libera.

 

Gambar 8.34 Kumbang tanduk (Orycies rhinoceros)

  1. Ordo Hymenoptera

Ciri-ciri ordo hymenoptera adalah :

  • Mengalami metamorfosis sempurna.
  • Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi flabellum sebagai alat pengisapnya.
  • Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur-> larva–> kepompong —> dewasa.
  • Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene (sepasang), mata facet dan occelli
  • Contoh : Lebah madu (Apis), tawon (Xylocopa latipes), semut hitam (Monomorium sp.). Anggota famili Braconidae, Chalcididae, Ichnemonidae, Trichogrammatidae dikenal sebagai tabuhan parasit penting pada hama tanaman. Beberapa contoh anggotanya antara lain adalah : Trichogramma sp. (parasit telur penggerek tebu/padi), Apanteles artonae (tabuhan parasit ulat Artona). Tetratichus brontispae Ferr. (parasit kumbang Brontispa).
  • Tipe mulut menggigit. Alat mulut bertipe penggigit-pengunyah, umumnya mandibula berkembang dengan baik. Pada beberapa jenis, khususnya dari suku Curculionidae alat mulutnya terbentuk pada moncong yang terbentuk di depan kepala.

 

 

Gambar 8.35 Lebah madu (Apis)    Gambar 8.36 Tawon (Xylocopa latipes)

 

  1. Ordo Diptera

Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk ganda dan disebut halter. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antenna dan mata facet.

Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap. Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :

  • bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum.
  • bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum.
  • bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.
  • Metamorfosisnya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva tidak berkaki (apoda_ biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator. Pupa bertipe coartacta.

Ciri-ciri ordo diptera adalah :

  • Memiliki satu pasang sayap depan dan sayap belakang mengalami redukasi membentuk halter (alat keseimbangan).
  • Mengalami metamorfosis sempurna.
  • Tipe mulut menusuk dan menghisap serta menjilat.
  • Dan memiliki tubuh ramping.
  • Contoh : Nyamuk rumah (Culex pipiens), nyamuk malaria (Anopheles sp.), nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti), lalat buah (Drosophila melanogaster), lalat tsetse (Glossina palpalis).

 

Gambar 8.37 Nyamuk (Culex sp)        Gambar 8.38

Lalat rumah (Musca domestica)

 

  1. Ordo Lepidoptera

Dari ordo ini, hanya stadium larva (ulat) saja yang berpotensi sebagai hama, namun beberapa diantaranya ada yang predator. Serangga dewasa umumnya sebagai pemakan/pengisap madu atau nektar.

Sayap terdiri dari dua pasang, membranus dan tertutup oleh sisik-sisik yang berwarna-warni. Pada kepala dijumpai adanya alat mulut seranga bertipe pengisap, sedang larvanya memiliki tipe penggigit. Pada serangga dewasa, alat mulut berupa tabung yang disebut proboscis, palpus maxillaris dan mandibula biasanya mereduksi, tetapi palpus labialis berkembang sempurna.

Metamorfose bertipe sempurna (Holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong —> dewasa. Larva bertipe polipoda, memiliki baik kaki thoracal maupun abdominal, sedang pupanya bertipe obtekta. Beberapa jenisnya antara lain :

Ciri-ciri ordo Lepidoptera adalah :

  • Memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus.
  • Mengalami metamorfosis sempurna.
  • Tipe mulut pada tahap larva menggigit, sedangkan pada tahap dewasa menghisap.
  • Mata fasetnya besar.
  • Contoh : Kupu-kupu Swallowtail, kupu-kupu sutera (Bombyx mori), kupu-kupu elang     (Acherontia atropos). Penggerek batang padi kuning (Tryporiza incertulas Wlk) Kupu gajah (Attacus atlas L) Ulat grayak pada tembakau (Spodoptera litura)

 

Gambar 8.39 Kupu sutera (Bombyx mori)   Gambar 8.40 (Acherontia atropos).

 

  1. Berdasarkan metamorfosisnya

Para Endopterygota,  juga dikenal sebagai Holometabola, adalah serangga dari subclass Pterygota yang melalui khas larva, pupa, dan tahap dewasa. Mereka menjalani radikal metamorfosis, dengan larva tahap dewasa dan berbeda jauh dalam struktur dan perilaku. Ini disebut holometabola atau metamorfosis lengkap.

Holometabola merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna. Tahapan dari daur serangga yang mengalami metamorfosis sempurna adalah telur – larva – pupa – imago. Larva adalah hewan muda yang bentuk dan sifatnya berbeda dengan dewasa. Pupa adalah kepompong dimana pada saat itu serangga tidak melakukan kegiatan, pada saat itu pula terjadi penyempurnaan dan pembentukan organ. Imago adalah fase dewasa atau faseperkembangbiakan.

Metamorfosis adalah suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik dan/atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. Perubahan fisik itu terjadi akibat pertumbuhan sel dan differensiasi sel yang secara radikal berbeda. Serangga yang melakukan holometabolisme melalui fase larva, kemudian memasuki fase tidak aktif yang disebut pupa, atau chrysalis, dan akhirnya menjadi dewasa. Holometabolisme juga dikenal dengan metamorfosis sempurna. Sementara di dalam pupa, serangga akan mengeluarkan cairan pencernaan, untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva.

Sistem organ pada Holometabola diantaranya adalah :

  • Sistem pernapasan

Organ pernapasan berupa trakea berspirakel yang terletak di kanan-kiri pada tiap ruas, sebagian larva bernapas dengan insang trakea pada bagian perutnya.

  • Sistem pencernaan makanan

Mulut→kerongkongan→lambung depan, lambung otot→lambung kelenjar→usus→anus (dubur). Makanan dicerna secara mekanis di lambung otot dan secara kimiawi di lambung kelenjar.

  • Sistem peredaran darah

Tipe sistem peredaran darahnya adalah terbuka (lakunair), tidak mempunyai pembuluh balik (vena). Darah tak mengandung hemoglobin (Hb) sehingga tidak mengangkut oksigen atau karbondioksida tetapi hanya berfungsi mengangkut makanan.

  • Sistem syaraf

Sistem syarafnya disebut tangga tali dengan penerima rangsangan berupa :

  1. mata faset (majemuk)
  2. alat pembuat suara dan alat pendengar
  3. alat yang menimbulkan cahaya
  • Sistem ekskresi

Pengeluaran zat sisa melalui pembuluh Malpighi.

  • Sistem reproduksi

Insecta kadang-kadang mengalami partenogenesis maupun paedogenesis. Fertislisasinya internal, artinya pembuahan sel telur oleh spermatozoid berlangsung di dalam tubuh induk betina.

Berdasarkan ciri sayap dan alat mulutnya, kelompok Holometabola ini meliputi 6 ordo:

  1. Ordo Neuroptera (serangga bersayap jala)

Memiliki ciri-ciri yaitu:

  • Serangga-serangga ini adalah serangga yang bertubuh lunak dengan empat sayap yang berselaput tipis yang memiliki sangat banyak rangka sayap yang melintang dan cabang-cabang ekstra rangka-rangka sayap longitudinal.
  • Sayap depan dan belakang memiliki bentuk dan kerangka sayap serupa dan biasanya diletakkan seperti atap diatas tubuh pada waktu istirahat.
  • Tipe alat mulut mandibulata.
  • Antena panjang dan terdiri dari banyak ruas.
  • Tarsi lima ruas dan tidak memiliki sersi.
  • Larva berbentuk compodeiform.
  • Kebanyakan larva sebagai pemangsa.
  • Habitat larvanya berbeda-beda, tergantung jenisnya beberapa kelompok aktif pada tanaman (=arboreal), contohnya aphid lions yang terlihat bebas dan sering melakukan kamuflase dengan reruntuhan/puing, beberapa hidup di tanah (=geophiles), contohnya ant-lions yang dikenal membuat lubang jebakan untuk mangsanya, dan sebagian lagi ada yang hidup di air (family Sisyridae), contohnya yang bersifat parasit pada freshwater sponges.
  • Neuroptera yang dewasa terdapat pada berbagai tempat.
  • Serangga ini pada saat pupa mempunyai mandibel besar, yang berfungsi untuk merobek kokon sehingga serangga dewasa dapat muncul.
  • Serangga dewasa adalah penerbang yang agak lemah, aktif pada tanaman, kadang-kadang ditemukan pada tempat terang/bercahaya.
  • Kebanyakan yang dewasa bersifat sebagai pemangsa.
  • Beberapa spesies dari serangga ini meletakkan telur seperti benang, peletakkan telur tersebut dapat menghindari pemangsaan oleh serangga lain dan diperkirakan dapat menghindari kanibalisme.
  • Contohnya : undur-undur (metamorfosisnya sempurna)

Gambar 8.41 Undur-undur

  1. Ordo Lepidoptera

Ciri-ciri ordo Lepidoptera adalah:

  • mempunyai 2 pasang sayap yang dilapisi sisik
  • metamorfosis sempurna, yaitu memiliki siklus hidup: telur-larva-pupa (kepompong)-imago
  • pupa pada Lepidoptera dapa dibagi dua, yaitu:
  1. pupa mummi: bagian badan kepompong terlihat dari luar
  2. pupa kokon : bagian tubuh pupa terlindung kokon
  • tipe mulut mengisap dengan alat penghisap berupa belalai yang dapat dijulurkan
  • Ordo Lepidoptera dibagi menjadi 2 sub ordo:
  • sub ordo Rhopalocera (kupu-kupu siang)

contohnya: hama kelapa (Hidari irava) dan hama daun pisang (Erionata thrax).

  • sub ordo Heterocera (kupu-kupu malam)

sering juga disebut ngengat. Hidup aktif pada malam hari. Jika hinggap kedudukan sayap mendatar membentuk otot.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.42 Hama kelapa (Hidari irava)  Gambar 8.43 sirama-rama  (Attacus atlas).

 

  1. Ordo Diptera (serangga bersayap dua buah/sepasang)

Ciri-ciri ordo Diptera:

  • Mempunyai sepasang sayap depan, dan satu pasang sayap belakang berubah menjadi alat keseimbangan yang disebut halter.
  • Mengalami metamorfosis sempurna.
  • Tipe mulut ada yang menusuk dan menghisap atau menjilat dan mengisap, membentuk alat mulut seperti belalai disebut probosis.
  • Metamorfosisnya sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia: telur→ larva→ kepompong→ dewasa.
  • Larva tidak berkaki (apoda) biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator.
  • Contohnya:Lalat (Musca domestica) dan Nyamuk biasa (Culex fatigans)

Gambar 8.44 Lalat (Musca domestica)     Gambar 8.45 Nyamuk biasa (Culex fatigans)

KLASIFIKASI

Kingdom : Animalia
Phylum   : Arthropoda
Class      : Hexapoda
Ordo      : Diptera
Family   : Muscidae, Sarchopagidae, Challiporidae, dll

 

  1. Ordo Coleoptera

Ciri-ciri ordo Coleoptera:

  • Mempunyai dua pasang sayap.
  • Sayap depan keras, tebal dan mengandung zat tanduk disebut dengan elitra, sayap belakang seperti selaput.
  • Mengalami metamorfosis sempurna.
  • Tipe mulut menggigit.
  • Contoh:Kumbang kelapa (Oryctes rhynoceros) menyerang pucuk kelapa, pakis, sagu, kelapa sawit dan lain-lain, kumbang buas air (Dytiscus marginalis), dan kumbang beras (Calandra oryzae)

 

Gambar 8.46 kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros)   Gambar 8.47 kumbang buas air ( Dytiscus m.)

  1. Ordo Shiponaptera

Ciri-ciri ordo shiponaptera adalah :

  • Tidak memiliki sayap.
  • Mengalami metamorfosis sempurna.
  • Tipe mulut menusuk dan menghisap.
  • Kakinya pipih panjang dan digunakan untuk meloncat.
    Contoh : Kutu manusia (Pulex irritans), kutu kucing (Stenossphalus felic).

 

8.48 Kutu manusia (Pulex irritans)

  1. Ordo Hymenoptera

Ciri-ciri ordo Hymenoptera :

  • Mempunyai dua pasang sayap, tipis seperti selaput.
  • Tipe mulut menggigit dan menjilat.
  • Larva tidak berkaki.
  • Metamorfosisnya sempurna ( holometabola ).
  • Segmen terakhir dari abdomennya ( perut ) berubah menjadi penyengat.
  • Contoh: Apis indica (lebah madu, biasa dipelihara manusia), Apis dorsata (lebah madu yang hidup di lubang kayu), Apis melifera (lebah madu terbesar, biasa disebut lebah gung), Oecophyla smaragdina (semut rangrang), Kumbang pengisap madu (Xylocopa) biasanya melubangi kayu pada bangunan rumah

Gambar 8.49 Lebah madu (Apis indica)

 

Kelompok Hemimetabola meliputi beberapa ordo, antara lain:

  1. Ordo Archyptera atau Isoptera

Ciri-ciri ordo Archyptera:

  • Metamorfosis tidak sempurna.
  • Mempunyai satu pasang sayap yang hampir sama bentuknya.
  • Kedua sayap tipis seperti jaringan.
  • Tipe mulut menggigit.
  • Contoh: Reticulitermis flavipes (rayap atau anai-anai)

Gambar 8.50 Reticulitermis flavipes

 

 

  1. Ordo Orthoptera (serangga bersayap lurus)

Ciri-ciri ordo Orthoptera:

  • Memiliki satu pasang sayap, sayap depan lebih tebal dan sempit disebut tegmina. Sayap belakang tipis berupa selaput. Sayap digunakan sebagai penggerak pada waktu terbang, setelah meloncat dengan tungkai belakangnya yang lebih kuat dan besar.
  • Hewan jantan mengerik dengan menggunakan tungkai belakangnya pada ujung sayap depan, untuk menarik betina atau mengusir saingannya.
  • Hewan betinanya mempunyai ovipositor pendek dan dapat digunakan untuk meletakkan telur.
  • Tipe mulutnya menggigit.
  • Contoh: Belalang (Dissostura sp)
  • Belalang ranting (Bactrocoderma aculiferum)
  • Belalang sembah (Stagmomantis sp)
  • Kecoak (Blatta orientalis) Gangsir tanah (Gryllotalpa sp)

 

Gambar 8.51 Belalang (Dissostura sp)

  1. Ordo Odonata

Ciri-ciri Ordo Odonata:

  • Mempunyai dua pasang sayap
  • Tipe mulut mengunyah
  • Metamorfosis tidak sempurna
  • Terdapat sepasang mata majemuk yang besar
  • Antenanya pendek
  • Larva hidup di air
  • Bersifat karnivora
  • Contohnya : Capung (Aeshna sp), Capung besar (Epiophlebia)

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.52 Capung (Aeshna sp)

 

  1. Ordo Hemiptera (bersayap setengah)

Ciri-cirinya ialah:

  • Mempunyai dua pasang sayap, sepasang tebal dan sepasang lagi seperti selaput.
  • Tipe mulut menusuk dan mengisap.
  • Metamorfosis tidak sempurna
  • Contohnya :Walang sangit (Leptocorisa acuta), Kumbang coklat (Podops vermiculata), Kutu busuk (Eimex lectularius), Kepinding air (Lethoverus sp)

 

Gambar 8.53 Walang sangit (Leptocorisa acuta)

 

  1. Ordo Homoptera (bersayap sama)

Ciri-ciri Homoptera :

  • Tipe mulut mengisap
  • Mempunyai dua pasang sayap
  • Sayap depan dan belakang sama, bentuk transparan.
  • Metamorfosis tidak sempurna.
  • Contohnya :Tonggeret (Dundubia manifera), Wereng hijau (Nephotetix apicalis), Wereng coklat (Nilapervata lugens), Kutu kepala (Pediculushumanus capitis), Kutu daun (Aphid sp)

Gambar 8.54 Kutu kepala (Pediculushumanus capitis)

 

  • Peranan Insekta Dalam Kehidupan

Peran yang menguntungkan, yakni :

  • Kupu-kupu atau lalat dapat membantu mempercepat proses penyerbukan pada tanaman berbuah.
  • Penghasil madu, yaitu lebah (Apis indica).
  • Penghasil bahan kain sutera, yaitu pupa kupu-kupu sutera (Bombyx mori).
  • Untuk dimakan, contohnya laron, gangsir dan larva lebah (tempayak) yang diperoleh hanya ketika secara musiman.
  • Merupakan mata rantai makanan yang amat penting bagi kehidupan.
  • Dengan habitat yang sangat luas insekta mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Peranan yang menguntungkan antara lain: penyerbukan tanaman oleh lebah atau insekta lain, tetapi ada juga yang merugikan misalnya: wereng coklat menyerang hektaran tanaman padi.

 

Peran yang merugikan, yakni :

  • Vektor beberapa penyakit pada manusia, misalnya Plasmodium, penyebab penyakit demam berdarah.
  • Menimbulkan gangguan pada manusia, misalnya kutu kepala (Pediculus capitis)
  • Sebagai hama tanaman pangan, misalnya wereng coklat (Nilaparvata lugens), walang sangit (Leptocorisa acuta)
  • Perusak gabah, oleh kutu gabah (Rhyzoperta doninica).
  • Perusak produk berbahan baku alam, misalnya rayap (Helanithermis sp.), dapat menghancurkan kayu-kayu karena didalam ususnya terdapat Protozoa yang bersimbiosis yaitu Trichonympha yang menghasilkan enzim pengurai selulosa, dan kutu buku (Lepisma sacharina).

CHELICERATA

 

Keliseforma atau Chelicerata (Subfilum Cheliceriformes, dari kata Yunani cheilos, bibir dan cheir, lengan) dinamai demikian berdasarkan tonjolan untuk menangkap makanan yang mirip cakar, disebut kelisera (chelicerae), yang berperan sebagai capit atau taring. Keliseriforma memiliki sebuah sefalotoraks anterior dan sebuah abdomen posterior. Mereka tidak memiliki antena, dan kebanyakan memiliki mata sederhana (mata dengan lensa tunggal).

Chelicerata merupakan salah satu subfilum paling besar dalam Arthropoda, mencakup kelas araknida (laba-laba), merostomata dan piknogonida (pycnogonida / pantopoda / pycnogonids). Keliseriforma (Chelicerata) paling awal adalah euripterid (eurypterid), atau kalajengking air. Predator yang hidup di laut dan perairan tawar ini tumbuh hingga panjangnya 3 m; diduga bahwa beberapa spesies mungkin berjalan di darat, mirip dengan kepiting masa kini. Kebanyakan keliseriforma laut, termasuk semua euripterid, telah punah. Di antara keliseriforma laut yang masih sintas hingga kini adalah laba-laba laut (piknogonid) dan mimi (horseshoe crab).

Chelicerata diduga mempunyai nenek moyang yang hidup di dalam air. Namun, jenis-jenis chelicerata dari laut maupun air tawar saat ini sangat jarang ditemukan dan hanya terbatas pada laba-laba laut dan mimi dan mintuno (horseshoe crabs) serta beberapa akuatik Acari dari kelompok Hydracari.

Saat ini, jumlah jenis yang dikenal hidup dan sudah ditemukan lebih dari 100.000 jenis telah diberi nama. Termasuk didalamnya jenis yang sangat mega-diverse yaitu Acari dan laba-laba (Araneae) yang dari tahun ke tahun jumlah temuan jenis baru terus meningkat secara drastis. Saat ini, dikenal ada sekitar 2000 jenis fosil Chelicerata dan hampir lebih dari 3/4 jumlahnya adalah kelompok Arachnida.

Fosil-fosil yang ditemukan di beberapa lokasi sangat bermanfaat untuk mengetahui umur tertua dari satu kelompok takson dalam kelompok Chelicerata, atau secara luas semua makhluk hidup di bumi ini. Sebagai contoh, fosil kalajengking ditemukan sekitar 430 juta tahun lalu meskipun temuan ini bisa lebih tua dari yang diketahui saat ini. Dari hasil temuan fosil dalam satu lapisan tertentu, dapat diperoleh informasi umur dari keturunan kelompok tersebut atau umur kerabat dekatnya. Entah suatu takson mempunyai umur lebih muda atau setidaknya setua dengan kelompok takson yang diketahui fosilnya tersebut.

Sebagian besar keliseriforma modern adalah araknida (arachnida), kelompok yang mencakup kalajengking, laba-laba, caplak, dan tungau. Caplak dan kebanyakan tungau tergolong kelompok besar artropoda parasitik. Hampir semua caplak adalah parasit penghisap darah yang hidup pada permukaan tubuh reptil atau mamalia. Tungau parasitik hidup pada atau di dalam tubuh berbagai macam vertebrata, invertebrata, dan tumbuhan.

Jadi Chelicerata merupakan semacam kelompok besar yang memayungi jenis-jenis laba-laba, kalajengkingkalajengking semukalacuka dan bahkan mimi dan mintuno. Kelompok Chelicerata ini dikenal karena anggotanya mempunya alat mulut berupa chelicera yang terdiri dari dua segmen. Berbeda dengan kelompok serangga, kaki seribu, dan lipan yang menggunakan alat mulut berupa mandibula dan maxilla yang terdiri dari lebih dari dua ruas.

 

  1. KELAS ARAKNIDA (ARACHNIDA)

Kelas Araknida meliputi laba-laba subkelas Dromopoda dan Mikrura (Micrura). Kelas ini bagian filum Artropoda, filum yang juga mencakup serangga dan hewan krustasea. Anggota kelas Araknida meliputi kala, laba-laba, tungau dan caplak. Anggota kelompok paling banyak dan tersebar luas adalah caplak dan tungau. Kebanyakan hewan ini bersifat parasit yang merugikan manusia, hewan dan tumbuhan. Araknida bersifat karnivor sekaligus predator. Araknida pada umumnya berhabitat di darat.

Kebanyakan laba-laba hidup di habitat yang sangat spesifik, dengan cara ini mereka membagi dunia antara mereka dan menghindari persaingan yang tidak semestinya. Pilihan lingkungan mereka tergantung pada kemampuan mereka untuk menahan variabel abiotik seperti suhu, baik rata-rata serta maksimal musiman dan minimum, keberadaan angin, kelembaban, kelembaban dan intensitas cahaya. Hal ini juga dipengaruhi oleh pertimbangan abiotik seperti jenis vegetasi, pesaing dan predator.

Ciri laba-laba dan kalajengking adalah memiliki empat pasang kaki untuk berjalan, sepasang bagian mulut seperti penjepit yang disebut kelisera, dan sepasang bagian tambahan di sisi depan yang disebut pedipalpus. Pedipalpus laba-laba berfungsi sebagai sensor, sedangkan pada kalajengking biasanya sebagai alat untuk memegang.  Tubuh laba-laba dan kalajengking dibagi menjadi dua bagian, yaitu sefalotoraks (kepala dan dada menyatu) atau prosoma, dan perut atau opistosoma. Tidak seperti hewan Artropoda lainnya, laba-laba dan kalajengking tidak memiliki antena. Laba-laba meracuni mangsanya dengan gigitan taring yang terletak di kelisera, sedangkan kalajengking menggunakan sengatan ujung metasoma (ekor).

Pada kebanyakan laba-laba, pertukaran gas dilakukan oleh paru-paru buku (book lungs), struktur serupa-lempeng bertumpuk yang terdapat di dalam sebuah kabin internal. Area permukaan organ pernapasan yang luas merupakan adaptasi struktural yang meningkatkan pertukaran O2 dan CO2 antar hemolimfe dan udara.

Sebagai adaptasi unik pada kebanyakan laba-laba adalah kemampuan untuk menangkap serangga dengan membangun jaring-jaring sutra, protein cair yang dihasilkan oleh kelenjar abdominal yang terspesialisasi. Sutra dipintal oleh organ-organ yang disebut spineret menjadi serat yang kemudian memadat. Setiap laba-laba merekayasa jaring yang khas berdasarkan spesiesnya dan membangun jaring dengan sempurna pada percobaan pertama. Perilaku yang kompleks ini tampaknya diwariskan. Berbagai laba-laba juga menggunakan sutra untuk keperluan lain: sebagai pegangan untuk melarikan diri dengan cepat, sebagai pelindung telur, dan bahkan sebagai pembungkus hadiah berupa makanan yang ditawarkan oleh jantan kepada betina selama percumbuan. Banyak laba-laba kecil juga melejitkan sutra ke udara dan membiarkan dirinya terbawa oleh angin, perilaku yang disebut ballooning.

Semua arachninda (arachnida) memiliki 3 segmen utama dan 4 pasang kaki (tidak seperti seranga yang memiliki 3 segmen utama dan 3 pasang kaki). Sebagian besar arachnida hidup di darat, kendati sekitar 10% caplak dan tungau (dan 1 spesies laba-laba) ditemukan di perairan tawar.

Tubuh arachnida terbagi menjadi 2 bagian. Kepala dan toraks melebur membentuk sefalotoraks. Sefalotoraks terhubung ke abdomen, dalam bentuk tangkai sempit dibeberapa spesies. Di sefalotoraks terdapat 6 pasang embelan. Pasangan pertama disebut kelisera. Berbentuk penjepit atau mirip jaring, terutama digunakan untuk makan. Pasang kedua disebut pedipalpus yang mirip kaki atau membesar dengan kuku di ujungnya. Empat pasang lainya adalah tungkai berjalan. Namun, di beberapa spesies, pasangan pertama berukuran panjang dan berperan sebagai alat sensor.

Abdomen dapat terbagi atas segmen lebih kecil, atau dengan juluran seperti ekor. Pada juluran ini terdapat organ pernapasan; pertukaran gas melalui trakea atau organ yang disebut paru-paru buku. Pada laba-laba, abdomen juga mengandung kelenjar sutra. Tubuh bersegmen terdiri atas sefalotoraks serta abdomen yang tak beruas. Selain itu, pada di bagian sefalotoraks terdapat organ-organ berikut ini:

  • Delapan buah mata sederhana di bagian depan
  • Sepasang pedipalpus yang berfungsi sebagai indra, tangan, maupun alat untuk melakukan kopulasi
  • Suatu organ di depan anus yang menghasilkan sultra disebut spineret; terdapat pada beberapa jenis Arachnida.

Gambar 8.55 Struktur Laba-laba

Sebagian besar arachnida adalah predator ganas, tetapi beberapa menjadi pemakan bangkai dan beberapa tungau adalah parasit. Arachnida besar lazim memakai kekuatan untuk melumpuhkan mangsa, tetapi laba-laba, kalajengking palsu dapat juga menyuntikan bisa, karena arachnida memiliki mulut sempit, mereka tidak dapat menelan makanan dalam ukuran besar. Mereka melepas enzim pencernaan ke tubuh mangsa dan menghisap cairan yang dihasilkan.

Pada kalejenking, potongan kecil mangsa dicerna sebagian di ruang kecil di depan mulut. Sejumlah laba-laba mengandalkan penglihatan dan pengintaian untuk menangkap mangsa. Lainya memakai sutra untuk membuat jebakan. Contohnya, beberapa laba-laba membuat untaian sutra lengket berbentuk spiral, disebut jaring bulat. Spesies tropis dapat membuat jarring bulat berukuran besar yang cukup kuat untuk menangkap atau menjebak burung kecil. Laba-laba pembuat jarring membuat jarring kecil, tempat mereka mengaitkan kaki dan menjatuhkan tubuh ke mangsa yang melintas.

Pada sebagian besar arachnida, jantan  menyerahkan paket sperma (spermatofor) kepada betina menggunakan pedipalpus, kelisera, atau kaki. Betina mengeluarkan telur. Pada beberapa kalajengking, telur menetas dalam waktu singkat. Untuk sejumlah spesies, anak arachnida berkembang atau menetas di dalam tubuh betina. Banyak arachnida menunjukan perawatan orang tua dengan menjaga telur mereka.

 

Tabel 8.1. Sistem organ yang mendukung kehidupan Arachnida.

 

Sistem organ

 

Keterangan
Sistem pernapasan Organ pernapasan berupa paru-paru buku yang terletak di daerah perut depan
Sistem pencernaan Makanan ditangkap dengan jaring tepi dan ada pula yang dihisap dari inangnya oleh Arachnida yang hidup sebagai parasit.

Alat pencernaan makanan berturut-turut mulai dari mulut → perut → usus halus → usus besar → kantong feses → anus. Alat pencernaan dilengkapi dengan 5 pasang usus buntu yang terletak di bagian depan dan hati di bagian abdomen.

Sistem peredaran darah Sistem peredaran darahnya terbuka dan menggunakan jantung pembuluh serta arteri. Jantung pembuluh terdiri atas kantong otot yang memiliki ostium di setiap ruas.
Sistem saraf Sistem sarafnya berupa persatuan ganglion-ganglion yang disebut sistem saraf tangga tali.
Alat indra Alat indra terdiri atas delapan buah mata sederhana dan sepasang pedipalpus yang fungsinya mirip antena.
Sistem reproduksi Reproduksi terjadi secara seksual, yaitu degan persatuan ovum dan sperma yang terjadi dalam tubuh betinanya (fertilisasi internal). Hewan jantan dan hewan betina terpisah (diesis). Ada yang ovipar, ovovivipar, dan vivipar.

 

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya Araknida meliputi laba-laba subkelas Dromopoda dan Mikrura (Micrura). Dromopoda terdiri atas ordo Scorpiones, Solifugae, Opiliones  (Opilionida / Daddy Long-Legs / Harvestmen), dan Pseudoscorpionida (Chelonethi /Diplosphyronida / Heterosphyronida / Monosphyronida / Pseudoscorpiones). Mikrura terdiri atas ordo Astigmata, Oribatida, Prostigmata, Opilioacarida, Holothyrida, Ixodida, Mesostigmata, dan Araneae -Spiders (Aranei / Araneida / Araneidea / Aranida).

 

  1. Scorpiones

Spesies yang termasuk Scorpiones mencakup segala macam kala, antara lain kalajengking, kala buku,  dan kala laba-laba.

Tubuh Scorpiones dibagi menjadi dua, yaitu sefalotoraks (disebut juga prosoma) dan bagian perut (opisthosoma). Perut dibagi menjadi nesosoma dan metasoma.

Pedipalpusnya terbentuk seperti capit besat, sedangkan kalisera-kaliseranya kecil. Segmen terakhir bagian posterior atau ekor mempunyai alat penyengat. Ekor biasanya melengkung di atas punggung dan berfungsi untuk melumpuhkan mangsa.

 

Gambar 8.56 Contoh spesies

 

 

 

 

Scorpio maurus L Scorpio maurus fuscus
 

 

 

 

Androctonus australi Mesobuthus gibbosus

 

  1. Solifugae

Salah satu hewan gurun paling menarik adalah kalajengking angin (wind scorpion). Nama “kalajengking angin” diberikan karena kemampuan mereka berlari amat cepat. Mereka juga dikenal dengan nama-nama lain seperti laba-laba matahari, laba-laba unta, atau kalajengking matahari. Mereka mudah dikenali dengan melihat fisiknya yang mayoritas berwarna kuning cerah dengan bulu-bulu lebat, abdomen bergaris-garis cokelat, serta kaki berjumlah 10. Di kepalanya terdapat 4 buah taring besar untuk mengoyak tubuh mangsanya. Kalajengking angin hidup di hampir semua wilayah gurun, terutama di daerah-daerah Timur Tengah, selatan AS, Afrika, & sebagian Australia, sementara sebagian kecilnya ditemukan hidup di padang rumput. Diperkirakan ada 900 jenis kalajengking angin di seluruh dunia.

Kalajengking angin atau laba-laba matahari termasuk Araknida, namun mereka tidak dimasukkan ke dalam ordo yang sama dengan kalajengking atau laba-laba karena beberapa alasan. Mereka tidak dimasukkan sebagai kalajengking karena jelas, mereka tidak memiliki ekor beracun di ujung abdomennya & tidak memiliki pedipalpus berbentuk capit besar. Sebaliknya, mereka juga tidak dimasukkan sebagai laba-laba karena tidak memiliki kelenjar racun di taringnya (kecuali 1 spesies di india), tidak memiliki kelenjar sutra (spineret), & mencerna makanan di dalam tubuhnya, tidak seperti laba-laba yang mencerna mangsanya di luar dengan “meminum” dagingnya. Karena alasan-alasan tersebut mereka dimasukkan ke dalam ordo yang berbeda, ordo Solifugae.

Kalajengking angin dikenal sebagai invertebrata tercepat di dunia. Ia mampu berlari hingga kecepatan 16 km/jam.  Karena kecepatannya inilah, ia mendapatkan nama “wind scorpion”.  Dengan kecepatannya ia memburu hewan-hewan seperti serangga, Araknida lain, & bahkan hewan-hewan kecil seperti tokek gurun. Mangsanya ditangkap dengan kedua pedipalpusnya (kaki depan), lalu dihancurkan dengan menggunakan taringnya yang berjumlah 4 buah untuk dicerna. Taringnya tidak beracun, namun sangat kuat & kadang menimbulkan suara mendesis saat menguyah. Kalajengking angin hanya berburu pada saat lapar, selebihnya ia lebih banyak tidur di dalam liangnya untuk menghindari panas.

Tidak seperti laba-laba lainnya, kalajengking angin melakukan kopulasi dengan posisi pejantan “menggigit” betina dari belakang. Mula-mula, pejantan menaruh spermanya dalam kantong khusus di tanah dari abdomennya, lalu menghisap sperma itu kembali ke dalam chelicera (taring) nya. Pejantan selanjutnya menyuntikkan sperma dari taringnya ke dalam lubang reproduksi betina yang terletak di abdomen belakang. Betina yang sudah membawa sperma dari pejantan kemudian mencari lubang untuk bertelur, biasanya didalam tanah atau di kayu lapuk & kemudian bertelur antara puluhan hingga ratusan butir, tergantung spesiesnya. Telur-telur ini dijaga oleh betina sampai menetas. Karena saat menjaga telur-telurnya betina tidak makan apapun, sebelum perkawinan mereka akan makan sebanyak-banyaknya sebagai persediaan.

Kalajengking angin menjadi sangat populer belakangan ini, terutama pada awal masa-masa Perang Irak. Para tentara koalisi yg baru pertama kali tiba di Timteng terkejut karena di perkemahannya terdapat banyak sekali kalajengking angin. Beberapa bahkan ditemukan di dalam sepatu bot, di bawah ranjang, &  di dalam pakaian tentara yang disimpan.  Mereka bahkan diketahui juga mengikuti iring-iringan tentara & kendaraan perang. Akibatnya, muncul isu-isu seperti mereka sengaja mengikuti tentara untuk memakan darahnya, terutama saat tidur.

 

Gambar 8.57 Galeodes graecus

  1. Opiliones (Opilionida / Daddy Long-Legs / Harvestmen)

Laba-laba penuai (harvestman) adalah hewan kecil mirip laba-laba dengan kaki-kaki yang amat panjang. Sepintas tidak ada yang menarik dari hewan ini karena hewan ini terlihat tidak ada bedanya dengan laba-laba lain, namun justru hal itulah yang menarik karena hewan ini sebenarnya bukanlah laba-laba. Laba-laba egrang dikenal dengan nama “harvestman” (sang penuai / pemanen) karena laba-laba tersebut paling sering terlihat pada musim gugur, musim di mana banyak orang memanen tanaman budidayanya. Nama lain bagi hewan ini adalah daddy longlegs. Sebagai catatan, laba-laba gudang (Pholcidae) & lalat egrang (Tipulidae) juga diberi julukan daddy longlegs karena kemiripan fisiknya, yaitu sama-sama berkaki panjang.

Walaupun memiliki penampilan yang amat mirip dengan laba-laba, harvestman sama sekali bukan laba-laba. Ada beberapa perbedaan penting antara keduanya sehingga harvestman tidak dikategorikan oleh para ahli sebagai laba-laba. Pertama, harvestman tidak menghasilkan racun & bersifat omnivora. Sementara laba-laba menghasilkan racun untuk mengubah jaringan tubuh mangsanya menjadi cair sehingga bisa dihisap, harvestman tidak menghasilkan racun & menelan makanannya bulat-bulat. Saat makan, harvestman biasa memakai kaki depannya untuk memasukkan potongan makanan ke dalam mulut & memakai taringnya untuk mengunyah. Harvestman juga tidak menghasilkan jaring seperti laba-laba karena tidak memiliki kelenjar penghasil jaring. Perhatikan perbedaan fisik antara ketiganya pada gambar berikut:

Gambar 8.58

Perbedaan lain antara harvestman dengan laba-laba adalah dari segi anatomi. Tubuh laba-laba terbagi menjadi 2 bagian utama : sefalotoraks (kepala-dada) & abdomen (perut) di mana batas antara kedua bagian tersebut (bagian pinggangnya) bisa terlihat jelas. Tubuh harvestman juga terdiri dari 2 bagian utama yang serupa, namun pinggangnya tidak terlihat sehingga keduanya terlihat seperti menyatu. Harvestman juga hanya memiliki sepasang mata (laba-laba memiliki beberapa pasang mata) & beberapa spesies bahkan diketahui tidak memiliki mata sama sekali.

Dengan tubuhnya yang umumnya berwarna kelam & kaki-kakinya yang panjang, harvestman terlihat agak menyeramkan di mata manusia. Hal itulah yang kemungkinan menyebabkan munculnya cerita-cerita miring soal mereka, salah satunya cerita di antara masyarakat setempat (urban legend) yang menyatakan bahwa harvestman adalah hewan paling beracun di dunia. Faktanya, harvestman sama sekali tidak berbahaya bagi manusia karena mereka tidak menghasilkan racun & walaupun mereka memiliki taring, taringnya terlalu kecil sehingga tidak cukup kuat untuk melukai kulit manusia.

Hewan-hewan yang termasuk sebagai harvestman dimasukkan dalam ordo Opiliones atau Phalangida yang termasuk dalam kelas Arachnida di mana kelas tersebut juga mencakup kalajengking, laba-laba, & caplak. Hingga tahun 2006, ada sekitar 6.400 spesies harvestman yang sudah teridentifikasi manusia di berbagai belahan dunia di mana masing-masing spesies memiliki ukuran & pewarnaan yang bervariasi. Fosil harvestman tertua di dunia ditemukan dalam amber (tetesan getah tanaman yang sudah membatu) berusia 400 juta tahun di mana fosil harvestman tersebut memiliki struktur anatomi yang mirip dengan harvestman masa kini.

Harvestman adalah omnivora yang berarti harvestman mau mengkonsumsi hewan maupun tumbuhan sebagai makanannya. Makanan mereka mencakup hewan-hewan kecil, bangkai, kotoran burung, sari buah, material tanaman, & jamur. Lebih lanjut, mereka juga diketahui meminum tetesan embun & kerap ditemukan di sekitar sumber air. Harvestman biasa keluar untuk mencari makan & beraktivitas ketika matahari sudah terbenam, namun ada juga spesies berwarna cerah yang beraktivitas pada siang hari. Karena matanya hanya bisa dipakai untuk membedakan terang gelap & tidak bisa digunakan untuk melihat objek, harvestman biasa memakai pasangan kaki urutan keduanya sebagai semacam antena & alat peraba.

Harvestman memiliki banyak cara untuk mempertahankan diri. Cara paling umum yang dipakai adalah dengan menghasilkan cairan yang berbau menyengat sehingga musuhnya tidak lagi berselera untuk memakannya. Cara lain yang dipakai harvestman untuk mempertahankan diri adalah dengan memutuskan kakinya. Menariknya, kaki yang terlepas dari tubuhnya akan menggeliat-geliat seperti ekor cicak sehingga pemangsanya bingung & harvestman lalu memakai kesempatan tersebut untuk melarikan diri. Sayangnya, kaki harvestman yang putus tidak akan tumbuh lagi sehingga harvestman yang bersangkutan akan memiliki kaki yang buntung seumur hidup. Lebih lanjut, beberapa spesies harvestman juga diketahui bisa menempelkan material-material kecil pada tubuhnya untuk menyamar atau berpura-pura mati saat musuhnya mendekat.

Harvestman juga dikenal dengan perilaku menggerombolnya di mana mereka kerap ditemukan di sekitar sumber air dalam jumlah besar atau saling merangkaikan kakinya saat menempel di dinding. Jumlah harvestman dalam suatu gerombolan bervariasi tergantung dari spesies & habitatnya, mulai dari yang berjumlah ratusan ekor hingga yang mencapai 70.000 ekor. Para ahli berhipotesis harvestman melakukan perilaku demikian untuk meningkatkan peluang mereka bertahan hidup karena saat berkumpul, mereka terlihat lebih besar di mata pemangsanya & bau dari cairan yang mereka hasilkan juga menjadi semakin menyengat. Hipotesis lainnya, perilaku menggerombol tersebut membantu menciptakan suhu & kelembaban yang ideal bagi harvestman untuk hidup.

Sebagian besar harvestman berkembang biak dengan cara kawin walaupun beberapa spesies juga diketahui bisa berkembang biak dengan cara partenogenesis (beranak tanpa kawin). Musim kawin harvestman biasanya terjadi pada musim semi, musim di mana merkea paling aktif. Usai melakukan perkawinan & pembuahan internal, harvestman betina akan menghasilkan telur yang disimpan dalam sarang atau tempat yang terlindung semisal di celah-celah tanah. Sebagian spesies meninggalkan begitu saja telur-telurnya usai dikeluarkan, sementara pada spesies lain pejantannya menjaga telur-telur tersebut hingga menetas.

Telur-telur harvestman memiliki waktu menetas yang bervariasi, mulai dari 20 hari hingga 6 bulan. Pada spesies Leiobunum rotundum misalnya, telur yang dikeluarkan pada musim gugur baru menetas pada musim semi. Anakan harvestman yang baru menetas mirip dengan harvestman dewasa, namun ukurannya lebih kecil. Anakan tersebut selanjutnya akan melakukan pergantian kulit setiap 10 hari atau lebih hingga 6 kali sebelum mencapai kedewasaan. Panjang tubuh harvestman bervariasi mulai dari 1 mm hingga 2,2 cm dengan panjang kaki yang bisa mencapai 10 kali panjang tubuhnya. Sejauh ini, ukuran kaki harvestman paling panjang yang diketahui bisa mencapai 16 cm.

Gambar 8.60 Phalangium opilio L Gambar 8.61 Rilaena triangularis

 

  1. Pseudoscorpion (Seudoscorpion)

Disebut juga kalajengking palsu tidak memiliki sengat juga bentuknya mirip kalajengking. Ordo ini beranggotakan family (3.300 spesies). Mereka memiliki kelenjar racun pada bagian  penjepit di pedipalpus dan menyiapkan sarang dari sutra untuk ganti kulit, merawat anak-anak, dan berhibernasi. Telur diletakan dalam kantong khusus. Betina dapat bergantung pada hewan lain untuk mencari habitat baru.

 

Family Neobisiidae (Neobosid)

Anggota family ini berukuran sangat kecil, hanya 1-5mm. biasanya memiliki 4 mat, tetap spsies yang hidup di gua dapat memiliki mata atau bahkan tidak ada sama sekali. Warna tubuh dari hijau daun hingga cokelat gelap, dengan senburat merah, kuning, atau krem. Di kerap agak hijau, dengan 2 tarsi segmen. Kuku di setiap pedipalpus memiliki kelenjar racun di jari tetap. Setelah melumpuhkan mangsa, mereka memotong mangsa dengan mulut yang berukuran besar.

 

Family Cheliferidae

Tidak seperti neobisiid, pada kedua jari penjepit cheliferid ada kelenjar penghasil racun untuk melumpuhkan mangsa. Tidak ada gigi di permukaan dalam penjepit. Panjang tubuh 1,5-5mm; biasanya memiliki 2 mata. Warna tubuh bervariasi, dari pucat hingga cokelat gelap atau hitam, kerap dengan semburat merah atau hijau, dengan corak gelap. Seperti pada kebanyakan arachnida, proses percumbuan dapat sangat rumit. Jantan dan betina menari dengan saling berpegangan pada pedipalpus.

 

  1. Araneae

Ordo ini mencakup berbagai jenis laba-laba. Laba-laba bersifat predator. Tubuhnya terdiri atas dua segmen, delapan kaki, dan tidak memiliki sayap serta bagian mulut untuk mengunyah. Semua laba-laba menghasilkan sutra, yaitu lembaran protein kuat yang dikeluarkan melalui spineret, biasanya terdapat di bagian ujung abdomen. Banyak spesies laba-laba yang menggunakannya untuk memerangkap serangga dalam jaring; ada sutra yang digunakan untk memanjat, membuat kantong telur, dan sebagainya.

Gambar 8.62 Anatomi Laba-laba

Pada laba-laba penjaring terdapat alat untuk membuat jaring pada bagian tengah perut, di depan anus. Laba-laba penjaring menjebak magsanya tanpa mengembara. Dalam jaringnya, laba-laba tidak terperangkap karena laba-laba mempunyai kelenjar minyak anti rekat di kakinya. Laba-laba bersembunyi menanti mangsanya di dekat jaring dan keluar cepat-cepat bila mangsa terperangkap.

Laba-laba jantan yang siap berkopulasi memintal jaring kecil dan menaruh setitik spermanya di dalam jaring, kemudian memasukkannya ke dalam labu-labu kecil pada pedipalpusnya. Pada saat kawin, sperma tersebut dimasukkan ke tubuh betinanya.

Spesies yang termasuk Araneae mencakup segala macam laba-laba, antara lain:

  1. Laba-laba jaring kubah (terdapat di Botswana, Afrika Selatan)
  2. Laba-laba primitif Liphistius (di rimba Asia Tenggara)
  3. Laba-laba penjerat (di Malaysia)
  4. Laba-laba penjaring Thalassius (hidup di dekat air)
  5. Laba-laba pemburu, misalnya laba-laba loncat (di Meksiko)
  6. Laba-laba serigala
  7. Laba-laba beracun Lactrodectus natans dan Loxosceles reclusa
  8. Laba-laba bukit pasir Leucorchestris
  9. Laba-laba raksasa Mastigoproctus giganteus

 

      Gambar 8.63 Mastigoproctus            Gambar 8.64 Loxosceles reclusa

                       giganteus        

  1. Acarina

Acarina dipelajari dalam cabang ilmu acarologi. Acarina mencakup caplak dan tungau. Ciri khas acarina ialah tubuhnya yang tidak berbuku-buku. Larva Acarina mempunyai tiga pasang kaki. Daur hidupnya mengalami empat fase, yaitu telur → larva → nimfa → dewasa. Nimfa dan hewan dewasa caplak memiliki empat pasang kaki, gigi hipostom, dan alat Haller (lubang perasa pada kaki). Tungau tidak mempunyai gigi hipostom maupun alat Haller.

Dengan lebih dari 3.000 spesies dan sekitar 300 famili, kutu dan tungau terdapat di hampir semua habitat, terutama di darat. Termasuk di dalamnya adalah hama bagi tanaman budidaya dan makanan yang disimpan, juga parasit yang menyerang mamalia, burung, dan reptile. Sebagian besar panjangnya kurang dari 1 mm, meski kutu menjadi jauh lebih besar setelah memakan darah. Tidak seperti laba-laba, tubuh kutu dan tungai tidak memiliki pembagian jelas.

Baik tungau maupun caplak menyebarkan penyakit dan hidup sebagai parasit pada hewan, tanaman, maupun manusia.

 

Family Ixodidae (CaplakKeras)

Caplak keras memiliki piringan dorsal kokoh, menyelubungi seluruh tubuh jantan, tapi hanya menutup separuh tubuh depan pada betina. Abdomen lunak dan fleksibel agar menampung banyak darah sebagai makanannya. Bagian depan kepala menonjol terdapat mulut. Panjang tubuh 0,2-1cm, tapi dapat membesar setelah makan. Warnanya beragam, dari kuning hingga merah atau hitam-cokelat. Sejumlah spesies bercorak banyak. Beberapa membawa virus penyakit yang dapat menginfeksi manusia, seperti encephalitis serta penyakit ternak mamalia dan unggas.

   
Gambar 8.65

Ixodes ricinus

Gambar 8.66

Dermacentor reticulatus

 

Family Trombididae (Tungau Beludru)

Dinamakan sesuai dengan “bulu” yang tebal mirip beludru. Warnanya merah cerah atau jingga, memakan telur serangga saat dewasa, tetapi menjadi parasit saat masih muda, memburu serangga, laba-laba, dan opiliones. Dewasa kerap keluar dari tanah usai hujan untuk kawin dan bertelur.

Family Tetranychidae (TungauLaba-laba)

Tungau bertubuh lunak ini bewarna jingga, merah, atau kuning, dengan panjang tubuh sekitar 0,2-0,8mm. banyak spesies menghasilkan sutra. Telur diletakan di atas daun, dan tungau muda dilindungi oleh jarring sutra. Banyak menghisap getah ini menempati tanaman inang; dapat membuat tanaman tersebut menjadi layu dan menimbulkan bercak.

 

Peran Arachnida bagi kehidupan manusia

Arachnida bermanfaat untuk pengendalian populasi serangga, terutama serangga hama. Akan tetapi, hewan-hewan arachnida lebih banyak merugikan manusia, terutama dari kelompok Acarina, antara lain:

  1. Sarcoptes scabiei menyebabkan gatal atau kudis pada manusia
  2. Psoroptes equi menyebabkan kudis pada ternak domba, kelinci dan kuda.
  3. Otodectes cynitis (tungau kudis telinga) menyerang anjing dan kucing.
  4. Dermacentor variabilis sebagai vektor demam Rocky Mountain

 

  1. MEROSTOMATA

Kelas Merostomata  adalah kelas kuno hewan yang berevolusi sejak Kambrium awal (570 juta tahun yang lalu) dan yang dominan hidup di laut dan samudra dunia sampai Permian 310 MYA. Sekarang mereka adalah kelompok yang sangat kecil yang terdiri dari hanya 4 spesies dalam 3 genera dan satu urutan (atau subclass) Xiphosura. Di masa lalu kelas berisi urutan kedua (atau subclass) dikenal sebagai Eurypterida, hewan-hewan air yang besar yang tampak lebih seperti kalajengking dari kerabat dekat mereka kepiting tapal kuda. Telah disebut Scorpions Laut meskipun mereka sering tinggal di air tawar atau habitat payau. Kepiting Horseshoe modern dapat terjadi dalam jumlah besar di mana mereka masih ada, namun semua spesies dianggap rentan oleh IUCN karena populasi mereka sering dimanfaatkan selama bertahun-tahun sebagai pakan ternak dan pupuk. Satu spesies, Limulus Polyphemus hidup di lepas pantai timur Amerika, tiga lainnya spesies hidup di Asia Tenggara. Contoh spesies:

  1. Horseshoe Crab

Gambar 8.67 Limulus polyphemus Linnaeus, 1758

 

  1. PIKNOGONIDA (PYCNOGONIDA / PANTOPODA / PYCNOGONIDS)

Pygnogonida dikenal sebagai laba-laba laut (sea spider), karena bentuknya seperti laba-laba dan berjalan di dasar laut, pada koloni hydroid dan bryozoa. Diketahui 1.000 jenis yang termasuk dalam satu bangsa yaitu Pantopoda.

 

           

 

Gambar 8.68 Morfologi Pycnogonida

 

Klasifikasi Sea Spider

Gambar 8.69 Anoplodactylus lentus

    Nama Latin :  Anoplodactylus lentus
    Phylum :  Arthropoda
    Sub Phylum :  Chelicerata
    Kelas :  Pycnogonida
    Family :  Phoxichilidiidae
    Species :  Anoplodactylus lentus
    Nama Daerah :  Tidak diketahui.

 

Laba- laba laut adalah arthropoda laut unik berukukuran kecil, dengan tubuh silendris dan kaki panjang langsing yang membuat mereka menyerupai laba-laba darat. Tersebar luas diseluruh lautann didunia, menghuni habitat laut dangkal, pesisir, hingga laut dalam. Sebagian besar hidup di dasar laut, meski beberapa dapat berenang. Jumlah spesies terbanyak dan individu terbesar dengan rentang kaki hingga 75cm, ditemukan diperairan dalam.

Laba-laba laut memiliki kepala kecil atau sefalon, bersegmen tubuh, dan abdomen pendek. Di kepala ada tonjolan yang menopang 2 pasang mata. Terdapat pada proboscis (belalai) umtuk aktivitas makan.  Embelan berkuku, dan sepasang alat peraba. Kebanyakan laba-laba laut memiliki 4 pasang tungkai berjalan yang muncul dari segmen tubuh kaki beberapa juga memiliki hungga 6 segmen. Pasangan didepan digunakan untuk memelihara telur. Tidak ada organ pernapasan atau pencernaan. Gas zat terlarut diserap dan dilepaskan secara difusi.

Kebanyakan laba-laba laut adalah karnivora. Mereka memakan hewan laut bertubuh lunak, seperti spons, anemone, batu karang, hydroid, dan karang renda. Ketika makan, mereka biasanya menunggangi mangsa, kemudian mengisap jaringan tubuh mangsa melalui proboscis. Mereka dapat juga menghancurkan mangsa hingga berukuran lebih kecil, menggunakan kelisera, kemudian memasukannya ke dalam mulut.

 

KELAS CRUSTACEA

Crustaceae adalah Arthopoda yang sebagian besar hidup di laut dan bernafas dengan insang. Tubuhnya terbagi dalam kepala (cephalin), dada (thorax) dan abdomen. Kepala dan dada bergabung membentuk kepala-dada (cephalothorax; Y : cephale = kepala; thorax = bagian tengah tubuh atau dada). Kepalanya biasanya terdiri dari lima ruas yang tergabung menjadi satu. Mereka mempunyai dua pasang antena, sepasang mandibel atau rahang dan dua pasang maksila (maxilla). Dada mempunyai embelan dada yang bentuknya berbeda-beda. Beberapa di antaranya digunakan untuk berjalan. Ruas abdomen biasanya sempit dan lebih mudah bergerak daripada kepala dan dada. Ruas-ruas tersebut mempunyai embelan yang ukurannya sering mengecil.

 

2.1. Ciri – Ciri Umum Kelas Crustacea

  1. Struktur Tubuh

Tubuh Crustacea bersegmen (beruas) dan terdiri atas sefalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut). Bagian anterior (ujung depan) tubuh besar dan lebih lebar, sedangkan posterior (ujung belakang)nya sempit. Pada bagian kepala terdapat beberapa alat mulut, yaitu:

  • dua pasang antena,
  • satu pasang mandibulla, untuk menggigit mangsanya,
  • satu pasang maksilla,
  • satu pasang maksiliped.

Maksilla dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan menghantarkan makanan ke mulut. Alat gerak berupa kaki (satu pasang setiap ruas pada abdomen) dan berfungsi untuk berenang, merangkak atau menempel di dasar perairan.

 

 

 

 

.

Gambar 8.70 Struktur  tubuh luar Crustacea

 

 

 

 

  1. Sistem Organ
  • Sistem Pencernaan

Makanan Crustacea berupa bangkai hewan-hewan kecil dan tumbuhan. Alat pencernaan berupa mulut terletak pada bagian anterior tubuhnya, sedangkan esophagus, lambung, usus dan anus terletak di bagian posterior. Hewan ini memiliki kelenjar pencernaan atau hati yang terletak di kepala – dada di kedua sisi abdomen. Sisa pencernaan selain dibuang melalui anus, juga dibuang melalui alat eksresi disebut kelenjar hijau yang terletak di dalam kepala.

  • Sistem Saraf

Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan dengan alat indera yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat keseimbangan) dan mata majemuk (facet) yang bertangkai.

  • Sistem Peredaran Darah

Sistem peredaran darah Crustacea disebut peredaran darah terbuka. Artinya darah beredar tanpa melalui pembuluh darah. Darah tidak mengandung haemoglobin, melainkan hemosianin yang daya ikatnya terhadap O2 (oksigen) rendah.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.71 Struktur dalam Crustaceae

 

  • Sistem Pernafasan

Pada umumnya Crustacea bernafas dengan insang. Kecuali Crustacea yang bertubuh sangat kecil bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya.

  • Alat Reproduksi

Alat reproduksi pada umumnya terpisah, kecuali pada beberapa Crustacea rendah. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki ketiga. Sedangkan alat kelamin jantan terdapat pada pasangan kaki kelima. Pembuahan terjadi secara eksternal (di luar tubuh).

Dalam pertumbuhannya, udang mengalami ekdisis atau pergantian kulit. Udang dewasa melakukan ekdisis dua kali setahun, sedangkan udang yang masih muda mengalami ekdisis dua minggu sekali. Selain itu udang mampu melakukan autotomi. Misalnya: udang akan memutuskan sebagian pangkal kakinya, bila kita menangkap udang pada bagian kakinya. Kemudian kaki tersebut akan tumbuh kembali melalui proses regenerasi.

 

2.2. Morfologi dan Anatomi Umum Kelas Crustacea

Ruas badan (trunk) yang pertama adalah ruas yang mempunyai sepasang kaki pertama. Secara morfologis semua ruas badan bentuknya sama. Batas antara thorax dan abdomen tidak jelas, adakalanya letak gonopore digunakan sebagai batas. Ruas-ruas di anterior gonopore adalah “thorax” dan yang di posteriornya adalah “abdomen”.

Hampir semua branchiopoda hidup diperairan tawar, dan hanya beberapa spesies dari Cladocera terdapat di laut. Dari keempat ordo tersebut hanya Cladocera yang penyebarannya luas, terdapat di sungai, kolam besar, dan danau. Sedangkan anostraca dan notostraca merupakan organisme yang khas di lingkungan perairan yang tidak lazim seperti kolam kecil, genangan air sementara pada musim hujan dan danau garam. Hal ini disebabkan oleh kemampuan organisme tersebut untuk menghasilkan telur dorman (resting eggs) yang memerlukan waktu istirahat dan dapat bertahan pada suhu tinggi dan kekeringan bahkan ada yang dapat bertahan sampai 10 tahun.

Ordo Anostraca, Notostraca dan Conchostraca acapkali dikelompokkan sebagai divisi Eubranchiopoda atau Phyllopoda karena bentuk apendiknya yang lebar dan lembut. Semua anggotanya mempunyai ruas-ruas tubuh yang jelas dengan jumlah apendik antara 10 sampai 71 pasang. Di ujung posterior terdapat sepasang cercopoda (caudal rami, furca). Dalam lingkungan yang sesuai populasinya kebanyakan betina, jantan sedikit atau jarang. Anostraca disebut juga huhurangan atau fairy shrimps mempunyai mata bertangkai; biasanya terdapat 20 ruas badan atau lebih dengan 11 sampai 19 pasang kaki renang; tidak mempunyai karapas; antena pertama kecil, uniramus dan tidak beruas-ruas; antena kedua pada jantan besar dan berfungsi untuk memegang betina pada waktu kopulasi. Notostraca mempunyai karapas lebar seperti tameng yang menutup hampir seluruh tubuh, sehingga dari dorsal tampak seperti berudu katak sedangkan dari ventral seperti udang, sehingga dinamakan tadpole shrimps. Notostraca mempunyai 35 sampai 71 pasang kaki; mata majemuk sessile; jumlah ruas badan dan jumlah kaki dalam satu spesies tidak tetap; antena kedua kecil sekali atau tidak ada; pada satu atau dua pasang kaki pertama terdapat beberapa helai rami seperti benang diduga sebagai alat peraba; kaki ke sebelas pada betina mengalami modifikasi menjadi semacam kantung untuk mengerami telur.

Conchostraca mempunyai tubuh yang pipih secara leteral dan tertutup dua keping cangkang yang terbuka dibagian ventral mirip kerang atau remis kecil sehingga disebut clam shrimp; terdapat sepasang mata majumuk bertangkai; kaki 10 sampai 32 pasang; antena kedua panjang, biramus dengan banyak setae; satu atau dua pasang kaki pertama pada jantan berfungsi seperti tangan dan berkait; betina mengerami telur dibagian dorsal antara tubuh dan karapas.

 

2.3. Fisiologi Secara Umum Kelas Crustacea

  1. Tubuh terbagi dalam dua bagian yaitu : abdomen dan sephalothoraks (persatuan antara tulang dada dengan kepala)
  2. Bagian tubuh luar yang dilindungi oleh karapaks yang tersusun dari calcarious dan kitin, tubuh simetris bilateral
  3. Mempunyai rangka luar (eksoskeleton)
  4. Kaki terdapat pada seluruh ruas tubuhnya
  5. Mempunyai dua pasang antenna yaitu :
  6. Antenna mandibula digunakan untuk menggigit dan mengunyah makanan
  7. Antenna maksila digunakan untuk memegang mangsa

2.4. Habitat Secara Umum Kelas Crustacea

Habitat Crustacea sebagian besar di air tawar dan air laut, hanya sedikit yang hidup di darat.

2.5. Klasifikasi Kelas Crustaceae

Pengelompokkan atau klasifikasi Crustaceae mengikuti Latreille yang pada tahun 1806 membagi Crustaceae menjadi dua anak-kelompok, yakni Entomostraca dan Malacostraca, yang selanjutnya dapat diperinci seperti diterangkan oleh Sir Alister Hardy dalam bukunya “The Open Sea: Its natural history” yang terbit tahun 1970 dan pengelompokkannya disusun seperti dibawah ini.

Anak kelas :

  1. Entomostraca (entoma = serangga; ostrakon = cangkang)
  2. Branchiopoda (branchia = insang; pous = kaki)
  3. Cladocera (klados = cabang; keras = tanduk), contoh : Evadne dan podon
  4. Ostracoda (ostrakon = cangkang)
  5. Myodocopa, contoh Conchoecia
  6. Copepoda (kope = dayung; pous = kaki)
  7. Gymnoplea (gymnos = telanjang), contoh : Calanus dan Euchaeta
  8. Podoplea (pous = kaki), contoh : Oithona dan Corycaeus
  9. Malacostraca (malakos = lunak)
  10. Peracarida (pera = kantung; caris = udang)
  • Mysidaceae, contoh : Mysis
  • Cumaceae (kyma = ombak), contoh : Diastylis
  • Isopoda (isos = sama), contoh : Eurydice
  • Amphipoda (dengan dua macam kaki)
  • Gammaridea, contoh : Gammarus
  • Hyperidea, contoh : Hyperia
  • Caprellidea, contoh : Caprella
  1. Eucarida (eu = betul, udang betul)
  • Euphausiacea (phausis = sinar bercahaya), contoh : Thysanopoda
  • Decapoda (deca = sepuluh; pous = kaki)
  • Natantia (jenis berenang)
  • Penaeidea (berbentuk udang)
  • Sergestidae, contoh : Acetes, Sergestes, Lucifer
  • Caridea (udang betul), contoh : Hyppolyte
  • Reptantia (jenis merayap)
  • Palinura (udang laut), contoh : Panulirus
  • Astacura (lobster)
  • Anomura (kelomang dll), contoh : Pagurus
  • Brachyura (kepiting), contoh : Portunus
  1. Haplocarida (Stomatopoda), contoh : Lysiosquilla

 

Anak kelas Entomostraca

  1. Branchiopoda

Branchiopoda (Y: branchia = insang dan pous = kaki) merupakan Crustacea yang sangat primitif dan sebagian besar mendiami air tawar, kubangan air asin dan danau. Mereka mempunyai kaki-kaki seperti daun dengan insang sepanjang pinggirnya. Mereka hidup terutama di air tawar dan dikenal sebagai kutu air. Marga utamanya dikenal adalah Artemia, atau udang garam. Ia dapat bertahan pada perubahan salinitas lingkungan yang besar. Hanya ada satu ordo yang benar-benar hidup di laut, yakni Cladocera. Semua hewan dari ordo ini mempunyai mata majemuk besar dan sangat khas, yang merupakan penggabungan dari dua mata dari masing-masing sisi. Hewannya sangat kecil. Yang banyak dalam plankton adalah marga-marga Evadne dan Podon.

  • (b)

 

 

 

 

 

Gambar 8.72 (a) : Evadne spinifera

  • : Podon polyhemoides

 

  1. Ostracoda

Ostracoda (Y: ostracon = cangkang) banyak jenisnya tapi sedikit dikenal dan jarang dijumpai peneliti karena jarang tertangkap jaring plankton. Beberapa jenis pelagik. Sebagian besar hidup di atau dekat dasar laut, dan ditemukan dalam contoh dasar laut mulai dari perairan dangkal sampai perairan 2.500 m teluknya.

Badanya terbungkus dalam cangkang tipis menyerupai cangkang kerang. Jantungnya dapat dilihat berdenyut di bawang cangkang yang setengah tembus-pandang. Kelompok hewan ini mempunyai mata mejemuk atau tidak. Jika ada mata, letaknya lebih disamping dari pada di bagian ujung depan. Mereka mempunyai antena yang berkembang baik, ada dua atau satu embalan dada yang tidak pipih, ada palpus mandibel yang biasanya bercabang dua. Ostracoda berkembang dari telur ke dewasa jauh lebih langsung tanpa metamorfosis. Hewan ini sudah berenang. Marga yang sering dijumpai dalam plankton adalah Conchoecia dan Cypridina

 

 

 

 

 

a=

 

 

(a)                                                               (b)

               Gambar 8.73 (a) Conchoecia

                                    (b) Cypridina

  1. Copepoda

Copepoda (Y: cope = dayung; pous = kaki) adalah hewan kecil hampir tak terlihat dengan mata telanjang. Lebih banyak jenis dalam induk-ordo ini dari pada seluruh zooplankton. Mereka merupakan salah satu komponen dalam daur energi atau rantai makanan. Mereka terletak antara produsen primer seperti diatom dan ikan kecil seperti teri dan tembang. Beberapa kelompok Copepoda menjadi parasit, badanya pipih kiri-kanan, kakinya memendek dan ujungna seperti pancing. Mulutnya untuk menyedot.

 

 

Ordo 1. Eucopepoda

Tubuhnya memanjang. Hewan betina membawa kantung telur. Mulut untuk memamah dan menghisap. Calanus adalah marga yang amat terlimpah dalam populasi plankton. Makanan utamanya diatom, yang biasanya ditangkap dengan bulu-kaku yang terletak dekat mulut. Beberapa jenis adalah pemangsa yang memangsa sesama copepoda atau zooplankton lain.

 

Ordo 2. Branchiura

Gambar 8.74 Argulus Betina

Copepoda parasit tidak mempunyai kantung telur, tubuhnya gepeng, ada lima pasang embelan dada. Contohnya Argulus yang terdapat pada ikan.

  1. Cirripedia

Kelihatannya cirripedia (cirrus = ikal) tidak terkait dengan kepiting dan udang. Tetapi jika cangkangnya dibuka maka bentuk khas Crustacea terlihat, karena mereka menyembunyikan sifat-sifat khas Crustacea dengan lemperng-lempeng kerangka kapur mereka. Tubuhnya terdiri dari beberapa ruas dan abdomennya tereduksi. Cirripedia adalah hewan menetap saat dewasa, tidak mempunyai mata majemuk, karapasnya menutupi seluruh tubuh dan sebagian besar hermafrodit. Kelompok lain adalah bersifat parasit dan kelihatan sebagai tubuh yang meregenerasi menjadi seperti kantung menempel pada permukaan ventral dari kepiting dan Crustacea lain.

 

Ordo 1. Thoracica

Ordo ini terdiri dari teritip (barnacle) dan hidup di laut. Tubunya ditutupi oleh cangkang kapur. Ada enam pasang embelan dada bercabang dua. Telur yang dibuahi menetas menjadi nauplius plantonik, setelah ganti kulit beberapa kali menjadi sipris yang bercangkang dan mempunyai tetesan minyak dalam cangkang sehingga masih dapat mengapung di plankton.

Ada dua bentuk umum :

  1. a) Cangkangnya dibangun langsung menempel pada substrat yang dinamakan teritip baran (acorn barancle), contohnya Balanus.
  2. b) Menempel dengan tangkai seperti kulit yang menempel pada substrat yang dinamakan teritip angsa atau teritip bertangkai (goose barnacle), contohnya Lepas.

Mereka pemakan penyaring (filter feeder). Cara makan dengan membuka cangkangnya dan mendepakkan kakinya untuk menangkap makanan. Mereka makan plankton. Kelompok hewan ini banyak hidup diperairan pantai pada benda-benda melekat di bawah atau di atas permukaan laut atau pada benda-benda terapung.

  • (b)

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.75  (a) Bagian lepas

(b) Bagian-Bagian Tubuh Teritip (Barnacle)

 

Ordo 2. Acrothoracica

Hewan parasit, tidak mempunyai cangkang kapur dan tubuhnya ditutupi oleh mantel besar. Contoh Alcippe lampas, jantan kecil, tak berkaki dan melekat pada betina, melubang ke dalam cangkang Natica yang berisi kelomang.

 

Ordo 3. Rhizocephala

Hewan parasit, tidak ada embalan tubuh, saluran pencernaan ataupun peruasan pada hewan dewasa; melekat dengan tangkai, dengan akar-akarnya menembus ke jaringan inangnya. Contoh Sacculina (carcini), parasit pada Crustacea Decapoda yang mendegenerasi menjadi sebuah kantung melekat pada permukaan ventral antara dada dan abdomen.

 

 

 

 

  •                       (b)

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.76 (a) : Sacculina; ( b) : Nauplius Sacculina

 

Anak kelas Malacostraca

Malacostraca (malakos = lunak) mempunyai banyak ordo yang mencangkup sebagian besar Crustacea ukuran besar. Biasanya kepalanya mempunyai lima ruas, dadanya terdiri dari delapan ruas dan abdomen, enam ruas. Dalam perut terdapat tembolok (gastric mill). Contoh spesies Cambarus sp

Klasifikasi Cambarus sp

Kingdom         : Animalia

Filum               : Arthropoda

Kelas               : Crustacea

Ordo               : Decapoda

Familia            : Cambaridae

Genus              : Cambarus

Species            : Cambarus sp

 

Ordo 1. Nebaliacea

Malacostraca laut yang primitif dengan tujuh ruas abdomen, mata bertangkai,dada dengan delapan pasang insang seperti daun. Contohnya Nebalia geoffroyi dengan tubuh yang ramping dan pipih kanan-kiri, telurnya dibawa oleh bulu-kaku pada embelan dada dari hewan betina.

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.77 Ordo Nebaliacea, Nebalia geoffroy

 

Ordo 2. Anaspidacea

Malacostraca air tawar

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.78 Ordo Anaspidacea, Anaspides tasmaniae

 

Ordo 3. Mysidacea

Karapasnya menutup hampir seluruh dadanya, mata bertangkai, embelan dada semua bercabang dua.

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.79 Ordo Mysidacea, Mysis oculata

 

Ordo 4. Cumacea

Karapasnya tidak menutupi seluruh dadanya, mata tak bertangkai, tidak ada uropod atau kipas ekor. Contohnya Diastylis goodsiri

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.80 Diastylis goodsiri

 

Ordo 5. Isopoda

Hewan-hewan dari ordo ini hidup diberbagai habitat, mulai dari danau, sungai, darat dan laut dan juga parasit pada biota lain. Sifat umumnya adalah badanya pipih atas-bawah. Mata tak bertangkai. Kelompok hewan ini terdiri dari beberapa jenis, umumnya disebut gribbles, yang melubangi kayu. Marga – marga Ligia dan Ligydia adalah bentuk umum. Mereka sudah menyesuaikan diri hidup di luar air sepanjang tepi laut dan menyesuaikan diri hidup di udara bebas. Ada yang hidup parasit pada Crustacea, tetapi tidak pada kelompok lain.

 

 

 

 

 

Gambar 8.81 Ordo Isopoda, Liga vitiensis

 

 

 

Ordo 6. Amphipoda

Serupa dalam banyak hal dengan isopoda, bahwa keduanya mempunyai dada beruas dan bukan kepala-dada. Dada terbagi dalam tujuh ruas yang dapat digerak-gerakkan, yang memungkinkan mereka lebih bebas bergerak. Jika isopoda pipih atas-bawah, amphipoda pipih kiri-kanan, mata tak bertangkai, tak mempunyai karapas dan tak mempunyai uropod.

Beberapa dari amphipoda yang banyak ditemukan dinamakan belalang pasir (sandhopper) atau kutu pasir (beach fleas). Sebagian besar hidup dalam pasir dan sekitar sampah di pantai pasir, tepat di atas garis air pasang. Pada siang hari mereka bersembunyi dan keluar malam hari untuk makan pada saat air surut.

Banyak yang hidup dalam tabung yang mereka bangun dengan lendir dan partikel lumpur di dasar. Jenis lain tinggal di dasar laut pada siang hari dan berenang bersama plankton pada malam hari. Beberapa amphipoda merupakan bagian dari holoplankton dan menjadi bagian penting dari populasi plankton.

Beberapa Amphipoda menggunakan ubur-ubur  untuk habitatnya di plankton. Mereka sebagai parasit atau bersimbiosis dengan ubur-ubur. Satu kelompok Amphipoda yang aneh adalah kaprellid bentuknya hampir menyerupai belalang sembah dan panjangnya dapat mencapai 2,5 cm dan sangat ramping. Mereka hidup di ganggang laut. Umumnya ditemukan pada hidroid. Ada marga yang terkecuali dalam bentuk, yakni pipih atas-bawah seperti isopoda, yakni Cyamus atau kutu paus, parasit pada ikan paus.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 8.82 Cyamus sp. atau Kutu paus

 

  1. Ordo Euphausiacea

Hewan ini seperti udang tapi kecil (sampai 6 cm) dengan mata majemuk yang umumnya terletak pada tangkai, alat cahaya yang biasanya terdapat pada dasar mata dan di tubuh, insang pada kaki-kakinya tidak ditutupi karapas yang menutupi delapan ruas pertama Crustacea, kakinya bercabang dua (biramous) dan beberapa jenis tembus-pandang, lainnya berwarna merah. Ada satu jenis udang dari ordo ini yang dinamakan krill, yang dalam jumlah sangat besar menjadi makanan jenis ikan paus tertentu.

Contoh : Udang Krill (Meganyctiphanes norvegica)

Gambar 8.83 Meganyctiphanes norvegica

  1. Ordo Decapoda

Decapoda (deca= 10; pous= kaki) berarti hewan berkaki sepuluh. Ordo ini sangat penting, baik dari segi ekonomi maupun biologi, terdiri dari enam ribu jenis Crustacea berukuran besar atau lebih kecil dan banyak dikenal orang. Karapasnya menutupi seluruh dad, ada tiga pasang maksiliped, lima pasang kaki-jalan, pasang pertama biasanya lebih besar daripada pasang kaki yang lain, dengan capit pencubit dan kebanyakan hidup di laut. Decapoda biasa dibagi menjadi tiga kelompok menurut bentuk abdomennya, yaitu Macrura, , Brachyura dan Anomura.

  1. Kelompok Macrura

Kelompok Macrura mempunyai bentuk tubuh yang memanjang, terdiri dari kepala-dada dan abdomen (yang kadang-kadang juga disebut ekor). Kaki beruas enam. Pada bagian kepala terletak dua pasang antena, sepasang mata bertangkai, dan lima pasang kaki-jalan sedangkan dekat pada bagian ekor terletak enam pasang kaki renang, sepasang untuk tiap ruas, sebuah telson dan dua pasang uropod.

Contoh dari kelompok ini yaitu Udang Barong (Panulirus versicolor) yang terdapat di kepulaluan Seribu. Udang ini mudah dikenal dari bentuk dan warnanya. Warna badannya hijau dengan garis-garis melintang putih. Mereka tinggal di dalam gua-gua karang hidup. Kadang-kadang sampai beberapa puluh meter di bawah air. Hampir dijumpai di semua pulau karang di Indonesia. Kepalanya juga hijau dengan bercak-bercak putih. Tangkai antenanya merah muda. Rupanya mirip-mirip barongsai, karena itu udang ini dinamakan udang barong. Udang ini dapat mencapai berat beberapa kilogram seekornya. Udang barong pada waktu-waktu-waktu tertentu berganti kulit dan dalam keadaan ini ia lemah sekali dan mudah menjadi mangsa musuh-musuhnya yang berupa ikan-ikan buntal dan jenis-jenis gurita tertentu. Untuk membedakan jantan dan betina yang termudah adalah dari letak dan bentuk kelaminnya. Letak kelamin jantan ada di dasar pasangan kaki-jalan yang kelima dan berbentuk suatu benjolan berlubang, yang merupakan lubang kelamin. Lubang kelamin betina terletak di pasangan kaki-jalan ketiga.

Contoh lain dari kelompok ini yaitu udang karang (Panulirus dasypus). Udang ini tinggal dalam gua-gua karang yang biasanya lebih dalam dari tempat udang barong. Seperti halnya dengan udang barong, udang karang mempunyai rasa yang lezat. Udang karang dibedakan dari udang barong hanya karena warnanya yang tidak menyerupai barongsai. Udang karang terdiri dari beberapa jenis.

  1. Kelompok Brachyura

Yang termasuk dalam kelompok brachyura adalah berbagai jenis kepiting, kelompok hewan laut ini memiliki bentuk yang lebar melintang. Secara umum kepiting ini struktur dasarnya memilik bagian-bagian yang tidak jauh berbeda dengan udang.  Brachyura bagian abdomennya tidak  terlihat, karena melipat ke dadanya. Kaki renangnya tidak berfungsi sebagai alat renang, serta tidak memiliki telson dan uropod.

Gambar 8.84 Morfologi Brachyura

 

Kepiting jantan dan kepiting betina dapat dibedakan dari abdomennya. Bentuk abdomen jantan umumnya sempit dan meruncing dan ke depan, sedangkan bentuk abdomen betina melebar dan setengah lonjong (elips).

Untuk mengetahui jenis-jenis Crustacea, kita perlu mengetahui bagian-bagian tertentu yang biasa digunakan dalam taksonomi hewan. Bagian-bagian penting dalam pengenalan jenis-jenis dari suku Portunidae (radungan) adalah :  karapas, beserta bagian-bagiannya, jumlah, bentuk dan sifat duri atau gigi dari rostrum, jumlah, bentuk dan sifat duri atau gigi dari tepi antero-lateral, bentuk sudut postero-lateral, ruas-ruas kaki jalan terutama dari pasangan kaki pertama yang berbentuk capit dan dari pasangan kaki terakhir (kelima) yang berbentuk dayung,  bentuk abdomen jantan dan  bentuk pleopod pertama (alat kelamin jantan), bentuk alat-alat mulut, terutama maksiliped III, bentuk ruas dasar antenna.

Decapoda mempunyai sepasang pengecualian sepasang embelan pada setiap ruas kecuali pada ruas pertama, yaitu dengan penecualian pada antenna pertama, semua  embelan mempunyai morfologi sama, yang merupakan asal-usul dari bentuk dasar embelan.

Ruang-ruang brakial atau ruang-ruang pernafasan terletak di bawah brankkiostegit atau atap insang. Masing-masing ruang dilindungi oleh selaput kutikular yang memisahkannya dari hepatopankreas di sebelah anterior dan dari bagian dalam karapas di sebelah posterior. Bagian ventral  dibatasi oleh brankiostegir di sebelah luar dan oleh dinding tubuh di sebelah dalam. Ujung depan masing-masing ruang insang mmenyempit dan di belakangnya terletak suatu ruang pompa kecil melindungi skapognatit.  Atap ruang pompa terbentuk dari selapis kutikular yang diperkuat oleh kerangka, bagian posterior  didasari oleh perluasan pangkal epipod dari maksiliped I dan disebelah anterior oleh eksopod dari maksiliped I dan II.

Insang-insang dihubungkan dengan pangkal embelan-embelan di dada, ada tiga macam kedudukan bermula munculnya insang sehingga insang-insang tersebut mempunyai nama-nama yang berbeda, sebagai berikut :

  1. Podobrankial muncul dari epipod
  2. Artobrankial dari hubungan embelan tubuh dan tubuh
  3. Pleurobrankial dari dinding tubuh

Rajungan pada umumnya mempunyai sembilan insang pada masing-masing ruang brankial, yaitu :

  1. Maksiliped II masing-masing terdapat satu podobrankial dan satu artobrankial
  2. Maksiliped III mempunyai satu podobrankial yang tumpul dan dua artobrankial
  3. Capit mempunyai artobrankial
  4. Kaki jalan I dan II masing-masing mempunyai pleurobrankial tunggal

Di dalam ruang brankial juga terletak maksiliped-maksiliped dan epipod-epipod, maksiliped II dan III membersihkan permukaan ventral insang-insang. Sedangkan epipod maksiliped I yang panjang menyapu permukaan dorsal insang-insang. Arus pernafasan masuk ke ruang ke ruang brankial melalui celah-celah yang berambut antara kaki jalan dan ujung bawah dari brankiostegit. Lubang atau pintu terbesar Milne-Edwards opening terletak di atas basis capit. Setelah air melalui insang lau menuju ke ruang hipobrankial di bwah insang. Masing-masing insang dibentuk oleh satu seri lempeng atau lamella yang diatur di kedua sisi aksis pusat yang pipih dan arus pernafasan mengalir ke atas melalui lamela-lamela ke ruang epibrankial di bawah insang. Pertukaran gas terjadi pada saat arus melewati antara lamella-lamela. Hal ini dilakukan oleh sistem arus yang teratur. Dengan sistem ini darah mengalir di dalam lamella-lamela dari arah yang berlawanan dengan aliran air diantara lamella.

Dalam masing-masing ruang brankial, arus air keluar mengalir ke depan, ke dalam ruang pompa. Dari ruangan skapognatit, air dikeluarkan melalui lubang pengeluaran. Masing-masing skapognatit merupakan pergerakan naik turun yang diatur oleh suatu sistem operasi otot berlawanan pada irisan-irisan kutikel. Ada dua gelombang perdetik bergerak dari posterior ke anterior sepanjang skapognatit yang mendorong air menuju ruang pompa. Lubang pengeluaran terletak di kedua sisi epistoma tepat di bawah mulut dan arus yang keluar dari sistem tersebut dapat sangat kuat dan membantu menyemprotkan air sampai kosong.

Sistem sirkulasi darah pada rajungan disebut sistem sirkulasi darah hemosoelik atau terbuka, yaitu terjadi kontak langsung antara darah dan jaringan. Sistem ini sangat berbeda dengan sistem sirkulasi darah pada vertebrata yang mempunyai sistem sirkulasi melalui pembuluh darah tertutup. Sistem sirkulasi darah terbuka pada crustacea menyebabkan hilangnya rongga tubuh, karena sinus-sinus darah memenuhi celah antara jaringan dan organ-organ tubuh, membentuk rongga tubuh yang dipenuhi darah, yaitu hemosoel. Rongga tubuh sendiri terbatas pada rongga-rongga ekskresi dan organ-organ perkembangbiakan.

Tetapi meskipun banyak volume darah memenuhi ruang hemosoel, ada tambahan sistem pembuluh darah yang sangat nyata, terutama pada sisi arterial, yakni melalui pembuluh arteri darah yang dipompa dari jantung sehingga suatu jaringan sirkulasi darah dapat dikelola.

Kelompok Brachyura mempunyai jenis-jenis yang dapat dimakan, terbanyak di antara crustacea lainnya. Kepiting ada yang dapat berenang, yakni yang dapat ditandai dari ujung pasangan kaki terakhir yang pipih berbentuk dayung, sedangkan jenis-jenis lain hanya dapat merayap, yakni jenis-jenis yang pasangan kaki terakhirnya tidak berbentuk dayung, tetapi meruncing ujungnya seperti pasangan-pasangan kaki yang lain. Kepiting yang dapat berenang (swimming crabs) sebagian besar terdiri dari jenis-jenis rajungan. Di Teluk Jakarta terdapat  sedikitnya tujuh jenis rajungan ini..

Berikut ini beberapa contoh kepiting yang sering kita jumpai :

  1. Kepiting (Scylla serrata)

Terdapat ditambak ikan dekat pantai, hidup dalam lubang-lubang atau terdapat pada pantai-pantai yang ditumbuhi bakau. Jenis kepiting ini ditangkap dengan pancing atau  kait. Capitnya merupakan bagian yang banyak  dagingnya, kepiting dapat dikenal  dari bentuknya yang membulat dan kuat, yang di kiri kanan mulutnya, masing-masing terdapat sederetan duri-duri yang berjumlah sembilan buah dan berwarna hijau kotor.

  1. Rajungan (Portunus pelagicus)

Jenis kepiting ini hidup  di daerah pantai berpasir lumpur dan diperairan depan hutan mangrove. Mereka membenamkan diri di dalam pasir. Bentuk dan  warna rajungan ini sangat menarik dan ada perbedaan antara jantan dan  betina. Duri  di kiri kanan matanya berjumlah sembilan buah. Warna jantan adalah dasar biru dengan bercak-bercak putih sedangkan jenis betina dasar hijau kotor  dengan  bercak-bercak putih kotor. Rajungan sering tertangkap dalam jaring tangsi dan jaring kejer yang dibentangkan pada malam hari di tempat yang banyak rajungan. Tetapi dengan jalan ngobor, rajungan tersebut dapat ditangkap dari tempat di mana mereka bersembunyi, beratnya mencapai ±400 gram.

  1. Rajungan Bintang (Portunus sanguinolentus)

Jenis hewan ini sering tertangkap oleh jaring dasar di perairan dekat. Bentuk rajungan bintang hampir serupa dengan rajungan di atas dengan Sembilan duri di kiri kanan matanya, tetapi warnanya berlainan. Warna dasar punggung hijau kotor, di samping itu terdapat tiga bulatan merah coklat yang berjajar melintang pada bagian punggung belakang.

  1. Rajungan Karang (Charybdis feriatus)

Jenis rajungan ini biasa ikut tertangkap dalam jaring dasar perairan dalam jaring dasar perairan dekat pantai. Jumlah duri di kiri kanan matanya masing-masing enam buah. Rajungan ini mudah  dikenal  karena pada punggungnya terdapat lukisan tanda salib di bagian depan.

  1. Rajungan Hijau atau Kepiting Batu (Thalamita crenata)

Mereka hidup di pantai-pantai yang dangkal dan payau-payau bakau. Warna hijau kemerah-merahan, bagian luar capitnya licin, lima duri terdapat I kiri kanan matanya. Ukuran terbesar dapat mencapai seperti kepiting biasa.

  1. Rajungan batik (Charybdis natator)

Jenis rajungan ini dapat ditangkap dengan jaring dasar atau kadang-kadang juga tertangkap dengan bagan waktu  sedang berenang. Punggungnya bergaris-garis putus melintang. Jumlah duri di kiri kanannya masing-masing enam buah. Capitnya mempunyai banyak duri dan bintil. Mereka dapat mencapai ukuran lebih besar daripada rajungan yang terbesar.

  1. Rajungan Angin (Podophthalmus vigil)

Rajungan ini biasa tertangkap dalam jaring dasar di perairan pantai.  Mereka mudah dikenal karena mempunyai tangkai mata yang amat panjang dan hanya sebuah duri di ujung kiri kanan punggungnya.

  1. Kepongok (Cardisoma carnifex)

Mereka hidup di daerah bakau-bakau dan tinggal dalam lubang yang digalinya sendiri. Lubangnya ditutupi dengan dengan onggokan tanah yang cukup tinggi. Kepiting ini kadang-kadng didapatkan membuat lubang dibawah tempat tidur dalam rumah penduduk pulau dimana hewan ini banyak terdapat. Mereka banyak berkerumun dan merayap diantara bakau-bakau pada malam hari.

 

  1. Kelompok Anomura

Golongan crustacea ini mempunyai bentuk yang merupakan peralihan antara kedua golongan crustacea yang telah diterangkan. Jenis yang akan diterangkan disini adalah jenis Anomura  yang bentuknya lonjong mirip bentuk kipas. Dari golongan ini hanya satu jenis yang telah diketahui merupakan makanan yang popular di daerah tertentu.

  1. Undur – Undur (Emerita )

Kepiting pasir (undur-undur laut), mempunyai mata bertangkai, tubuh oval  tertutup karapas keras. Mereka pemakan penyaring, hidup membenamkan diri dalam pasir di pantai laut, di daerah pecahan ombak, meliang dengan ekornya lebih dahulu. Di daerah tertentu (pantai selatan Yogyakarta) hewan ini disebut undur-undur dan merupakn makanan yang popular. Mereka ditangkap dalam jumlah besar dengan mengeduk pasir di sepanjang garis pantai dimana mereka terdapat. Undur-undur ini biasa membenamkan diri di pasir dengan hanya memunculkan sungutnya saja untuk menangkap  makanan yang disapu ombak. Satu hal yang menarik ialah bahwa hewan ini selalu berusaha berada tepat dibawah garis air, karenanya mereka bergerak menurut naik turunnya  pasut. Undur-undur biasa dibuat rempeyek. Di pulau Seribu didapatkan di beberapa pulau, tetapi jumlahnya hanya satu dua saja.

Gambar 8.85 Emerita sp.

 

Jenis-jenis hewan lain dari kelompok ini adalah kelomang, yang merupakan transisi antara udang dan kepiting. Abdomennya tak terlindungi, mereka mencapai cangkang keong untuk melindungi dirinya, memakan apa saja, termasuk  daging dan alga. Kelomang nenek moyang dari jenis kepiting lain di darat seperti kepiting kelapa, Birgus latro, Kepiting perselin (Porcellanidae), menghuni daerah cadas dan hidup berpasangan. Mempunyai capit besar untuk perlindungan dan makan. Capitnya dapat dilepas jika capitnya dipegang, demikian juuga kakinya, hidup juga di batu, ganggang dan lading karang.

 

  1. Ordo Stomatopoda

Stomatopoda yang banyak dikenal sebagai udang ronggeng mempunyai bentuk tubuh yang menyerupai belalang sembah (mentis) dalam bahasa Inggrisnya disebut manthis-shrimp. Sromatopoda terdiri dari empat keluarga yang kesemuanya dapat dimakan.  Mereka kurang begitu dikenal, karena selain banyak yang berukuran kecil juga umumnya terdapat dalam jumlah kecil.

Tubuh hewan laut ini memanjang dengan abdomen lebar, karapas menutupi tiga dari tujuh  ruas dada, mata bertangkai, ada insang yang terletak pada lima embelan abdomen pertama. Pasang kedua dari maksiliped sangat besar dan agak berbentuk capit, sehingga membuat hewan ini seperti belalang sembah. Tubuh terdiri dari  ruas-ruas kepala, dada dan abdomen. Kepala ditutupi karapas, yang menutupi kepala dan sebagian  ruas-ruas dada. Ruas-ruas dada yang terlihat adalah ruas-ruas ke-5, ke-6, ke-7 dan ke-8. Kaki tiga pasang dan terletak pada ruas-ruass dada ke-6, ke-7 dan ke-8. Abdomen terdiri dari enam  ruas, permukaan atas dari abdomen ini licin atau bergaris-garis. Telson berbentuk seperti kipas dan mempunyai permukaan yang halus bergaris-garis, berbentol-bentol atau berduri-duri. Ciri khas lainnya ialah berubahnya salah satu umbai-umbai mulut (maksiliped III) menjadi kaki penangkap untuk memegang dan menyobek mangsanya. Kaki penangkap ini kadang-kadang bergigi dan kadang-kadang tidak.

Stomatopoda hidup dalam lubang-lubang yang digalinya sendiri di pantai-pantai yang berpasir lumpur, dalam lubang atau celah-celah batu karang dan juga terdapat jenis-jenis yang membenamkan diri dalam pasir atau lumpur. Stomatopoda keluar mencari makan terutama di  malam hari, hewan ini tinggal  di dalam lubang-lubang yang sewaktu-waktu dapat keluar untuk menangkap mangsanya.

Jenis-jenis udang ronggeng yang mempunyai ukuran cukup besar dan umum dimakan di Indonesia adalah jenis  Lysiosquilla maculate, Harpiosquilla raphidea, Oratosquilla sp. dan jenis-jenis udang ronggeng yang lebih kecil dipergunakan juga sebagai bahan-bahan campuran pembuatan terasi.

Beberapa jenis yang banyak dikenal di Indonesia adalah sebagai berikut :

  1. Udang Pengko (Lysiosquilla maculata)

Udang ini tinggal di dalam lubang-lubang yang dibuatnya sendiri di pantai-pantai yang berpasir lumpur. Udang pengko dapat dengan mudah dikenal dari warnanya yang putih kekuning-kuningan dengan jalur-jalur melintang hitam kecoklat-coklatan yang menghias seluruh permukaan tubuhnya dari kepala sampai ekor. Kaki penangkap  mempunyai gigi-gigi yang tajam berjumlah 9-10 buah. Udang ini hidup dalam lubang-lubang yang mempunyai bentuk istimewa dan dengan mudah dapat segera dikenal. Tepi lubang ditutupi oleh pasir-pasir halus atau lumpur yang dicampur dengan hasil sekresinya yang berupa zat perekat, sehingga menjadi agak lekat dan menutupi sebagian dari lubangnya sehingga mulut lubang tersebut terlihat lebih kecil daripada yang sebenarnya.  Lubang ini dapat dibentuk lurus atau melengkung dan dalamnya kadang-kadang lebih dari 1 meter, dan udang ini mempunyai rasa yang manis dan gurih.

Cara menangkap dengan alat pancing jerat, alat ini dimasukan ke dalam lubang yang diduga ada udangnya dengan memberi umpan yang ditusukan pada tangkai jerat bagian bawah. Mata jeratnya diatur sebesar lubang udang, tangkai bagian atasnya diberi tanda dengan daun atau kertas dengan tujuan agar bila umpan sedang dimakan, tanda ini dapat dilihat dari tempat yang agak jauh. Jerat dimasukan sedalam-dalamnya dan ditunggu beberapa lama. Jika terlihat tangkai jerat bergerak-gerak (dapat dilihat dari tanda-tanda yang dipasang), maka itu adalah pertanda umpan sedang dimakan. Tali jerat kemudian dapat ditarik.

 

  1. Udang ronggeng atau udang mantis (Harpiosquilla )

Udang ini membenamkan diri di pasir atau lumpur. Udang-udang dari marga Harpiosquilla mempunyai ukuran yang agak besar. Ruas-ruas dada dan abdomen bergaris-garis memanjang yang berjumlah 6-8 buah. Kaki penangkap berduri-duri tajam pada lengannya dipersenjatai dengan 7-9 buah gigi yang tajam. Udang ini ditangkap dengan mempergunakan jaring dasar atau kadang-kadang dengan sudu.

  1. Udang ronggeng (Oratosquilla )

Udang ini membenamkan diri di pasir atau di lumpur. Kadang-kadang beberapa diantaranya terdapat di muara-muara sungai yang berbatasan dengan laut dan mempunyai ukuran yang cukup besar. Udang dari marga ini kadang-kadang terdapat dalam jumlah yang cukup besar, yang paling umum adalah Oratosquilla nepa yang seringkali tertangkap di muara-muara sungai yang berbatasan dengan laut.

 

2.6. Manfaat dan Kerugian Pada Kelas Crustacea

Jenis Crustacea yang menguntungkan antara lain :

  1. Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misalnya udang, kepiting.
  2. Dalam bidang ekologi, hewan yang tergolong zooplankton menjadi sumber makanan ikan, misalnya anggota Copepoda.

Jenis Crustacea yang merugikan antara lain :

  1. Merusak pematangan sawah atau saluran irigasi, misalnya kotam
  2. Parasit pada ikan, kura-kura, misalnya anggota Ciripedia
  3. Merusak galangan kapal oleh anggota isopoda

 

 

 

RANGKUMAN

 

 

 

 

 

  • Uniramia berasal dari bahasa Latin unus berarti satu dan ramo berarti cabang karena semua apendik pada ruas tubuhnya uniramus. Pada setiap ruas kepala terdapat sepasang antena, sepasang mandibel dan sepasang maksila. Sebagian besar hidup di darat, beberapa di air tawar dan sedikit di laut. Terbagi menjadi 5 kelompok yaitu kelas Diplopoda, Chilopoda, Pauropoda, Symphilla, Insecta
  • Diplopoda berasal dari kata di = dua dan podos=kaki, Jadi Diplopoda adalah kelas hewan yang memiliki dua pasang kaki.
  • Kelas Diplopoda atau yang dikenal dengan luing (kaki seribu) merupakan kelas dari Subfilum Unimaria
  • Kelas chilopoda merupakan bangsa lipan yang berbadan panjang dan pipih dengan bagian badan terdiri dari kepala dan batang badan. Jumlah ruas pada batang badan bervariasi tergantung pada ordo masing-masing, jumlah ruas bisa mencapai 190 ruas.
  • Chilopoda beranggotakan Ordo Scolopendromorpha, Lithobiomorpha, Scutigeromorpha, Geophilomorpha.
  • Anggota Pauropoda ini berukuran kecil dengan panjang tubuh 0,5 sampai 2 mm. Tubuh berbentuk silindris dan bersegmen. Hewan ini tidak berwarna, namun ada juga yang berwarna kecoklatan atau putih. Tubuh dibedakan atas kepala dan badan. Antena hewan ini bercabang 3 dan tidak memiliki mata.
  • Symphyla adalah hewan yang kecil, hidup dalam tanah basah. Mempunyai 12 pasang kaki, sepasang antena. Contoh : Scolopendrella sp.
  • Kata insekta, berasal dari bahasa latin, insect yang berarti serangga. Insekta termasuk salah satu anggota dari filium Arthropoda. Banyak anggota insekta yang dapat ditemukan disekitar kita misalnya lalat, kupu- kupu, kecoak, jangkrik, semut, nyamuk dan belalang. Anggota insekta sangat beragam, tetapi memiliki cirri khusus, yaitu kakinya berjumlah enam buah,sehingga disebut juga hexapoda (hexa = enam, podos = kaki).

 

 

CHELICERATA

  • Subfilum Chelicerata meliputi berbagai jenis laba-laba, kalajengking, tungau dan mimi. Kebanyakan anggotanya berukuran kecil dan hidup di daratan pada daerah yang kering dan hangat. Banyak jenis Chelicerata yang mempunyai kelenjar racun dan rahang atau taring beracun sebagai sarana untuk membunuh mangsa, kemudian menghisap cairan tubuh atau jaringan lunaknya.
  • Chelicerata terdiri atas 3 kelas, yaitu : Merostomata, Arachnida dan Pygnogonida.
  1. Merostomata; terdiri dari 2 bangsa yaitu Xiphosura (mimi) dan Eurypterida. Pada masa kini tinggal 4 jenis dari 3 keluarga yang masih hidup, yaitu Limulus polyphemus, Tachypleus tridentatus, Tachypleus gigas (mimi bulan) dan Carcinoscorpius rotundicauda (mimi ranti) Sedangkan Eurypterida merupakan fosil pada periode Ordovician.
  2. Arachnida; termasuk dalam kelas ini adalah laba-laba, kalajengking, tungau (mite) dan kutu (ticks). Terdapat lebih dari 62.000 jenis yang termasuk dalam 11 bangsa, perlunya perhatian khusus karena kaitannyadengan tatanan ekonomi kehidupan manusia. Bidang ilmu khusus tentang arachnida disebut acarologi. Adapun bangsa dari Arachnida adalah; Acari, Amblypygi, Araneae, Opiliones, Palpigradi, Pseudoscorpionida, Ricinulei, Schizomida, Scorpiones, Solpugida, dan Uropygi
  3. Pygnogonida; dikenal sebagai laba-laba laut (sea spider), karena bentuknya seperti laba-laba dan berjalan di dasar laut, pada koloni hydroid dan bryozoa. Diketahui 1.000 jenis yang termasuk dalam satu bangsa yaitu Pantopoda.

 

CEPHALOPODA

  • Ciri khas kelas Cephalopoda ini yaitu memiliki tentakel di sekitar kepalanya yang berfungsi seperti tungkai (lengan dan kaki), sebagian jenisnya dilengkapi dengan alat penghisap. Tubuhnya simetri bilateral, memiliki mata yang berkembang dengan baik meskipun tanpa kelopak, bersifat karnivora, bernapas dengan insang, dan memiliki statocist sebagai alat keseimbangan serta sepasang indera pembau. Cara mereka melindungi diri dari serangan musuh yaitu dengan mengeluarkan cairan hitam dari kantung tinta yang dimilikinya, dan merubah warna kulit sesuai dengan lingkungannya.
  • Sistem pencernaan makanan Cephalopoda terdiri atas rongga mulut, faring (terdapat rahang kitin dan radula), esofagus, lambung, sekum, intestin, rektum, dan anus. Juga dilengkapi dengan kelenjar pencernaan yang terdiri atas kelenjar ludah (terdapat di permukaan sebelah dorsal faring), pankreas, dan hati (terletak di bagian akhir faring).
  • Sistem peredaran darah pada Cephalopoda bersifat ganda dan tertutup, bernapas dengan insang, dan memiliki sepasang nefridia yang berfungsi sebagai ginjal sebagai alat ekskresi. Sistem syarafnya terdiri atas beberapa pasang ganglia yang umumnya terdapat di daerah kepala, yaitu ganglion serebral, pedal, visceral, supra bukkalis, infra bukkalis, stellata, dan ganglion oftis.
  • Sistem reproduksi Cephalopoda terjadi secara seksual dengan fertilisasi internal, sel kelaminnya terpisah, saluran gonad terletak di rongga mantel dekat anus. Pada kebanyakan hewan jantan salah satu tangannya mengalami modifikasi (disebut hectocotylus) yang berfungsi untuk mentransfer kapsul sperma (spermatophori) ke rongga mantel hewan betina.
  • Cephalopoda menghuni di sebagian besar wilayah laut, termasuk perairan pasang, laut/perairan yang berbatu ataupun dasar berpasir, terumbu karang, padang lamun, rawa-rawa bakau, perairan pesisir, juga di laut terbuka yang dangkal hingga mencapai kedalaman 16.000 kaki (5000 m).
  • Kelas Cephalopoda dibagi menjadi 2 ordo, yaitu tetrabranchiata (memiliki satu famili; Nautilidae) dan dibranchiata (dengan dua sub ordo; decapoda dan octapoda).
  • Ordo Tetrabranchiata memiliki mata sederhana, cangkang luar dari kapur yang membelit, tertutup dan memiliki beberapa tentakel tanpa alat penghisap, mempunyai dua pasang insang berganda serta dua pasang ginjal (nefridia) dan tidak mempunyai kromatofora dan kantung tinta.
  • Ordo Dibranchiata tanpa cangkok, kalau ada mengalami reduksi dan terdapat di dalam tubuh. Cangkok/cangkang terdiri atas zat kapur atau zat tanduk, mempunyai kantung tinta, sepasang insang, sepasang ginjal (nefridia), memiliki kromatofora, memiliki 8-10 jerait dengan alat penghisap, mempunyai mantel dan matanya lebih kompleks. Ordo Dibranchiata dibagi menjadi 2 sub ordo yaitu Subordo decapoda (Bercangkok kitin atau kapur dan terdapat dalam tubuh) dan Subordo octapoda (tak memiliki cangkang kecuali genus Argonauta)
  • Kebanyakan Cephalopoda memiliki nilai ekonomis tinggi, mereka dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, binatang peliharaan, perhiasan, korset untuk wanita, sebagai umpan pada jaring ikan, sumber kalsium untuk burung peliharaan, bahkan sekedar hiburan dengan memanfaatkan kecerdasannya untuk meramal.

 

 

 

 

 

SOAL LATIHAN

 

 

 

  1. Pilihan Ganda
  1. Di bawah ini yang tidak termasuk salah satu kelas dalam Arthropoda adalah ….
  1. Insecta
  2. Myriapoda
  3. Echinodermata
  4. Arachnoidea
  1. Pedipalpus pada Arachnida berfungsi sebagai….
  1. Alat pertahanan diri
  2. Alat pemegang mangsa
  3. Alat gerak
  4. Kelenjar penghasil toksin
  5. Alat untuk menusuk dan melumpuhkan mangsa
  1. Kalajengking yang memiliki kelenjar racun pada ujung ekornya tergolong ……
  1. Insecta
  2. Arachnida
  3. Myriapoda
  4. Hexapoda
  5. Crustacea
  6. Zat racun yang dikeluarkan oleh kalajengking dihasilkan oleh….
  7. kaki rahang yang berbentuk gunting pada bagian kepala
  8. semua ujung-ujung kaki.
  9. kelenjar di dalam mulutnya
  10. sengat yang merupakan modifikassi segmen terakhir dari abdomen
  11. kelenjar pada segmen pertama badaan belakang.
  12. Laba-laba menangkap mangsanya dengan menggunakan ….
  13. Benang-benang sarang
  14. Antena
  15. Alat cucut
  16. Racun yang disemprotkan
  17. Sengat
  18. Berikut merupakan salah satu struktur tubuh dari insekta, kecuali…
  19. Kepala (caput)
  20. Dada (toraks)
  21. Perut (abdomen)
  22. Kaki (podos)
  23. Tahap perkembangan Insekta dimana Insecta muda yang menetas mirip dengan induknya, tetapi ada organ yang belum muncul, misalnya sayap. Ialah….
  24. Ametabola
  25. Metabola
  26. Hemimetabola
  27. Holometabola
  28. Klasifikasi insekta berdasarkan tipe makanan yang memakan materi-materi organik yang telah mati adalah….
  29. Zoofagus
  30. Saprofagus
  31. Fitofagus
  32. Holofagus
  33. Kutu buku atau rengat termask dalam ordo….
  34. Ordo thysanura
  35. Ordo collembolan
  36. Ordo protura
  37. Ordo diplura
  38. Kelompok Insekta yang sayapnya berasal dari tonjolan luar dinding tubuh ialah….
  39. Endopterygota
  40. Eksopterygota
  41. Holometabola
  42. Hemimetabola
  43. Berikut yang bukan merupakan ciri umum dari ordo orthoptera adalah….
  44. Eksokleton
  45. Bersegmen
  46. Tripoblastik selomata
  47. Dipoblastik selomata
  48. Belalang bersungut panjang atau yang memiliki antenna panjang yang meyerupai rambut termasuk dalam family …
  49. Family tettigonidae
  50. Family gryllidae
  51. Family mantidae
  52. Blattidae
  53. Sistem sirkulasi pada serangga ialah …
  54. System sirkulasi tertutup
  55. System sirkulasi satu kali
  56. System sirkulasi terbuka
  57. System sirkulasi dua kali
  58. Tahapan metamorphosis sempurna dalam insekta ialah …
  59. Telur – dewasa – pupa – imago
  60. Telur – nimfa – imago – pupa
  61. Telur – pupa – nimfa – imago
  62. Telur – nimfa – pupa –imago
  63. Culex fatigans termasuk dalam serangga dengan tipe mulut …
  64. Menjilat dan Menggigit
  65. Menjilat dan menghisap
  66. Menusuk dan menghisap
  67. Menghisap dan menggigit

 

  1. ESSAI
  2. Jelaskan cirri-ciri umum pada kelas insekta!
  3. Bagaimanakah proses system respirasi pada insekta?
  4. Jelaskan perbedaan dari:
  5. Ametabola
  6. Hemimetabola
  7. Holometabola
  8. Sebut dan jelaskan kelompok insekta berdasarkan asal tumbuh sayapnya secara (eksopterygota)!
  9. Jelaskan peranan insekta dalam kehidupan sehari-hari?
  10. Cephalopoda adalah hewan yang cerdas, bagaimana salah satu contoh kecerdasan cephalopoda dalam upaya mempertahankan diri dari serangan musuh?
  11. Bagaimanakah proses penjagaan sang induk betina gurita terhadap anak-anaknya?
  12. Spesies apa sajakah dari Ordo Nautilidae yang masih bertahan hidup sampai sekarang?
  13. Apakah diantara seluruh spesies dari kelas Cephalopoda ada yang memiliki cangkang? Bagaimana susunan cangkangnya?
  14. Apa yang dimaksud dengan istilah-istilah berikut:
  15. Statocyst
  16. Kromatofor
  17. Tentakel
  18. Mantel
  19. Radula

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GLOSARIUM

 

 

 

 

A
Abdomen bagian diantara sekat rongga badan dan pinggul (perut bagian bawah)

 

Adaptasi Penyesuaian diri suatu organisme terhadap lingkungan tempat hidupnya.

 

Ametabola Adalah perkembangan insekta berupa pertambahan ukuran saja tanpa perubahan bentuk.
Anatomi Ilmu yang mempelajari struktur sel dan jaringan dalam tubuh makhluk hidup.

 

C
Culex

 

Sejenis nyamuk rumah yang menyebarkan larva cacing Filaria penyebab penyakit kaki gajah
D
Difusi

 

perembesan zat lewat membrane yang permeable terhadapnya, dari daerah yang konsentrasi zat tinggi ke daerah yang berkonsentrasi rendah
E
E

Ekdisis

 

pertukaran kulit
Ekosistem suatu tempat yang didalamnya terjadi hubungan saling ketergantungan antara makhluk hidup dengan lingkungan
Embrio

 

hasil individu baru dari dari pembuahan gamet betina oleh gamet jantan dan mengalami pertumbuhan sampai jadi bentuk definitive.
F
Familia

 

family;keluarga;satu tingkat taksus dalam klasifikasi.
Fertilisasi pembuahan
 

Fisiologi

ilmu yang berhubungan dengan fungsi organ tubuh
Fotoreseptor indra cahaya; yang terletak pada selaput jala (retina) mata, yang berupa sel

sensoris.

 

G
Ganglion

 

simpul saraf; gembungan urat saraf berisi sekumpulan perikarion (badan sel)
H
Habitat

 

Tempat hidup suatu makhluk hidup
Hemimetabola

 

(metamorfosis tidak sempurna), tahap perkembangan Insecta yang tidak sempurna, dimana Insecta muda yang menetas mirip dengan induknya, tetapi ada organ yang belum muncul
Holometabola

 

(metamorfosis sempurna), adalah perkembangan Insecta dengan setiap tahap menunjukan perubahan wujud yang sangat berbeda (sempurna dimulai dari fase telur – larva – pupa – imago.
I
Insekta Serangga
J
Juvenille Muda
K
Kaput

 

 

kepala; bagian atas
Klasifikasi Pengelompokan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan diri
O
Ordo

 

Tingkatan takson yang menghimpun beberapa famili.
P
Posterior

 

belakang, ujung.
S
Segmen lingkaran; batasan; sekat

 

Serasah lapisan-lapisan sampah daun yang ada di hutan.
Simbiosis keadaan hidup bersama secara erat antara dua organisme yg berbeda
Sirkulasi peredaran zat; dalam sel atau dalam tubuh
T
Toraks dada
Trakea sistem pipa pernapasan pada serangga

 

Trakeol percabangan trakea
Tubulus Malpighi pembululuh; pipa halus

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

Anonym.2011.”anatomilebah “.http://dwibeltim.blogspot.com/2011/03/lebah.html .diakses 08 oktober 2012 Anonym..2011.”anatomi lebah “.http://landungpujisantoso.blogspot.com/2011/01/perubahan-bentuk-tubuh-lebah.html.diakses 08 oktober 2012

Anonym.2011.”anatomy lebah “.http://lebah.info/anatomi-lebah.diakses 08 oktober 2012

Galih.2011.Arthropoda. http://biologi- galih. blogspot. com/2011/01 /echin odermata -molusca-dan-antrophoda.html.(diakses pada 14.16 31 maret 2011).

Hasanudin, A.2011. Arthropoda http://akhmad-hasanuddin .blogspot. com/2011/01/artrhopoda.html.  diakses 12 oktober 2012

Hickman, Cleveland.et al. 2001. Integreted Principles of Biology eleventh edition.Mc Graw Hill.

Kastawi, Yusuf. et al. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang : UM Press

Muchydin.2009.Manfaat Kecoa.http://muchyidin-seputarkita.blogspot.com /2009/12/ manfaat-kecoa.html diakses 10 oktober 2012

Otang, Hidayat. 2004 Dasar-dasar Entomologi JICA. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Partosoedjono Soetiyono.1992.Pengenalan Pelajaran Serangga.Gajah mada University Press

Radiopotroe. 1989. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga

Rusyana ,adun.2011.Zoologi Invertebrata.Bandung.Alfa Beta

 

 

 

PENGERTIAN MEDAN DAN INDUKSI MAGNET

pada umumnya mendan dan induksi magnet munjul di sekitar magnet. benda -benda yang memiliki kemagnetan akan terpengaruh oleh medan magnet itu. sesuatu yang mengejutkan bila disekitar benda yang bukan termasuk megnetik terhadap medan magnetik. peristiwa keanehan tersebut ditemukan oleh oersted.

Hans christian oested pada tahun 1820 menemukan bahwa arus listrik dalam sebuah kawat penghantar padat menghasilkan efek negative efek magnetik yang ditimbulkan oleh arus tersebut dapat membelokan arah jarum kompas. Kaidah tangan kanan menyatakan bahwa jika kita memgenggam penghantar sehingga ibu jari kita menunjukan arah arus maka arus genggam jari yang lain menunjukan arah medan magnet induksi di skitar penghantar. sedangkan arah medan magnetik  disuatu titik searah dengan garis singgung lingkaran titik tersebut.

Hanya besi dan beberapa materi lain seperti kobait,nikel dan gadolium yang mebunjukan efek magnetim yang kuat. materi-materi ini disebut fermagnetik (dari kata latin ferrum untk besi ) semua materi lain menjunjukan sedikit efek magnetik tetapi sangat lemah dan hanya dapat dideteksi dengn instrumen yang peka. dengan cara yang sama kita dapat membayangkan medn magnet yang mengelilingi listrik. gaya yang diberikan suatu magnet terhadap yang lainnya dapat didekripsikan sebagai interaksi antara suatu magnet dengan magnt yang lain. sama dengan kita menggambarkan sepperti garis-garis medan magnet. garis-garis ini dapat digambarkan seperti garis-garis medan listrik, sedemikian sehingga arah medan magnet merupakan tangsial (gris singgung ) terhadap suatu titik mana saja dan jumlah garis persatuan luas sebanding dengan besar medan magnet.

Arah medan magnet pada suatu titik biasa didefinisikan sebagai arah yang di tunjuk kutub utara sebuah jarum kompas ketika diletakan di titik tersebut

 

LAPORAN PKL “Kalibrasi Alat Ukur Tekanan Menggunakan Dead Weight Tester dan Pompa Hidrolik

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Pada pengembangan minyak bumi dan gas, banyak alat ukur yang digunakan. Alat ukur yang digunakan harus menunjukkan pengukuran yang akurat. Ketidakakuratan penunjukkan alat bisa merusak sampel dan ketidaksahan hasil penelitian. Misalnya dalam pengambilan sampel minyak untuk dibawa ke laboratorium, tekanan sampel minyak harus dijaga sampai sampel tiba di laboratorium dan diteliti, jika tekanan berubah atau berbeda dengan tekanan asal sumber, maka sampel diasumsikan cacat. Oleh karena itu, diperlukan akurasi pengukuran tekanan. Alat ukur tekanan harus menunjukkan akurasi yang tinggi sehingga sampel tidak rusak.

Alat ukur pun harus memiliki ketertelurusan nasional maupun internasional. Hal ini diperlukan untuk menjaga kesamaan hasil pengukuran jika dilakukan pengukuran ulang dengan menggunakan alat ukur tekanan yang lain dengan situasi dan kondisi yang sama. Oleh karena itu, untuk menjamin hasil pengukuran agar sesuai dengan standar nasional/internasional dan menjaga alat ukur agar tetap sesuai dengan spesifikasinya, serta untuk menentukan deviasi kebenaran konvensional dari alat ukur, maka dilakukanlah kalibrasi terhadap alat ukur.

PPPTMGB ”LEMIGAS” Sebagai lembaga penelitian yang mengelola banyak peralatan laboratorium, perlu melakukan kalibrasi rutin atas peralatan yang digunakan. Hal ini perlu dilakukan mengingat ketatnya persyaratan pengujian percontohan di lingkungan industri migas.

Salah satu laboratorium kalibrasi yang dimiliki oleh PPPTMGB “LEMIGAS” adalah laboratorium kalibrasi tekanan. Laboratorium ini didukung oleh beberapa alat, antara lain Dead Weight Tester (DWT), Pompa Hidrolik, dan peralatan laboratorium lain yang mendukung. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk mengetahui teknik kalibrasi alat ukur tekanan sehingga peneliti nengambil judul Kalibrasi Alat Ukur Tekanan Menggunakan Dead Weight Tester dan Pompa Hidrolik”.

 

 

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, dapat diidentifikasikan berapa masalah yaitu :

  1. Bagaimana aplikasi teori tekanan dalam melakukan kalibrasi alat ukur tekanan?
  2. Bagaimana melakukan kalibrasi terhadap alat ukur tekanan?
  3. Bagaimana menentukan true value dari alat ukur yang dikalibrasi?

 

  1. Rumusan Masalah

Adapun  yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah

Bagaimanakah melakukan kalibrasi alat ukur tekanan dengan menggunakan Dead Weight Tester dan Pompa Hidrolik.

 

  1. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada:

  1. Kalibrasi tekanan menggunakan metode kalibrasi Dead Weight Tester dan Pompa Hidrolik.
  2. Test Gauge yang dikalibrasi dengan menggunakan metode kalibrasi Dead Weight Tester adalah Test Gauge dengan ukuran 2000 psi dan 4000 psi.
  3. Pressure Gauge yang dikalibrasi adalah Pressure Gauge dengan ukuran 15 psi dan 400 psi.

 


  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengenal dan melakukan teknik kalibrasi tekanan dengan menggunakan Dead Weight Tester dan Pompa Hidrolik.

Manfaat Penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai teknik kalibrasi alat ukur tekanan dengan menggunakan Dead Weight Tester dan Pompa Hidrolik.

BAB II

KEADAAN UMUM

PUSAT PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI “LEMIGAS”

 

  1. Sejarah Singkat PPPTMGB “LEMIGAS”

PPPTMGB “LEMIGAS” yang pada awalnya disebut sebagai Lembaga Minyak dan Gas Bumi, berdiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Nomor 17/M/Migas/65 tanggal 11 Juni 1965 dan Surat Keputusan Menteri Migas Nomor 208a/M/Migas/65 dengan memiliki 3 tugas pokok yaitu Riset, Pendidikan dan Pelatihan, serta Dokumentasi dan Publikasi di bidang perminyakan.

Latar belakang berdirinya Lembaga Minyak dan Gas Bumi adalah karena hampir semua pengetahuan, data dan tenaga ahli di bidang perminyakan dikuasai atau menjadi monopoli perusahaan-perusahaan asing, sedangkan lapangan maupun cadangan minyak dan gas bumi merupakan milik negara.

Pemerintah menyadari bahwa kebutuhan atas minyak dan gas bumi akan berkembang dengan pesat, dimana hal ini harus disikapi dengan kemajuan kemampuan teknis ilmiah serta teknologi, agar minyak dan gas bumi benar-benar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Seiring dengan berkembangnya industri minyak dan gas bumi di dunia, para pendiri Lembaga Minyak dan Gas Bumi telah mempelajari dari pihak-pihak luar atas kebutuhan suatu lembaga yang melakukan penelitian dan pengembangan di bidang minyak dan gas bumi untuk disesuaikan dan diterapkan. Maka sejak tahun 1977, Lembaga Minyak dan Gas Bumi berubah nama menjadi PPTMGB “LEMIGAS” berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan Nomor 646 Tahun 1977, tanggal 26 Desember 1977 yang kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1092 Tahun 1984, tanggal 5 Nopember 1984, PPTMGB “LEMIGAS” menjadi PPPTMGB “LEMIGAS”.

PPPTMGB “LEMIGAS” menjamin bahwa dalam menghasilkan jasa litbang selalu berupaya memenuhi persyaratan standart dan kepuasan pelanggan,

melaksanakan perbaikan berkelanjutan terhadap keefektifan sistem manajemen mutu, serta memastikan bahwa seluruh personel berperan aktif dan bertanggung jawab terhadap pencapaian sasaran mutu sesuai fungsinya, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 21.K/12/BLM/2003 tentang Struktur Organisasi, Tugas Pokok dan Fungsi Manajemen Mutu Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi “LEMIGAS” yang berdasarkan SNI 19-9001-2001atau ISO 9001:2000. Sedangkan untuk system mutu Peralatan Laboratorium saat ini LEMIGAS telah terakreditasi dengan SNI 19-17025 atau ISO 17025:1999.

Untuk memenuhi perioritas tertinggi dalam pelaksanaan operasional, maka LEMIGAS telah menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) yang mengacu pada standard internasional OHSAS 18001:1999 yang diperoleh dari TUV Internasional.

 

  1. Profil PPPTMGB “LEMIGAS”

LEMIGAS adalah lembaga penelitian dan pengembangan milik pemerintah yang beroperasi dalam bidang hulu dan hilir minyak dan gas bumi (migas) dan berperan besar dalam perkembangan industri migas melalui penelitian, perekayasaan dan pengembangan bidang migas.

Lembaga ini didirikan pada bulan Juni tahun 1965 sebagai wujud dari kepedulian dan keinginan bangsa Indonesia agar sumber daya alam migas dapat dikelola dengan sebaik – baiknya untuk kesejahteraan rakyat.

LEMIGAS melaksanakan penelitian – penelitian terapan untuk mengembangkan teknologi dibidang minyak, gas dan panas bumi. Kegiatan – kegiatan penelitian ini merupakan wujud tanggung jawabnya dalam memberikan sumbangan pemikiran dan pengetahuan kepada pemerintah dalam menentukan suatu kebijakan serta membantu memecahkan masalah – masalah dalam industri migas.

Komitmen kuatnya dalam menjalankan misinya ditunujukkan dengan program yang sedang dijalankan, yang sangat menentukan keberhasilan negara dalam pengelolaan energi, yaitu upaya penelitian dan pengembangan CBM (Coal bed Methane) untuk mendapatkan energi baru bagi kepentingan umum; pengembangan biodesel plant dalam rangka memproduksi biodesel sebagai energi alternatif untuk masa depan; membagun uji percontohan pencampur oli kendaraan atau LOBP (Lube Oil Blending Plant); dan dalam bidang gas bumi. LEMIGAS juga memiliki Sistem Demonstrasi Gas (Gas Demonstration System) yang dapat mensimulasi system transportasi gas dari sumbernya sampai ke pengguna langsung.

Kemampuan LEMIGAS dalam melaksanakan tugas – tugas penelitian dan pengembagan dari hulu ke hilir merupakan nilai tambah, keunikan dan kekuatan yang memliki potensi besar untuk dimanfaatkan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam bidang migas.

 

  1. Visi dan Misi PPPTMGB “LEMIGAS”

Adapun Visi dan Misi PPPTMGB “LEMIGAS” adalah sebagai berikut :

Visi PPPTMGB “LEMIGAS”:

” Terwujudnya Lemigas sebagai lembaga litbang yang unggul, profesional, bertaraf internasional di bidang Migas”.

 

Misi PPPTMGB “LEMIGAS”:

  1. Meningkatkan peran Lemigas dalam memberikan masukan kepada pemerintah guna meningkatkan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri Migas.
  2. Meningkatkan kualitas jasa litbang untuk memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
  3. Menciptakan produk unggulan dan mengembangkan produk andalan.
  4. Meningkatkan iklim kerja yang kondusif melalui sinergi, koordinasi serta penerapan sistem manajemen secara konsisten.

 

  1. Laboratorium Kalibrasi Tekanan PPPTMGB “LEMIGAS”

Sebagai lembaga penelitian yang mengelola banyak peralatan laboratorium, Lemigas perlu melakukan kalibrasi rutin atas peralatan yang digunakan. Hal ini perlu dilakukan mengingat ketatnya persyaratan pengujian percontohan di lingkungan industri migas. Laboratorium Kalibrasi terdiri dari Laboratorium Kalibrasi Suhu, Tekanan, Massa & Volume.

 

Kegiatan di Laboratorium Kalibrasi Tekanan meliputi:

  • Pelaksanaan Kalibrasi Tekanan.
  • Pengelolaan Sarana dan Fasilitas Laboratorium Kalibrasi Tekanan.
  • Pemberian Petunjuk Teknis dalam Bidang Kalibrasi Tekanan.
  • Pelayanan Jasa Kalibrasi Tekanan Baik Internal maupun Eksternal.
  • Pengolahan Data Kalibrasi Tekanan.
  • Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Di lingkungan Laboratorium Kalibrasi Tekanan.

 

Untuk kepentingan pengujian percontohan, laboratorium ini didukung oleh beberapa alat, antara lain Dead Weight Tester (DWT), Pompa Hidrolik, dan peralatan laboratorium lain yang mendukung.

 

(http://lemigas.esdm.go.id)

BAB III

TINJAUAN  PUSTAKA

 

  1. Kalibrasi
    1. Sistem Kalibrasi
      1. Definisi Kalibrasi

Menurut Direktori Kalibrasi KIM LIPI, kalibrasi adalah rangkaian kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai yang ditunjukkan oleh alat ukur, dengan membandingkan terhadap standar ukur yang mempunyai ketertelusuran kepada standar Nasional/Internasional.

Sedangkan menurut ASTM E 77-98, kalibrasi adalah penunjukan suatu alat ukur dengan perbandingan terhadap nilai yang ditunjukkan oleh standar yang menghasilkan koreksi skala saat diperlukan akurasi maksimum.

Kedua definisi tersebut menentukan koreksi dari alat ukur yang dikalibrasi terhadap standarnya, yang berarti teradap kebenaran konvensional.

 

  1. Tujuan kalibrasi

Tujuan dilakukannya kalibrasi adalah:

  • Menentukan deviasi kebenaran konvensional dari alat ukur.
  • Menjamin hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional/internasional.
  • Menjaga kondisi alat ukur tetap sesuai dengan spesifikasinya.

 

  1. Hirarki Ketertelusuran
    • Standar Internasional sebagai standar primer.
    • Standar Nasional, sebagai standar sekunder (Standar Nasional suatu negara bisa merupakan standar primer).
    • Standar Laboratorium/perusahaan, sebagai standar referensi dan standar kerja.

 

 

 

  1. Satuan Ukuran SI
    • Besaran satuan dasar: Panjang (meter, m); Massa (kilogram, kg); Waktu (derik, s); Arus listrik (Ampere, A); Suhu termodinamika (Kelvin, 0K); Jumlah Zat (Mole); Intensitas Cahaya (Candela, Cd).
    • Besaran satuan turunan: Gaya (Newton, N), Suhu Celcius (Celcius, 0C); Kecepatan (velocity, v); Tekanan (Pascal, Pa; Kg/cm2); Frekuensi (Hertz, Hz); Isi (Volume; V).

 

  1. Istilah-istilah dalam Kalibrasi
  • Quantity/besaran adalah sifat suatu gejala, benda atau bahan/zat yang dapat dibedakan secara kualitatif dan ditentukan secara kuantitatif. (GUM B.2.1 VIM 1.1).
  • Value (of quantity)/harga adalah besaran dari jumlah tertentu yang biasanya dinyatakan sebagai satu satuan ukuran yang dikaitkan dengan suatu bilangan. (GUM B.2.2 VIM 1.18)
  • True value (of quantity)/nilai benar adalah harga sebenarnya sesuai dengan ketentuuan dari suatu harga tertentu yang diberikan. (GUM B.2.3 VIM 1.19). Harga ini harus diperoleh dari suatu pengkuran yang benar.
  • Conventional True/nilai konvensional adalah nilai yang diberikan kepada suatu besaran tertentudan diterima, kadang-kadang melalui kesepakatan, sebagai nilai yang mempunyai ketidakpastian yang sesuai untuk tujuan tertentu. (GUM B. 2.4 VIM 1.20)
  • Error (of measurement)/kesalahan adalah hasil pengukuran dikurangi true value (harga sebenarnya) dari alat ukur. (GUM B.2.18 VIM 3.10).
  • Correction (Koreksi) adalah harga yang ditambahkan secara aljabar terhadap harga yang tidak benar dari suatu pengukuran, untuk mengkompensasi suatu kesalahan sistematik yang diterima. (GUM B.2.22 VIM 3.15)

Koreksi C= -e

Catatan: koreksi yang tercantum dalam sertifikat kalibrasi harus ditambahkan terhadap hasil pengukuran yang ditunjukkan alat tersebut. Jika tidak, hasil ukur masih salah.

  • Accuracy (of measurement)/akurasi/kecermatan adalah kemampuan instrumen ukur untuk memberikan indikasi pendekatan terhadap harga sebenarnya dari obyek yang diukur. (GUM B.2.14 VIM 3.5)

Catatan: Standar yang memiliki akurasi 0,5% berarti standar tersebut memiliki kesalahan maksimum 0,5% terhadap harga sebenarnya.

  • Precision (Presisi)/ketelitian adalah kemampuan proses pengukuran untuk menunjukkan hasil yang sama dari pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dan identik.

Catatan: presisi, merupakan kemampuan daya ulang pengukuran (repeatability), ditentukan dari kestabilan alat ukur, kemampuan teknisi dalam melaksanakan pengukuran, serta kemampuan daya baca.

  • Ketidakpastian pengukuran adalah suatu parameter yang berhubungan dengan hasil pengukuran yang mengkarakteristikan (memberikan sifat) penyebaran nilai-nilai layak yang dikaitkan pada besaran ukur (B.2.17; VIM 3.9).
  • Kemampuan ukur terbaik (KUT/BMC) yaitu ketidakpastian pengukuran terkecil yang dapat dicapai oleh laboratorium dalam lingkup akreditasinya, dalam melakukan kalibrasii rutin dari peralatan ukur yang hampir ideal yang dirancang untuk pengukuran besaran tersebut. (the smallest uncertainty of measurement that a laboratory can archieve within scope of accreditation, when performing more or less routine calibrations of nearly ideal measuring instruments designed for the measurement of that quantity).
  • Toleransi adalah kesalahan maksimum yang diizinkan.

Catatan: Alat memiliki toleransi ± 0,5% berarti kesalahan maksimum yang diizinkan ± 0,5%. Jika angka koreksi > toleransi, maka alat tersebut tidak memenuhi syarat yang ditentukan.

  • Resolusi adalah besar pernyataan dari kemampuan untuk membedakan arti dari dua tanda harga atau skala yang paling berdekatan.

 

  1. Masalah Teknis dalam Kalibrasi
    1. Resolusi

Pada display digital terjadi perbedaan persepsi dalam menentukan resolusi alat. Jika pada pengukuran suhu bath 1000C penunjukkan display tidak stabil 100,1003; 100,1006; 100,1002; 100,1007; 100,1004. Pada dasarnya display 4 angka dibelakang koma, resolusi = 0,0001. Dalam contoh pengukuran  di atas resolusi yang terkecil adalah 0,0003 sehingga resolusi = 0,0003 dan ketidakpastian baku resolusi Ures = 0,0003/√3

Pada penimbangan 100 g, display menunjukkan angka-angka: 100,0012; 100,0013; 100,0012; 100,0013, maka resolusi adalah = 0,0001 dan Ures = 0,0001/√3. Bila stabil di 100,0003 atau di 100,0001. Resolusi = ½ x 0,0001=0,00005. Maka ketidakpastian baku Ures = 0,00005/3.

Jadi, penentuan resolusi alat display digital, ditentukan dari resolusi yang paling dominandan pengamatan pengukuran. Resolusi juga sangat berpengaruh terhadap presisi. Alat yang memiliki subdivisi lebih kecil atau resolusi yang baik, akan menghasilkan ketelitian presisi yang lebih baik dari alat yang memiliki subdivisi lebih besar.

 

  1. Menentukan Titik-Titik Kalibrasi Tekanan

Jumlah titik kalibrasi telah ditentukan dalam metode kalibrasi, kecuali ada permintaan khusus. Semua titik-titik kalibrasi ditepatkan pada angka-angka tertentu agar pemakai mudah menggunakan alat yang telah dikalibrasi. Juga pemakai ingin mengetahui pada titik/angka tersebut koreksinya berapa?

Ada 2 macam cara penepatan angka pada kalibrasi:

  • Ditepatkan pada alat standar dan dibaca alat yang dikalibrasi.
  • Ditepatkan pada alat yang dikalibrasi dan dibaca pada standarnya.

Pada prinsipnya kedua cara tersebut di atas sama saja. Tetapi kompetensi laboratorium kalibrasi memerlukan ketidakkpastian pengukuran yang kecil. Perbedaan yang utama dari kedua cara tersebut adalah ketidakpastian (u) daya ulang dan u daya baca.

Ketidakpastian daya ulang (repeatability) sangat tergantung kestabilan alat ukur kestabilan alat ukur standar tentu lebih baik dari alat yang dikalibrasi, sehingga daya ulang alat standar lebih baik dan daya ulang alat yang dikalibrasi. Jadi, alat standar yang dibaca (untuk mengukur) adalah lebih baik.

Ketidakpastian daya baca sangat dipengaruhi oleh resolusi/subdivisi dari alat. Resolusi/subdivisi dan alat standar harus lebih kecil dari resolusi/subdivisi dari alat yang dikalibrasi, sehingga kemampuan baca terhadap alat yang dikalibrasi. Jadi, sebaiknya yang (dibaca untuk mengukur) adalah standar. Bila alat standar subdivisinya > alat yang dikalibrasi artinya standar tidak memenuhi syarat.

Jadi, semua titik kalibrasi ditepatkan pada alat yang dikalibrasi dan yang dibaca (untuk mengukur) adalah standar.

Kesimpulan dari hal tersebut di atas adalah bahwa yang dibaca adalah alat yang memiliki presisi dan resolusi lebih baik (dimiliki oleh standar), berarti yang ditepatkan adalah alat yang memiliki presisi dan resolusi lebih besar (dimiliki oleh alat yang dikalibrasi), kecuali standarnya merupakan angka yang tetap, seperti DWT (untuk kalibrasi Test Gauge) dan anak timbang (untuk kalibrasi timbangan) atau standarnya merupakan generator yang mengeluarkan output (biasanya pada peralatan elektronik).

 

  1. Pengertian Pengambilan Angka 2 (dua) Digit Signifikan

Yang dimaksud dengan angka signifikan adalah angka yang penting. Angka yang tidak penting tidak perlu dilaporkan. Jadi, pada dasarnya angka yang signifikan ditentukan oleh pengolah data, dengan memperhatikan data alat yang dikalibrasi.

Kenapa harus 2 (dua) digit? Karena digit terakhir dari 2 (dua) digit tersebut akan dipakai untuk membulatkan digit sebelumnya baik ke atas atau ke bawah, tetapi untuk ketidakpastian harus sibulatkan ke atas.

 

  1. Pembacaan Skala

Pembacaan skala analog sepenuhnya diserahkan kepada kemampuan dari setiap teknisi. Kemampuan teknisi dapat berbeda. Misalnya divisi terkecil dengan jarak 2 mm, seorang teknisi dapat membagi 2, yang lain mampu membagi 5. Jarak 1 mm dapat dibagi 2, yang lain mampu membagi 3, terserah kemampuannya untuk membagi. Tetapi harus konsekuen, artinya bila mampu membagi 5 dari subdivisi, maka tidak ada data yang < 1/5 subdivisi, tetapi bisa > 1/5 subdivisi. Contoh, bila teknisi dapat membagi suatu subdivisi (senilai 1) menjadi 5, tentu dapat membagi menjadi 4, 3 atau 2. Angka desimal yang bisa terbaca sebagai berikut 0,2; 0,25; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,7; 0,75; 0,8. Angka 0,25=1/4; angka 0,3=1/3; angka 0,5=1/2; angka 0,7=2/3 dan 0,75=3/4. Tetapi angka desimal 0,1 dan 0,9 tidak bisa, karena angka-angka tersebut sudah merupakan pembagian 10.

 

  1. Akumulasi koreksi dan Ketidakpastian

Jika titik kalibrasi pada nominal tertentu diperoleh dari gabungan beberapa standar di mana masing-masing memiliki koreksi dan ketidakpastian, maka koreksi maupun ketidakpastian setiap standar harus diakumulasikan.

  • Akumulasi koreksi = jumlah aljabar dari semua koreksi standar yang digabungkan

Ca=C1+C2+…+Cn

  • Akumulasi ketidakpastian

Jika independen Uak=akar kuadrat dari jumlah kuadrat ketidakpastian yang digabungkan

Uak=√u12+u22+…+un2

Jika interdependen, berkorelasi penuhu Uak = jumlah aljabar dari semua ketidakpastian yang digabungkan.

Uak = u1+u2+…+un

 

  1. Koefisien Sensitivitas (Ci)
    • Mengkonversikan komponen agar memiliki satuan ukuran sama.
    • Diperoleh dari turunan parsial: Ci=∂f/∂xi
    • Contoh: kalibrasi volume gas: Uρu=(10% X 0,0012) g/cm3.
    • Satuan volume = mL.

Dari rumus:

 

Ci adalah:

 

  • Cara lain: kalibrasi dengan DWT (satuan tekanan = psi) terdapat komponen suhu:

Setiap perbedaan suhu 10C perubahan tekanan = 0,002% x P Psi

Maka koefisien sensitivitas suhu Cs = 0,00002 x P psi/0C

Ketidakpastian suhu satuannya ± 0C

Maka komponen ketidakpastian suhu UsCs =  0C X 0,00002 X P psi/0C = psi.

 

  1. Konversi dan Interpolasi

Konversi dilakukan karena perbedaan satuan yang dikalibrasi dengan satuan pada SK, sedangkan interpolasi dilakukan karena keterbatasan titik-titik kalibrasi yang tercantum pada SK. Bila satuan berbeda dikonversi terlebih dahulu baru diinterpolasi.

Rumus Interpolasi:

Dimana:

Nx = Nilai yang dicari (antar 2 titik yang diketahui)

Nb­­ = Nilai titik kalibrasi di bawah

Na = Nilai titik kalibrasi di atas

Tx =  titik kalibrasi di antara keduanya

Tb = titik kalibrasi di bawah Tx

Ta = Titik kalibrasi di atas Tx

  1. Kemampuan Ukur Terbaik (BMC)
    • KUT/BMC ditentukan dengan memilih kondisi terbaik laboratorium yang dapat dicapai dalam lingkup kalibrasi rutin dan alat yang dikalibrasi tidak memberikan kondisi ketidakpastian (ideal).
    • Beberapa hal yang harus diperhatikan:
      1. BMC terkait dengan jenis standar, rentang ukur dengan metode kalibrasi.
      2. Evaluasi tipe A dapat dihilangkan. Bila metode mensyaratkan jumlah pengukuran, maka diambil ESDM terkecil dari pengalaman kalibrasi yang dilakukan. Bila pengalaman belum memadai, daya ulang dianggap nol.
      3. Beberapa komponen dari ketidakpastian dapat ditekan atau dihilangkan jika metode kalibrasi memungkinkan langkah-langkah tertentu, misalnya ketidakseragaman suhu furnace/bath penangas dianggap nol, dengan menempatkan sensor standar dan sensor yang dikalibrasi pada satu titik/tempat yang sama.

 

  1. Mencantumkan Ketidakpastian

Ketidakpastian yang dicantumkan pada sertifikat kalibrasi tidak boleh lebih kecil dari BMC nya. Jika lebih kecil, cantumkan ketidakpastian sebesar BMC nya.

 

  1. Ketidakpastian
    1. Konsep Umum

Tujuan pengukuran adalah untuk menentukan nilai besaran ukur, yang mencakup spesifikasi besaran ukur, metode pengukuran, dan prosedur pengukuran.

Secara umum, hasil pengukuran hanya merupakan atau pendekatan nilai besaran ukur, oleh karena itu hasil tersebut hanya lengkap bila disertai dengan pernyataan ketidakpastian dari taksiran tersebut.

Ketidakpastian adalah ukuran yang secara beralasan dapat dikaitkan dengan nilai terukur. Yang memberikan rentang, terpusat pada nilai ukur, di mana di dalam rentang tersebut terletak nilai benar dengan kemungkinan tertentu.

Ketidakpastian hasil pengukuran mencerminkan kurangnya pengetahuan yang pasti tentang nilai besaran ukur. Hasil pengukuran setelah dikoreksi untuk kesalahan sistematik masih hanya merupakan taksiran nilai besarann ukur karena masih terdapat ketidakpastian yang berasal dari pengaruh acak dan koreksi kesalahan sistematik yang tidak sempurna.

Konsep ketidakpastian didasarkan pada besaran teramati yang diperoleh dengan pengukuran, hal ini berbeda dengan konsep ideal kesalahan yang didasarkan pada besaran yang tidak dapat diketahui.

Secara tradisional, kesalahan pengukuran dianggap mempunyai dua komponen, yaitu komponen acak dan komponen sistematik. Kesalahan acak dianggap timbul dari besaran berpengaruh yang tidak dapat diramalkan, stokastik terhadap waktu dan bervariasi terhadap ruang. Kesalahan sistematik timbul dari pengaruh yang dikenali dari besaran yang berpengaruh terhadap hasil pengukuran.

Kesalahan acak tidak dapat dihilangkan sama sekali, namun dengan teknik yang cermat dan tenaga yang terampil dapat diminimumkan, misalnya dengan cara pengukuran berulang sehingga dapat ditentukan signifikan kesalahan yang terjadi. Sementara keselahan sistematik dapat dihilangkan dengan melakukan pemeriksaan yang teliti terhadap teknik percobaan/pengukuran, peralatan yang digunakan harus diyakini dalam kondisi yang optimum, atau unjuk kerjanya baik. Hal ini bisa dilihat dari status kalibrasi, dan pelaksanaan verifikasi yang terakhir dilakukan.

Kesalahan acak dapat mempengaruhi presisi, daya ulang (repeatability), daya reproduksi dan sering juga dikenal sebagai kesalahan tertentu (determinate error) dan bias.

Harus dibedakan istilah presisi dan akurasi. Presisi adalah kedekatan hasil pengulangan dari beberapa hasil pengukuran. Sedangkan akurasi adalah kedekatan hasil dengan nilai benar dari beberapa kali pengukuran, walaupun mungkin presisinya tidak terlalu baik.

Perbedaan antara kesalahan dan ketidakpastian sebaiknya selalu diingat. Sebagai contoh, hasil pengukuran setelah dikoreksi dapat secara tidak sadar menjadi sangat dekat dengan nilai besaran ukur yang tidak diketahui, dan oleh karena itu, mempunyai kesalahan yang dapat diabaikan, meskipun mungkin mempunyai ketidakpastian yang besar.

 

  1. Sumber Ketidakpastian

Terdapat bermacam kemungkinan sumber ketidakpastian pengukuran, antara lain sebagai berikut:

  1. Definisi besaran ukur yang tidak lengkap.
  2. Realisasi definisi besaran ukur yang tidak sempurna.
  3. Pengambilan yang tidak keseluruhan besaran ukur yang didefinisikan.
  4. Pengetahuan yang tidak memadai tentang pengaruh kondisi lingkungan terhadap proses pengukuran atau pengukuran kondisi lingkungan yang tidak sempurna.
  5. Bias personel yang melakukan pengukuran.
  6. Resolusi peralatan.
  7. Nilai yang diberikan pada standar pengukuran atau bahan acuan.
  8. Nilai konstanta dan parameter lain yang diperoleh dari sumber luar dan digunakan dalam algoritma reduksi data.
  9. Pendekatan dan asumsi yang tercakup dalam metode dan prosedur pengukuran.
  10. Variasi pengamatan berulang terhadap besaran ukur dalam kondisi yang tampak sama.

 

Interprestasi dari sumber ketidakpastian pengukuran dalam aplikasinya untuk proses pengujian dapat mencakup, walau tidak terbatas hanya pada faktor-faktor berikut saja.

  1. Pengambilan sampel yang tidak representatif.
  2. Ketidakhomogenan asal sampel.
  3. Kontaminasi selama pengambilan dan penyiapan sampel.
  4. Kemurnian pereaksi dan larutan,
  5. Pengaruh dan interferensi matrix.
  6. Koreksi blank (koreksi terhadap faktor yang dihadapi)

 

  1. Metode Kalibrasi
    1. Dead Weight Tester (DWT)
      1. Ruang Lingkup

Metode kalibrasi dengan Dead Weight Tester dapat digunakan untuk mengkalibrasi peralatan tekanan yang memiliki rentang ukur dari 2 psi sampai dengan 400 psi serta 200 psi sampai 8000 psi. Peralatan tekanan yang dapat dikalibrasi dengan DWT adalah peralatan tekanan yang tidak memiliki larangan penggunaan oli :

  • Test Gauge.
  • Pressure Gauge (Alat ini cukup dikalibrasi dengan Test Gauge, namun dalam hal tertentu dapat dikalibrasi dengan DWT).

 

  1. Peralatan Yang Digunakan

Peralatan yang digunakan sebagai alat utama maupun alat bantu untuk kalibrasi tekanan adalah sebagai berikut :

  • Deadweight tester
    • (a) Model M 2100 / 3
    • (b) Serial Number 10294 – 97
    • (c) Dengan Oli ST 55
    • (d) Range 10 s/d 8000 psi
  • Thermohygrometer
  • Barometer
  • Adaptor / konektor sesuai ukuran alat yang dikalibrasi
  • Kain pembersih atau majun

 

 

 

 

  1. Kondisi Ruangan Kerja

Sesuai kondisi standar yaitu pada suhu 20°C serta  persyaratan tambahan untuk laboratorium kalibrasi, maka kondisi ruangan laboratorium kalibrasi tekanan sebagai berikut:

  • Suhu diatur pada 20 °C ± 1 °C, dengan menggunakan AC Split.

Untuk menjaga kondisi tersebut, ruangan dijaga selalu dalam keadaan tertutup dan personil yang ada didalamnya terbatas bagi yang berkepentingan terhadap pekerjaan kalibrasi.

  • Tekanan Udara 980 s.d 1020 mbar.

Tekanan dan suhu udara berpengaruh terhadap densitas udara, dimana setiap perubahan densitas udara sebesar 0.0001 g/cm3 menimbulkan perubahan sebesar 0.0013% dari tekanan terukur. Untuk menjaga kondisi tekanan udara seperti di atas, selain digunakan AC split, ruangan dijaga selalu dalam keadaan tertutup, dan membatasi personel yang diijinkan di dalam ruangan.

  • Kelembaban Relatif 55 ± 10 %.

Walaupun kelembaban udara tidak ada pengaruh dalam perhitungan, namun untuk menjaga peralatan terpelihara baik, kelembaban udara dijaga 55 ± 10 % di mana dengan AC split yang diatur seperti di atas, dapat tercapai kelembaban udara 55 ± 10 %.


  1. Langkah Kalibrasi.
  • Persiapan

 

 

4

 

 

Indicator Rod (10)
High Press Float Range Piston Assbly-B
Low Press Float Range Piston Assbly- A

Keterangan Gambar :

10
9
6
8
7
5
3
2
1
1
1
1
  1. Kaki pengatur . 2. Level Penduga                       3. Tutup Resevoir.
  2. Tempat Pengetesan. 5. Katup Penutup.                      6. Label
  3. Kapstan. 8. Piston ass. Tek. Rendah         9. Piston Ass. Tek Tinggi

10 . Indicator rod .

 

GAMBAR 2.1 DWT- M 2100/3.

 

 

  1. Atur posisi dudukan deadweight tester rata dengan permukaan bangku kerja (horizontal), sehingga gelembung udara pada level penduga (2) berada pada tengah lingkaran.
  2. Jika gelembung udara belum berada ditengah lingkaran, atur empat buah kaki penyangga (1) sehingga gelembung udara berada tepat ditengah level penduga.
  3. Periksa oli pada reservoar kira-kira ¾ penuh ( 250 cc ). Buka tutup resevoir (3). Jika permukaan oli belum mencapai level yang ditetapkan, tambah dengan fluida yang telah disiapkan (ST55).
  4. Periksa dan bersihkan peralatan yang akan dikalibrasi terutama bagian dalam, lalu kondisikan minimum 3 ( tiga ) jam didalam ruang kalibrasi.
  5. Pasang alat yang akan dikalibrasi dengan cara sebagai berikut :
  6. Ambil adaptor yang sesuai dan pasang pada tempat pengetesan (4).

Letakkan alat berikut konektor ketempat pengetesan, atur posisi alat menghadap kedepan.

  1. Bila posisi alat sudah menghadap kedepan, kencangkan adaptor dengan tangan berlawanan arah jarum jam sehingga terasa sampai ke-seal test.
  2. Keluarkan gelembung udara yang mungkin masih ada didalam sistem reservoar dengan cara :
  3. Buka katup penutup (5) satu putaran berlawanan arah jarum jam kemudian putar kapstan (7) kedalam sampai posisi maksimal.
  4. Tutup katup penutup lalu putar kapstan keluar sampai posisi maksimal. Bila alat yang akan dikalibrasi sensitive terhadap vakum, katup penutup dibiarkan terbuka
  5. Ulangi langkah 6a dan 6b beberapa kali sampai dipastikan tidak ada gelembung udara didalam reservoar.
  6. Dengan katup penutup pada posisi terbuka (kira-kira 2 putaran berlawanan arah jarum jam), putar kapstan keluar sampai posisi maksimal kemudian diamkan kira-kira 15 menit agar diperoleh tekanan terukur P = 0 yang stabil.
  7. Bila mungkin, tepatkan jarum penunjuk alat yang dikalibrasi pada posisi nol. Jika katup penutup ditutup rapat, maka DWT siap untuk mengkalibrasi.

 

  • Proses Kalibrasi

Kalibrasi dimulai dari skala terkecil dan dilakukan dua arah yaitu arah naik dan turun untuk setiap titik pengukuran.

  • (a) Siapkan formulir (F-016) untuk mencatat hasil pembacaan. Baca dan catat suhu serta tekanan udara ruangan kalibrasi.
  • (b) Catat batas ukur alat yang akan dikalibrasi, dan catat skala terkecil.
  • (c) Tentukan titik-titik kalibrasi. Sesuai dengan standar acuan BS EN 837-1 ; 1998 untuk test gauge kelas 0,1; 0,25 dan 0,6 ; minimum  pada 10 ( sepuluh ) titik ukur. Apabila diinginkan lebih dari 10 titik ukur, diambil jarak yang sama terhadap skala penuh.
  • (d) Pada tekanan terukur P = 0 katup penutup (5) masih terbuka, catat penunjukan alat sebagai tekanan naik. Tutup rapat katup penutup (5).
  • (e) Letakkan beban sehingga nilai tekanan terukur P = nilai titik kalibrasi yang ditentukan dimulai dari yang terendah, pada piston assembly yang digunakan.

Tekanan terukur (P) = pembawa beban + jumlah beban.

Catatan : ada 2(dua) buah piston assembly ( lihat gambar-1)

(1)   Piston assembly A (8) untuk tekanan rendah batas ukur 10 s/d 400 psi. Beban pembawa = 2 psig ; faktor pengali = 1

(2)   Piston assembly B (9) untuk tekanan tinggi dengan batas ukur 300 s/d 8000 psi. Beban pembawa  = 200 psig ; faktor pengali = 20

  • (f) Untuk tekanan naik, putar kapstan searah jarum jam secara perlahan. Ketika beban mulai terangkat amati permukaan bagian bawahnya sampai berada pada posisi sejajar dengan bagian tengah daerah reses pada batang indikator (10).
  • (g) Putar beban secara perlahan searah jarum jam, baca dan catat tekanan naik yang ditunjukkan oleh alat yang dikalibrasi.

CATATAN : Dilarang memutar tumpukan beban di luar daerah reses.

  • (h) Untuk tekanan turun, tambahkan beban secukupnya pada piston assembly maka tekanan naik, kemudian ambil beban tambahan maka tekanan turun. Putar beban secara perlahan searah jarum jam, baca dan catat sebagai tekanan turun yang ditunjukkan oleh alat yang dikalibrasi.
  • (i) Untuk titik-titik kalibrasi berikutnya, ulangi langkah 5 sampai dengan langkah 8 sehingga tercapai titik kalibrasi tertinggi.
  • (j) Turunkan tekanan dengan memutar kapstan berlawanan jarum jam sampai maksimal keluar. Angkat semua beban dari piston assembly.
  • (k) Buka katup penutup dan diamkan beberapa saat(kira-kira 5 sampai 10 menit) untuk memperoleh tekanan terukur P = 0, catat sebagai tekanan turun
  • (l) Baca dan catat suhu serta tekanan udara ruangan kalibrasi.
  • (m) Lakukan langkah 4 sampai dengan langkah  12  sebanyak 3(tiga) kali.
  • (n) Ukur tinggi pertengahan alat yang dikalibrasi terhadap permukaan/ meja DWT.

 

  • Langkah Penutup Kalibrasi

Setelah proses kalibrasi selesai dikerjakan, diikuti dengan tahap berikutnya yang merupakan mata rantai terakhir dari pelaksanaan kalibrasi :

  • (a) Lepaskan alat dari tempat pengetesan dengan cara putar adaptor memakai tangan searah jarum jam.
  • (b) Letakkan alat yang sudah dikalibrasi pada tempat yang telah ditentukan, sebelum disimpan ditempat penyimpanan.
  • (c) Tutup tempat pengetesan dengan penutup adaptor, berlawanan arah jarum jam.
  • (d) Buka katup penutup, putar kapstan searah arah jarum jam sampai habis, kemudian tutup katup penutup.
  • (e) Bersihkan beban yang digunakan, simpan ditempat yang sudah disediakam.
  • (f) Bersihkan deadweight tester dari tumpahan oli yang mungkin terjadi memakai kain yang halus.

Tutup deadweight tester dengan penutupnya ( cover ).

 

  1. Perhitungan
    • Koreksi
      1. Koreksi Faktor Gravitasi (Fg)

Pengukuran gravitasi di Laboratorium Kalibrasi Lemigas dilakukan oleh Laboratorium Potensial KPRT Eksplorasi.

Pelaksanaan pengukuran dilakukan pada tanggal 23  s/d 24  April 2004 , dengan cara pengukuran relatif, menggunakan alat Gravimeter LaCoste & Romberg tipe Geodetic Model  G-980. Base station yang dipakai sebagai titik banding pengukuran adalah 2(dua) buah titik tetap gaya berat regional tingkat nasional yaitu di Pelud Halim Perdana Kusuma Jakarta sebagai stasiun HPK-1 dan BMG Pusat Kemayoran Jakarta sebagai stasiun BMG-0. Titik gaya berat di halaman Gedung Laboratorium Kalibrasi Lemigas selanjutnya disebut LMG-1.

Hasil akhir seluruh proses terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 2.1 . Lokasi dan Nilai Gravitasi titik-titik tetap Gaya Berat

KODE TITIK LOKASI

TITIK AMAT

NILAI GRAVITASI

( mgal)

KETERANGAN
UNE STN

7693.0253

Pelud Halim Perdana Kusuma, Jakarta 978142.34 Titik Gayaberat

Nasional IGSN 71

BMG-0 Taman Alat BMG Pusat

Kemayoran , Jakarta

978148.68 Jaring Gayaberat

BMG orde-1

LMG-1 Halaman Gedung

Laboratorium Kalibrasi

LEMIGAS

978132.463 Titik Gayaberat

Tingkat lokal

 

Dengan demikian maka gravitasi lokal Gl = 9.78132463 m / s

Gravitasi standar ( Gst ) = 9,78137 m / s( SK No.S.020875 tgl 9 Sept. 2004)

9.78132463

Faktor  gravitasi  Fg = Gl/Gst  =                          =  0.9999954 = 1

9,78137

Pdwt = P x Fg = P x(Gl/Gst)

Dimana : P = tekanan terukur

Fg = 1

 

  1. Koreksi Pengaruh Suhu (Kt)

Suhu ruang kalibrasi diperoleh dari hasil rerata pengukuran, sehingga diperoleh perbedaan suhu Δt antara suhu standar dengan suhu ruang kalibrasi.

Setiap kenaikan suhu 1°C , tekanan terukur dikurangi 0.002% dan setiap penurunan 1°C tekanan terukur ditambah 0.002%.

Sehingga koreksi pengaruh suhu:

Kt = Δt x 0.002% x P

Dimana : Δt = ts – tr

P = tekanan terukur.

ts = Suhu Std DWT saat dikalibrasi (dari sertifikat DWT)

tr = (t1+ t2 + t3 + t4 )/ 4

t1 = suhu ruang sebelum kalibrasi (8.2. poin 1)

t2 s/d t4 = suhu ruang setelah kalibrasi (8.2. poin 12 sebanyak 3 x )

 

  1. Koreksi densitas udara (Kd)

Setiap kenaikan densitas udara sebesar 0.0001g / cm3 tekanan terukur dikurangi 0.0013% dan setiap penurunan densitas udara 0.0001 g / cm3 tekanan terukur ditambah 0.0013%.

Densitas udara dihitung dengan mengukur suhu udara dan tekanan udara menggunakan barometer. Dari data kondisi ruang kalibrasi, tekanan pada 1005 mbar ± 5 mbar , dan suhu 20 ± 0.5 °C maka sesuai tabel-2 perbedaan densitas udara maksimum = 0.016 kg/m3 atau 0.000016 g/cm3 sehingga koreksi dan / ketidakpastian tekanan karena perbedaan densitas udara dapat diabaikan.

Kd = 0 % x P = 0

 

TABEL 2.2.  Densitas Udara kg/m3

(pada suhu 19 s.d 22°C dan tekanan absolut 980 s.d 1030 mbar)

Disadur dari ISO 4787-1984(E) halaman 8

mbar. 19°C 20°C 21°C 22°C
980 1.169 1.165 1.161 1.157
990 1.181 1.177 1.173 1.169
1000 1.193 1.189 1.185 1.181
1010 1.205 1.201 1.197 1.193
1020 1.217 1.213 1.208 1.204
1030 1.229 1.225 1.220 1.216

 

  1. Koreksi Datum Level (Kl)

Pada kalibrasi Test Gauge ditentukan beberapa nominal titik kalibrasi untuk mewakili seluruh rentang ukurnya. Pada kalibrasi Test Gauge yang memiliki rentang ukur kecil   ( ≤ 200 psi ) tidak semua tekanan nominal titik kalibrasi mampu menaikkan fluida sam pai pertengahan Test Gauge tetapi kenaikan fluida mengikuti hukum Boyle yg berlaku pada udara di dalam Test Gauge.

Untuk mencapai akurasi yang lebih baik, kalibrasi dimana tekanan nominalnya belum mampu menaikkan fluida sampai pertengahan Test Gauge, koreksi tekanan head fluid PH setiap nominal titik kalibrasi harus dihitung.

Tekanan terukur DWT dihitung pada dasar piston. Koreksi head fluid adalah koreksi tekanan yang disebabkan perbedaan tinggi fluida pada alat yang dikalibrasi dengan dasar piston. Jadi harus diketahui posisi dasar piston dengan cara sbb:

Acuan  pengukuran digunakan permukaan / meja DWT.

Panjang piston tekanan rendah  = 8.02 cm (dari puncak carrier ke dasar piston).

Panjang piston tekanan tinggi  = 6.80 cm (dari puncak carrier ke dasar piston).

Tinggi tengah reses batang penunjuk tek rendah = 4.85 cm ( dari meja DWT).

Tinggi tengah reses batang penunjuk tek tinggi = 2.30 cm ( dari meja DWT).

(1)   Dasar piston tek rendah = (8.02 – 4.85) cm = 3.17 cm (dibawah meja DWT).

(2)   Dasar piston tek tinggi = (6.80 – 2.30) cm = 4.50 cm (dibawah meja DWT).

 

Jika tinggi pertengahan alat yang dikalibrasi (TG) = h cm (dari meja DWT) maka:

(1)  Beda level pada tekanan rendah  ∆hR  = (h + 3.17) cm

(2)  Beda level pada tekanan tinggi    ∆hT  = (h + 4.50) cm

Densitas fluida ρ = 865 kgm-3 . Gravitasi lokal  g = 9.78132463 m s-2.

Setiap ∆h  1 cm, = ρ x g x 0.01= 865 x 9.78132463 x 0.01= 84.61 Pa  = 0.0123 psi.

Jika TG lebih tinggi dari dasar piston, ∆h  bernilai negatip.

Jika TG lebih rendah dari dasar piston, ∆h  bernilai positip

Karena TG lebih tinggi dari dasar piston, maka ∆h  bernilai negatip:

  1. Tekanan Rendah ( 10 ~ 800 ) psi :
  2. Untuk Tekanan Nominal < 30 psi, rumus koreksi head fluid :

…………………(1)

Dimana :

P = tekanan nominal ( psi ) ; ∆hR = Tinggi pertengahan TG dari dasar piston ( m )

ρ = densitas fluida kgm; dan g = percepatan gravitasi lokal ms

Dengan rumus (1), Tekanan nominal P min yang mampu menaikkan fluida sampai pertengahan TG dapat dihitung sbb :

Tinggi pertengahan TG thd dasar piston = ∆hR

PH max = ρ*g*(1-1/(1+P/14,7))*1,5*∆hR

Jadi : (1-1/(1+P/14,7))*1,5 = 1

1-14,7/(14,7+P) = 1/1,5

P/(14,7+P) = 1/1,5

P = (14,7/1,5)/(1-1/1,5) = 29,4 psi ≈ 30 psi

Tekanan Nominal P minimum yang mampu menaikkan fluida sampai pertengahan TG = 30 psi.

Karena setiap 1cm head fluid = 0,0123 psi maka koreksi head fluid dari rumus (1) menjadi :

Kl =   psi

  1. Untuk Tekanan Nominal ≥ 30 psi

Pada tekanan nominal 30 psi fluida sudah mencapai pertengahan TG, maka :

PH =  ρ*g*∆hR =  ρ*g*( h + 3.17 )

Sehingga koreksi head fluid menjadi :

Kl = – ( h + 3.17 )* ρ*g = – ( h + 3.17 )*0.0123 psi

  1. Tekanan tinggi ( 200 ~ 16000 ) psi

Semua tekanan nominal pada range tekanan tinggi fluida telah mencapai pertengahan TG, maka berlaku :

PH =  ρ*g*∆hT =  ρ*g*( h + 4.50 )

Sehingga koreksi head fluid menjadi :

Kl = – ( h + 4.50 )* ρ*g = – ( h + 4.50 ) x 0.0123 psi

Koreksi ini merupakan koreksi tertinggi, dimana tekanan nominal P merupakan  tekanan yang mampu menaikkan oli setinggi h.

 

  1. Koreksi Hasil Kalibrasi

Faktor gravitasi Fg, koreksi suhu Kt, koreksi densitas udara Kd,  dan koreksi datum level Kl adalah adalah koreksi tekanan terukur (P) DWT,  sehingga:

Pdwt (aktual) = P x Fg + Kt + Kd + Kl…………………. (2)

Dimana :    P = tekanan terukur DWT

Fg (faktor gravitasi)= Gl/Gst = 1

Kt (koreksi suhu) = Δt x 0.002% x P

Kd  = 0

Kl = koreksi tekanan beda level

Tekanan terukur P harus dikoreksi terhadap koreksi sertifikat. Tekanan yang terkoreksi terhadap koreksi sertifikat adalah sebagai tekanan efektif Pe.

Maka  rumus (2) menjadi :

Pdwt (aktual) = Pe + Δt x 0.002% x Pe + Kl

Dimana :    Pe = tekanan efektif dari sertifikat kalibrasi.

Δt = tst= ts  – (t1+ t2 + t3 + t4 )/ 4

Catatan :   Nilai Pe dan ts  sesuai sertifikat DWT yang berlaku.

 

Sehingga :  Koreksi = Pdwt(aktual) – Pa

Dimana  :    Pa = Rerata penunjukan alat yang dikalibrasi (Test Gauge)

= (P1+ P2 + P3 ) / 3.

 

  • Ketidakpastian

Ketidakpastian pengukuran dalam kalibrasi dengan DWT terdiri dari beberapa komponen ketidakpastian yaitu :

  • Ketidakpastian sertifikat standar.
  • Ketidakpastian daya ulang (repeatability).
  • Ketidakpastian daya baca (readability).
  • Ketidakpastian gravitasi.
  • Ketidakpastian pengukuran suhu.

6)    Ketidakpastian pengukuran datum level.

 

  • (a) Ketidakpastian Baku Standar DWT (u1)

u1 = us / 2

Dimana : us = ketidakpastian standar DWT (dari sertifikat).

Catatan : Ketidakpastian standar DWT harus disesuaikan dengan jumlah beban dan piston assembly yang dipergunakan.

Distribusi normal, dengan derajat kebebasan v1  = ¥

Koefisien sensitifitas c1 = 1

 

 

  • (b) Ketidakpastian Baku Daya Ulang / Repeatability (u2)

Secara umum, standar deviasi dituliskan dengan rumus:

Stdev  σ  =

Dimana :    σ  = standar deviasi

Pi = penunjukan tekanan

Pr = rerata Pi ,  dan n = 3

Dalam aplikasi dengan program excel rumus standar deviasi σ dapat langsung ditulis/diketik :

=stdev(Ci,…,Cn)

Dimana Ci sampai Cn adalah letak data hasil pengukuran.

 

Catatan :

Untuk pengukuran pengulangan yang hanya dilakukan 3 kali, standar deviasi sebaiknya digunakan rumus :

σ = Max(abs(P1 – Pa),abs(P2 – Pa),abs(P3 – Pa))

Dimana :        P1, P2 dan P3 = penunjukan alat

Pa = rerata penunjukan alat = (P1+ P2 + P3 ) / 3.

Ketidakpastiannya adalah :

u2  =  SBRE  = σ / √3 

Distribusi rectangular, dan derajat kebebasan v dihitung sebagai berikut:

Reliability R = 20% sehingga v2 = ½ x (100/20)2 = 12.5

Koefisien sensitifitas c2 = 1

 

  • (c) Ketidakpastian Baku Daya Baca / Readability (u3)

Ketidakpastian baku daya baca tergantung kemampuan teknisi sebagai berikut:

Apabila kemampuan baca = b

 

Maka:

u3 = ( b x m )/ √3 

Dimana :    b = kemampuan daya baca ( ½ s.d 1/10 )

m = divisi terkecil dari alat yang dibaca

Distribusi rectangular, dan derajat kebebasan v dihitung sebagai berikut:

Reliability R = 20% sehingga v3 = ½ x (100/20)2 = 12.5

Koefisien sensitifitas c3 = 1

Apabila alat yang dibaca adalah digital, maka :

u3 = ( 0.5 x resolusi )/√3

Dengan asumsi mempunyai distribusi rectangular, dan derajat kebebasan v3= ¥.

Koefisien sensitifitas c3 = 1

 

  • (d) Ketidakpastian Baku Gravitasi (u4)

Ketidakpastian gravitasi diestimasi =25 ppm x Gl = 0.000025 x  Gl  m /s

Dengan distribusi rectangular, pembagi √3 dan  derajat kebebasan v4 = ¥

ui = 0.000025 x Gl )/√3

Rumus Tekanan  P = Pe x Fg = Pe x Gl/Gst

Koef sensitifitas c4 = ci (= cGl )=∂P/∂Gl = Pe/Gst  dengan satuan psi/(m/ s2)

Maka ketidakpastian baku gravitasi :

u4 = ui x c4

u= (0.000025 x Gl )/√3 )x c4    = ((0.000025x Gl) /√3 ) x (Pe/Gst)

u4 = ((0.000025x Pe) /√3 ) x(Gl/Gst )

dengan  Gl/Gst = 1   

Maka :

u4= (0.000025/√3 ) x Pe

Dimana :  Pe = tekanan efektif dari DWT.

 

  • (e) Ketidakpastian Baku Pengukuran Suhu (u5)

Ketidakpastian suhu merupakan gabungan dari :

  1. Ketidakpastian pengukur suhu dari sertifikat kalibrasi = ut.
  2. Ketidakpastian suhu yang diperoleh dari pengukuran suhu ruang = uv.

uv diperoleh dari pengukuran suhu t1 s/d t4.

Stdev uv  =

Dimana :

ti = penunjukan suhu t1 s/d t4

tr = rerata t1 s/d t4 = (t1+ t2 + t3 + t4 )/ 4

Ketidakpastian bakunya  = SBRE  = uv / √3  

Ketidakpastian baku suhu gabungan,  ui =

Catatan : Jika variasi suhu uv = 0 maka  ui = ut / 2.

Setiap perubahan suhu 1°C , perubahan tekanan ∆P = 0.002% Pe

Maka rumus   ∆P = 0.002% Pe /°C = k Pe °C-1.

Jadi c5 = ci (= c°C ) = ∂∆P/∂°C =  – kPe °C-2 = – k Pe °C-1/ °C = – ∆P /°C.

Jadi koefisien sensitifitas c5 = – 0.002%  Pe /°C  ( tanda – untuk  ketidakpastian dapat dihilangkan karena tanda ketidakpastian adalah ±).

Jadi  c5 = 0.002%  Pe /°C  = 0.00002 Pe /°C

Dengan distribusi normal dan derajat kebebasan v5 = ¥

Maka ketidakpastian baku suhu :

u5 = ui x c5  = ui x 0.00002 x Pe

Dimana :  ui = ketidakpastian suhu, gabungan ut dan uv  .

Pe = tekanan efektif DWT.

 


  • (f) Ketidakpastian Baku Pengukuran Level (u6)

Ketidakpastian pengukuran level  = up

Dengan distribusi normal,  dan derajat kebebasan v6 = ¥  maka :

ui =  up / 2  ( dalam cm ).

Rumus P = ρ g h.

c6 = ci = ∂P/∂h = ρg = 865 kg/m3 x 9.78123 m/s2  = 8461 Pa /m

= 1.23 psi/m = 0.0123 psi/cm .

u6 = ui x c6 = (up / 2 ) x 0.0123 psi

Dimana  up = ketidakpastian pengukur level (Sertf Kalib. penggaris).

 

  • (g) Ketidakpastian Gabungan (uc)

Ketidakpastian gabungan dicari dengan rumus :

uc2 = u12+u22+u32+u42+u52+u62

uc=

 

  • (h) Ketidakpastian Bentangan (ue)

Untuk menghitung ue, harus dicari derajat kebebasan efektif Veff. :

Veff = (uc)4/( u14/v1+ u24/v2 + u34/v3 + u44/v4 + u54/v5 + u64/v6 )….rumus (17)

Dengan tabel T-student pada tingkat kepercayaan 95%, harga k dapat ditentukan.

Ketidakpastian Bentangan :

ue = k x uc

Pada umumnya untuk tingkat kepercayaan 95%, dapat disederhanakan k =2

Sehingga :

ue = 2 x uc

 

  1. Pompa Hidrolik
    1. Ruang Lingkup

Test Gauge sebagai standar, dapat dilakukan kalibrasi menggunakan sistem hidrolik maupun dengan sistem pneumatik (tekanan udara/nitrogen). Dalam ruang lingkup metode ini, hanya untuk metode yang menggunakan sistem hidrolik.

Peralatan tekanan yang dapat dikalibrasi dengan Standar Test Gauge menggunakan sistem hidrolik adalah semua pressure gauge bourdon tube yang tidak memiliki tanda larangan penggunaan minyak / oli (use no oil).

Standar Test Gauge yang dipergunakan disyaratkan memiliki rentang ukur 1½ kali sampai 2 kali dari rentang ukur alat yang dikalibrasi dan memiliki subdivisi  sekecil mungkin, maksimal = ½  kali subdivisi pressure gauge.

Dengan kemampuan pompa hidrolik 10000 psi, maka alat ini dapat dipergunakan untuk mengkalibrasi pressure gauge sampai dengan 7500 psi.

 

  1. Peralatan Yang Digunakan

Peralatan yang digunakan sebagai alat utama maupun alat bantu untuk kalibrasi ini adalah sebagai berikut :

  • Standar Test Gauge rentang ukur yang terkecil sampai dengan terbesar sbb:
  1. Terkecil, rentang Ukur 0 s.d 30 psi dengan subdivisi 0.05 psi
  2. Terbesar, rentang ukur 0 s.d 10000 psi dengan subdivisi 20 psi.
  • Portable Test Pump” ASHCROFT ”
  1. Tipe : 1327 – DG
  2. Serial Number : 2A 100202
  3. pressure : 10000 psi
  4. Dengan Oli A.E  20 (dapat digunakan S.A.E.10  atau 30)
  • Adaptor / konektor yang ukurannya sesuai dengan ukuran pressure gauge.
  • Kain pembersih atau majun.

 

  1. Kondisi Ruangan Kerja

Sesuai persyaratan tambahan untuk laboratorium kalibrasi, maka kondisi ruangan laboratorium kalibrasi tekanan sebagai berikut:

  • Suhu diatur pada 20 °C ± 1 °C, dengan menggunakan AC Split.

Untuk menjaga kondisi tersebut, ruangan dijaga selalu dalam keadaan tertutup dan personil yang ada didalamnya terbatas bagi yang berkepentingan terhadap pekerjaan kalibrasi.

  • Tekanan Udara 980 s.d 1020 mbar.

Untuk menjaga kondisi tekanan udara, digunakan AC split dan ruangan dijaga selalu dalam keadaan tertutup, serta membatasi personel di dalam ruangan.

  • Kelembaban Relatif 55 ± 10 %.

Untuk menjaga terpeliharanya peralatan , kelembaban udara dijaga 55 ± 10 % di    mana dengan AC split, dapat tercapai kelembaban udara seperti di atas

 

  1. Langkah Kalibrasi.
    • Persiapan Kalibrasi
  2. Pasang pipa offset dan pipa yang lurus pada tempat yang sudah ditentukan
  3. Periksa oli didalam reservoar, bila volumenya berkurang tambah dengan oli yang sesuai yaitu SAE 20 (isi reservoar kira-kira 0.70 liter).
  4. Tutup release valve dengan memutar valve searah jarum jam dan buka venting udara dengan mengendorkan filler plug beberapa putaran, kemudian tutup kembali filler plug.
  5. Tarik shuttle valve keluar, sehingga ujung knob kira-kira sejajar dengan pinggir drip pan. Pada posisi ini aliran fluida dapat mengalir secara maksimal.
  6. Lakukan pemompaan beberapa kali dengan gerakan penuh(full stroke) sampai fluida terlihat pada ujung pipa lurus.
  7. Pasang Test Gauge (TG) yang memiliki batas ukur = 1½ s.d. 2 x batas ukur Pressure Gauge (PG) yang akan dikalibrasi, pada ujung pipa lurus. Untuk mengarahkan posisi Test Gauge dapat mengendorkan dan mengencangkan nut adapter dan adapter.
  8. Lanjutkan pemompaan sampai fluida terlihat pada ujung pipa offset.
  9. Pasang pressure gauge yang akan dikalibrasi pada pipa offset. Untuk mengarahkan posisi Pressure Gauge dapat mengendorkan dan mengencangkan nut adapter dan adapter.
  10. Untuk menghilangkan gelembung udara didalam reservoar lakukan langkah- langkah sebagai berikut :
    • Lakukan beberapa kali pemompaan sehingga tekanan fluida naik.
    • Naikkan handle ke posisi maksimal.
    • Kendorkan bleed screw (valve) setengah putaran berlawanan arah jarum jam dan perlahan-lahan handle ditekan kebawah sampai fluida keluar dari bleed vent secara terus-menerus.
    • Tutup bleed screw segera saat penururan handle mencapai paling bawah.
  11. Ulangi langkah 9a s/d 9d sampai dipastikan tidak ada gelembung udara di dalam sistem (udara yang terjebak didalam sistem menyebabkan pompa tidak dapat dioperasikan pada tekanan tinggi atau hanya tercapai tekanan sebagian). Bleed screw harus tertutup pada saat handle ditarik keatas.
  12. Tekan shuttle valve kedalam, maka dapat dilakukan pemompaan terus-menerus sampai tekanan yang diinginkan.
  13. Untuk pengecekan operasi lakukan sbb : Tarik shuttle valve keluar, tutup release valve, operasikan handle beberapa kali. Jika ada perlawanan / terasa berat, tekan shuttle valve kedalam, maka dapat dilakukan pemompaan secara terus-menerus dalam rentang ukur dari peralatan yang dikalibrasi.

 

 

  • Proses Kalibrasi

Siapkan formulir (dokumen terkait F – 012) untuk mencatat hasil pembacaan. Kalibrasi dilakukan dua arah, yaitu dari minimum ke maksimum dan dari maksimum ke minimum.

Sesuai dengan standar acuan dari BS EN 837-1 ; 1998 untuk pressure gauge kelas (akurasi dalam %) 1 ; 1,6 dan 2,5 ; pressure gauge dikalibrasi minimum pada 5 (lima) titik ukur selain nol. Apabila diinginkan lebih dari 5 titik ukur, diambil jarak yang sama terhadap skala penuh.

  • (a) Baca dan catat suhu serta kelembaban udara atau %RH ruangan kalibrasi.
  • (b) Putar displacement piston mendekati posisi tengah, untuk menambah atau mengurangai tekanan sehingga dihasilkan tekanan yang tepat.
  • (c) Buka release valve untuk melepaskan/menurunkan tekanan dan diamkan beberapa saat sampai stabil. Set jarum TG pada angka nol, dan bila mungkin Pressure Gauge dinolkan.
  • Tutup release valve.
  • (e) Baca dan catat penunjukan Pressure Gauge (P) dan penunjukan standar Test Gauge (Pi) sebagai tekanan naik pada tekanan nol.
  • (f) Untuk titik kalibrasi pada nominal Pressure Gauge (P) diatasnya, lanjutkan pemompaan dengan hati-hati, hindari kelebihan tekanan. Jika tekanan kurang sedikit, tambahkan dengan memutar displacement piston searah jarum jam sehingga tekanan tepat pada titik kalibrasi kedua. Baca dan catat tekanan Test Gauge (Pi) sebagai tekanan naik. Putar displacement piston keposisi semula.
  • (g) Untuk titik-titik kalibrasi naik berikutnya dan seterusnya ulangi langkah 6 sampai tercapai titik kalibrasi tertinggi dari Pressure Gauge.
  • (h) Untuk arah sebaliknya dari maksimum ke minimum, naikkan tekanan sedikit diatas titik kalibrasi tertinggi dengan displacement piston, kemudian turunkan dengan displacement piston sampai kembali ke titik kalibrasi tertinggi. Baca dan catat tekanan Test Gauge sebagai tekanan turun tertinggi.
  • (i) Untuk titik kalibrasi pada nominal Pressure Gauge dibawahnya, buka release valve hati-hati. Jika tekanan masih sedikit diatas titik kalibrasi, turunkan dengan memutar displacement piston. Baca dan catat tekanan Test Gauge sebagai tekanan turun. Putar displacement piston keposisi semula.
  • (j) Untuk titik kalibrasi turun berikutnya dan seterusnya ulangi langkah 9 sampai tercapai titik kalibrasi nol.
  • (k) Lakukan langkah 4 s.d. langkah 10 sebanyak 3 kali.
  • (l) Baca dan catat suhu serta kelembaban udara ruangan kalibrasi.

 

  • Langkah Penutup Kalibrasi

Setelah proses kalibrasi pressure gauge selesai dikerjakan, diikuti dengan tahap berikutnya yang merupakan mata rantai terakhir dari pelaksanaan kalibrasi :

  1. Lepaskan test gauge dari pipa yang lurus dan pressure gauge dari pipa offset pada bodi pompa.
  1. Letakkan pressure gauge yang sudah dikalibrasi pada tempat yang telah ditentukan, sebelum disimpan ditempat penyimpanan.
  2. Bersihkan test gauge dan simpan pada tempat yang telah disediakan.
  3. Tutup release valve.
  4. Bersihkan unit portable test pump dari tumpahan oli yang mungkin terjadi dengan memakai kain yang halus.

 

  1. Perhitungan
    • Koreksi

Hitung tekanan rerata penunjukan standard Test Gauge pada setiap titik kalibrasi tekanan naik dan tekanan turun. Data tekanan naik diperoleh dari bagian 8.2. poin 5 s.d 7 dan poin 11 (3 kali). Data tekanan turun diperoleh dari bagian 8.2 poin 8 s.d. poin 10 dan poin 11 (3 kali).

Setiap titik kalibrasi, pembacaan Pi direrata menjadi Pr.

Rerata Tekanan   Pr = (P1+P2+P3)/3 

Dengan program Excel :

Rerata tekanan naik    Prn =average(Ci,Ei,Gi)

Rerata Tekanan turun  Prt = average(Di,Fi,Hi)

Dimana :

Ci,Ei dan Gi letak data Pi naik.

Di, Fi dan Hi letak data Pi turun.

Dari rerata tekanan naik Prn dan rerata tekanan turun Prt kemudian dikoreksi terhadap koreksi dari sertifikat kalibrasi Test Gauge (ks) yang dipergunakan sehingga diperoleh Tekanan Aktual  sebagai berikut:

Tekanan Aktual naik,   Pan = Prn + ks

Tekanan Aktual turun, Pat = Prt + ks

Koreksi hasil kalibrasi :

Koreksi naik   Kn = Pan – P

Koreksi turun Kt  = Pat – P

Dimana :        P = Penunjukan alat yang dikalibrasi (PG)

 

  • Ketidakpastian

Ketidakpastian pengukuran dalam kalibrasi dengan standar Test Gauge terdiri dari beberapa komponen ketidakpastian yaitu :

  • Ketidakpastian sertifikat standar TG.
  • Ketidakpastian daya ulang (repeatability).
  • Ketidakpastian daya baca (readability).

 

  1. Ketidakpastian Baku Standar TG (u1)

         uus / 2

Dimana : us = ketidakpastian standar TG (dari sertifikat).

Distribusi normal, dengan derajat kebebasan v1  = ¥

Koefisien sensitifitas c1 = 1

 

 

(b) Ketidakpastian Baku Daya Ulang / Repeatability (u2)

Ketidakpastian baku daya ulang pembacaan (u2) :

Stdev  σ  =

Dimana :      σ    = standar deviasi

Pi    = penunjukan tekanan TG.

Pr    = rerata Pi ,  dan n = 3

Dalam aplikasi dengan program excel rumus standar deviasi σ dapat langsung ditulis/diketik : = stdev(Ci,…,Cn)

Dimana Ci sampai Cn adalah letak data hasil pengukuran naik.

Demikian juga untuk pengukuran turun, diambil dari data pengukuran turun.

Ketidakpastiannya adalah :

                           u2  =  SBRE  = σ / √3 

Distribusi rectangular, dan derajat kebebasan v dihitung sebagai berikut:

Reliability R = 25% sehingga v2 = ½ x (100/25)2 = 8

Koefisien sensitifitas c2 = 1

 

  • Ketidakpastian Baku Daya Baca / Readability (u3)

Ketidakpastian baku daya baca tergantung kemampuan teknisi sebagai berikut;

Apabila kemampuan baca = b, maka :

u3 = ( b x m )/ √3 

Dimana : b    = kemampuan daya baca ( ½ s.d 1/10 )

m   = divisi terkecil dari alat yang dibaca.

Dengan asumsi mempunyai distribusi rectangular, dan derajat kebebasan v3 = ¥.

Koefisien sensitifitas c3 = 1

 

 

  • Ketidakpastian Gabungan (uc)

Ketidakpastian gabungan dicari dengan rumus :

uc2 = u12+u22+u32

uc = √( u12+u22+u32 )

 

  • Ketidakpastian Bentangan (ue)

Untuk menghitung ue, harus dicari derajat kebebasan efektif Veff. :

Veff = (uc)4/( u14/v1+ u24/v2 + u34/v3  )

Setelah diperoleh harga Veff, dengan tabel-1 t-student pada tingkat kepercayaan 95%, harga k dapat ditentukan.

Ketidakpastian Bentangan :

ue = k x uc

Pada umumnya untuk tingkat kepercayaan 95%, dapat disederhanakan k=2, sehingga :

ue = 2 x uc

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 01 Agustus sampai 31 Agustus 2009 di Laboratorium Kalibrasi Tekanan – Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi PPPTMGB ”LEMIGAS” yang berlokasi di Gedung Sarana dan Mutu, Jalan Ciledug Raya, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230.

 

  1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Dead Weight Tester (DWT)
  2. Test Gauge 2000 dan 4000 psi
  3. Pressure Gauge 15 dan 200 psi
  4. Pompa Hidrolik

 

  1. Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan melalui empat tahap, yaitu :

  1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan diantaranya adalah kegiatan penelaahan kepustakaan meliputi penelaahan buku teks, jurnal, artikel, dan sumber bacaan lain yang berkaitan dengan Penelitian yang hendak dilakukan. Selain melakukan penelaahan, penulis juga mengikuti pengarahan-pengarahan, dan berdiskusi untuk menentukan topik-topik percobaan yang hendak dilakukan.

  1. Tahap Pelaksanaan

Pada tahap ini penulis melakukan percobaan langsung topik-topik percobaan yang sudah ditentukan pada tahap persiapan. Selain itu, penulis mengambil data primer, yang nantinya akan diolah pada tahap selanjutnya.

 

 

  1. Tahap Pengolahan

Pada tahap ini, penulis melakukan pengolahan data primer yang sudah diambil pada tahap sebelumnya, pengolahan data dilaksanakan agar diperoleh deviasi kebenaran konvensional dan data sudah bisa dibaca oleh pembaca.

  1. Tahap Pelaporan

Tahap ini merupakan tahapan akhir dari Penelitian. Pada laporan dikemukakan proses berlangsunnya Penelitian dan pengalaman penulis selama melakukan Penelitian.

 

  1. Metode Penelitian

Metode yang di gunakan dalam Penelitian ini adalah Eksperimen. Penulis melakukan kalibrasi menggunakan DWT untuk mengkalibrasi Test Gauge berukuran 2000 psi dan 4000 psi, dan menggunakan pompa hidrolik untuk mengkalibrasi pressure gauge berukuran 15 psi dan 400 psi.

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Dalam Penelitian ini data diperoleh dari pengkalibrasian menggunakan DWT untuk mengkalibrasi Test Gauge berukuran 2000 psi dan 4000 psi, dan menggunakan pompa hidrolik untuk mengkalibrasi pressure gauge berukuran 15 psi dan 400 psi. Pengkalibrasian dilakukan untuk mendapatkan data primer yang nanti akan diolah agar bisa mendapatkan angka kebenaran konvensional dari alat yang dikalibrasi.

Untuk mengkalibrasi Test Gauge menggunakan DWT, pengambilan data primer menggunakan format F-016 (format terlampir). Sedangkan untuk mengkalibrasi Pressure gauge menggunakan Pompa Hidrolik, pengambilan data primer menggunakan format F-012 (format terlampir).

 


  1. Teknik Analisis Data
  2. Dead Weight Tester

Analisis data primer dari hasil kalibrasi menggunakan DWT, memakai perhitungan sebagai berikut:

  • Koreksi
    • Koreksi Faktor Gravitasi (Fg)

Pdwt = P x Fg = P x(Gl/Gst)

Dimana : P = tekanan terukur

Fg = 1

 

  • Koreksi Pengaruh Suhu (Kt)

Kt = Δt x 0.002% x P

Dimana : Δt = ts – tr

P = tekanan terukur.

ts = Suhu Std DWT saat dikalibrasi (dari sertifikat DWT)

tr = (t1+ t2 + t3 + t4 )/ 4

t1 = suhu ruang sebelum kalibrasi (8.2. poin 1)

t2 s/d t4 = suhu ruang setelah kalibrasi (8.2. poin 12 sebanyak 3 x )

 

  • Koreksi densitas udara (Kd)

Kd = 0 % x P = 0

 

  • Koreksi Datum Level (Kl)
  1. Tekanan Rendah ( 10 ~ 800 ) psi :
  2. Untuk Tekanan Nominal < 30 psi, rumus koreksi head fluid :

Kl =   psi

  1. Untuk Tekanan Nominal ≥ 30 psi

Kl = – ( h + 3.17 )* ρ*g = – ( h + 3.17 )*0.0123 psi

 

  1. Tekanan tinggi ( 200 ~ 16000 ) psi

Kl = – ( h + 4.50 )* ρ*g = – ( h + 4.50 ) x 0.0123 psi

 

  • Koreksi Hasil Kalibrasi

Koreksi = Pdwt(aktual) – Pa

Dimana  :    Pa = Rerata penunjukan alat yang dikalibrasi (Test Gauge)

= (P1+ P2 + P3 ) / 3.

 

  • Ketidakpastian
  • (a) Ketidakpastian Baku Standar DWT (u1)

u1 = us / 2

Dimana : us = ketidakpastian standar DWT (dari sertifikat).

 

  • (b) Ketidakpastian Baku Daya Ulang / Repeatability (u2)

u2  =  SBRE  = σ / √3 

 

  • (c) Ketidakpastian Baku Daya Baca / Readability (u3)

u3 = ( b x m )/ √3 

Dimana :    b = kemampuan daya baca ( ½ s.d 1/10 )

m = divisi terkecil dari alat yang dibaca

 

  • (d) Ketidakpastian Baku Gravitasi (u4)

u4= (0.000025/√3 ) x Pe

Dimana :  Pe = tekanan efektif dari DWT.

 

  • (e) Ketidakpastian Baku Pengukuran Suhu (u5)

u5 = ui x c5  = ui x 0.00002 x Pe

Dimana :  ui = ketidakpastian suhu, gabungan ut dan uv  .

Pe = tekanan efektif DWT.

 

 

  • (f) Ketidakpastian Baku Pengukuran Level (u6)

u6 = ui x c6 = (up / 2 ) x 0.0123 psi

Dimana  up = ketidakpastian pengukur level (Sertf Kalib. penggaris).

 

  • (g) Ketidakpastian Gabungan (uc)

Ketidakpastian gabungan dicari dengan rumus :

uc2 = u12+u22+u32+u42+u52+u62

uc=

 

  • (h) Ketidakpastian Bentangan (ue)

ue = 2 x uc

 

  1. Pompa Hidrolik

Analisis/pengolahan data primer untuk kalibrasi menggunakan pomoa hidrolik memakai perhitungan sebagai berikut:

 

  • Koreksi

Koreksi naik   Kn = Pan – P

Koreksi turun Kt  = Pat – P

Dimana :        P = Penunjukan alat yang dikalibrasi (PG)

 

  • Ketidakpastian
    • Ketidakpastian Baku Standar TG (u1)

         uus / 2

Dimana : us = ketidakpastian standar TG (dari sertifikat).

 

(b) Ketidakpastian Baku Daya Ulang / Repeatability (u2)

               u2  =  SBRE  = σ / √3 

 

  • Ketidakpastian Baku Daya Baca / Readability (u3)

u3 = ( b x m )/ √3 

Dimana : b    = kemampuan daya baca ( ½ s.d 1/10 )

m   = divisi terkecil dari alat yang dibaca.

 

  • Ketidakpastian Gabungan (uc)

Ketidakpastian gabungan dicari dengan rumus :

uc2 = u12+u22+u32

uc = √( u12+u22+u32 )

 

  • Ketidakpastian Bentangan (ue)

ue = 2 x uc

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Kalibrasi terhadap suatu alat bertujuan untuk menentukan deviasi kebenaran konvensional dari alat ukur, menjamin hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional/internasional dan menjaga kondisi alat ukur agar tetap sesuai dengan spesifikasinya.

Peneliti melakukan kalibrasi terhadap test gauge berukuran 2000 psi dan 4000 psi serta pressure gauge berukuran 15 psi dan 400 psi untuk mengetahui apakah alat-alat tersebut masih sesuai dengan spesifikasinya atau tidak. Selain itu, kalibrasi ini juga bertujuan untuk menentukan nilai koreksi dan ketidakpastian dari alat ukur tersebut. Penggunaan alat ukur yang tidak sesuai dengan spesifikasinya serta tidak diketahuinya angka koreksi dan ketidakpastian membuat penelitian yang menggunakan alat-alat tersebut tidak bisa diterima secara umum, karena dianggap tidak memenuhi standar nasional maupun internasional.

Pada bab tinjauan pustaka telah dijelaskan bahwa suatu alat tidak memenuhi syarat yang ditentukan jika toleransinya melebihi angka koreksinya. Alat yang dikalibrasi oleh peneliti memiliki toleransi ± 0,5% berarti kesalahan maksimum yang diizinkan ± 0,5%. Jika angka koreksi > toleransi, maka alat tersebut tidak memenuhi syarat yang ditentukan dan tidak layak digunakan dalam suatu penelitian.

Untuk mengetahui apakah alat-alat yang dikalibrasi oleh peneliti masih layak atau tidak akan dijelaskan secara terperinci hasil dan pembahasan kalibrasi masing-masing alat sebagai berikut:

 

  1. Kalibrasi Test Gauge berukuran 2000 dan 4000 psi menggunakan Dead Weight Tester
    1. Kalibrasi Test Gauge 2000 psi

Untuk Test Gauge berukuran 2000 psi dengan skala terkecil 2 psi diperoleh data primer sebagai berikut:

 

 

Tabel 4.1 Data Primer Kalibrasi Test Gauge 2000 Psi

No Nominal Penunjukan alat
DWT Naik Turun Naik Turun Naik Turun
psi psi  psi  psi  psi  psi psi
1. 0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2. 200 200,00 200,00 199,00 199,00 200,00 200,00
3. 400 400,00 400,00 399,00 399,00 400,00 399,00
4. 600 597,00 597,00 596,00 597,00 597,00 597,00
5. 800 797,00 797,00 797,00 797,00 797,00 797,00
6. 1000 995,00 995,00 996,00 995,00 996,00 995,00
7. 1200 1195,00 1195,00 1195,00 1195,00 1195,00 1194,00
8. 1400 1395,00 1395,00 1395,00 1395,00 1394,00 1394,00
9. 1600 1593,00 1592,00 1593,00 1593,00 1593,00 1593,00
10. 1800 1791,00 1793,00 1791,00 1791,00 1791,00 1791,00

 

Pengolahan data dengan menggunakan perhitungan yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya memberikan hasil kalibrasi sebagai berikut[1]:

 

Tabel 4.2 Data Hasil Pengolahan Test Gauge 2000 Psi

NO Nominal Koreksi Ketidakpastian
Alat Naik Turun Naik Turun
  ( psi ) ( psi ) ( psi ) ( psi ) ( psi )
1 0 0,00 0,00 1,15 1,15
2 200 -0,04 -0,04 1,41 1,41
3 400 -0,46 -0,13 1,41 1,41
4 600 0,64 0,31 1,42 1,19
5 800 -0,10 -0,10 1,19 1,19
6 1000 0,83 1,50 1,42 1,20
7 1200 0,86 1,19 1,20 1,43
8 1400 0,79 0,79 1,43 1,43
9 1600 2,05 2,39 1,22 1,44
10 1800 3,63 2,97 1,23 1,97

 

Nilai toleransi yang diperbolehkan pada test gauge berukuran 2000 psi ini adalah + 0,5% x 2000 psi = + 1 psi. Alat ini dikatakan masih layak untuk digunakan jika angka koreksinya tidak melebihi + 1 psi.

Berdasarkan tabel 4.2 test gauge masih layak digunakan pada nominal 0-800 psi, dan 1400 psi. Alat ini tidak layak digunakan untuk mengukur nominal 1000-1200 psi dan 1600-1800 psi, karena angka koreksinya sudah melebihi + 1 psi.

 

  1. Kalibrasi Test Gauge 4000 psi

Untuk Test Gauge berukuran 4000 psi dengan skala terkecil 5 psi diperoleh data primer sebagai berikut:

 

Tabel 4.3 Data Primer Kalibrasi Test Gauge 4000 Psi

No Nominal Penunjukan alat
DWT Naik Turun Naik Turun Naik Turun
psi psi  psi  psi  psi  psi psi
1. 0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2. 400 395,00 395,00 397,50 395,00 397,00 396,00
3. 800 792,50 792,50 794,00 794,00 794,00 795,00
4. 1200 1192,50 1192,50 1192,00 1192,50 1194,00 1192,50
5. 1600 1590,00 1590,00 1590,00 1591,00 1590,00 1591,00
6. 2000 1990,00 1990,00 1990,00 1988,00 1989,00 1990,00
7. 2400 2387,50 2387,50 2391,00 2389,00 2387,00 2388,00
8. 2800 2785,00 2785,00 2785,00 2785,00 2785,00 2785,00
9. 3200 3187,50 3187,50 3185,00 3186,00 3185,00 3184,00
10. 3600 3585,00 3582,50 3585,00 3585,00 3585,00 3585,00

 

Pengolahan data dengan menggunakan perhitungan yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya memberikan hasil kalibrasi sebagai berikut[2]:

 

Tabel 4.4 Data Hasil Pengolahan Test Gauge 4000 Psi

  Nilai Std.DWT   Penunjukan Alat Koreksi Ketidakpastian
NO Nominal Aktual Naik Turun Naik Turun Naik Turun
  ( psi ) ( psi ) ( psi ) ( psi ) ( psi ) ( psi ) ( psi ) ( psi )
1 0 0 0 0 0 0 1 1
2 400 399 397 395 3 4 2 1
3 800 797 794 794 4 3 1 2
4 1200 1196 1193 1193 3 4 2 1
5 1600 1595 1590 1591 5 5 1 1
6 2000 1995 1990 1989 5 5 1 2
7 2400 2393 2389 2388 5 5 3 1
8 2800 2792 2785 2785 7 7 1 1
9 3200 3191 3186 3186 6 6 2 2
10 3600 3591 3585 3584 6 6 1 2

 

Nilai toleransi yang diperbolehkan pada test gauge berukuran 200 psi adalah + 0,5% x 4000 psi = + 20 psi. Alat ini dikatakan masih layak untuk digunakan jika angka koreksinya tidak melebihi + 20 psi.

Dari tabel 4.4 tidak ada nilai koreksi yang melebihi nilai toleransi + 20 psi, sehingga alat tersebut masih layak untuk digunakan di setiap nominalnya dengan nilai deviasi kebenaran konvensional tertera dalam tabel.

 

  1. Kalibrasi Pressure gauge berukuran 15 dan 400 psi menggunakan Pompa Hidrolik
    1. Kalibrasi Pressure Gauge 15 psi

Untuk Pressure Gauge Berukuran 15 Psi dengan skala terkecil 0,1 psi diperoleh data primer sebagai berikut:

 

Tabel 4.5 Data Primer Kalibrasi Pressure Gauge 15 Psi

  Penunjukan     Penunjukan Standar
No. Alat Naik Turun Naik Turun Naik Turun
  psi psi psi psi psi psi psi
1 0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2 3,0 3,00 3,00 3,05 3,00 3,00 3,00
3 6,0 6,00 6,10 6,10 6,10 6,10 6,10
4 9,0 9,20 9,20 9,18 9,18 9,20 9,18
5 12,0 12,25 12,20 12,20 12,20 12,23 12,25

 

Pengolahan data dengan menggunakan perhitungan yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya memberikan hasil kalibrasi sebagai berikut[3]:

 

 

Tabel 4.6 Data Hasil Pengolahan Pressure Gauge 15 Psi

  Nominal Koreksi Ketidakpastian
NO Alat Naik Turun Naik Turun
  psi psi psi psi psi
1 0,0 0,00 0,00 0,03 0,03
2 1,5 1,58 1,57 0,05 0,04
3 6,0 0,15 0,19 0,08 0,04
4 9,0 0,22 0,20 0,04 0,04
5 12,0 0,23 0,22 0,05 0,05

 

Nilai toleransi yang diperbolehkan pada pressure gauge berukuran 15 psi adalah + 0,5% x 15 psi = + 0,075 psi. Alat ini dikatakan masih layak untuk digunakan jika angka koreksinya tidak melebihi + 0,075 psi.

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa alat ini sudah tidak layak untuk digunakan karena semua nominalnya sudah melebihi kesalahan maksimum yang diperkenankan yaitu + 0,075 psi.

 

  1. Kalibrasi Pressure Gauge 400 psi

Untuk Pressure Gauge berukuran 400 psi dengan skala terkecil 2 psi diperoleh data primer sebagai berikut:

Tabel 4.7 Data Primer Kalibrasi Pressure Gauge 400 Psi

  Penunjukan     Penunjukan Standar
No. Alat Naik Turun Naik Turun Naik Turun
  psi psi psi psi psi psi psi
1 0 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
2 40 40,90 40,80 40,80 41,00 40,90 40,80
3 80 80,50 80,40 80,40 80,70 80,70 80,30
4 120 120,10 120,60 120,40 120,60 120,80 120,40
5 160 160,10 160,20 160,00 160,00 160,10 160,00
6 200 199,50 199,60 199,60 200,00 199,70 200,00
7 240 239,50 239,60 239,60 239,50 239,70 239,50
8 280 279,50 279,60 278,30 278,40 278,40 278,20
9 320 319,50 319,50 319,50 319,00 319,00 319,20
10 360 358,50 358,60 358,40 358,40 358,40 358,40

 

Pengolahan data dengan menggunakan perhitungan yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya memberikan hasil kalibrasi sebagai berikut[4]:

 

Tabel 4.8 Data Hasil Pengolahan Pressure Gauge 400 Psi

  Nominal Koreksi Ketidakpastian
NO Alat Naik Turun Naik Turun
  psi psi psi psi psi
1 0 0,0 0,0 0,2 0,2
2 40 1,0 1,0 0,2 0,2
3 80 0,7 0,6 0,3 0,3
4 120 0,5 0,5 0,5 0,2
5 160 0,0 0,0 0,2 0,2
6 200 -0,3 -0,1 0,2 0,4
7 240 -0,3 -0,3 0,2 0,2
8 280 -1,1 -1,1 0,9 1,0
9 320 -0,5 -0,6 0,4 0,4
10 360 -1,4 -1,4 0,2 0,2

 

 

Nilai toleransi yang diperbolehkan pada pressure gauge berukuran 400 psi adalah + 0,5% x 400 psi = + 2 psi. Alat ini dikatakan masih layak untuk digunakan jika angka koreksinya tidak melebihi + 2 psi.

Berdasarkan tabel 4.8. tabel tersebut menunjukkan bahwa alat tersebut masih sesuai dengan spesifikasinya, alat tersebut menunjukkan angka sebenarnya dengan nilai koreksi tidak melebihi + 2 psi.

[1] Rincian Pengolahan Data Terlampir

[2] Rincian Pengolahan Data Terlampir

[3] Rincian Pengolahan Data Terlampir

[4] Rincian Pengolahan Data Terlampir

BAB VI

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Hasil kalibrasi menggunakan Dead Weight Tester dan Pompa Hidrolik menunjukkan bahwa alat ukur test gauge dan pressure gauge masih layak digunakan. Hal ini berdasarkan pada angka koreksi yang ditunjukkan alat tidak melebihi angka toleransi. Kecuali untuk pressure gauge berukuran 15 psi alat ukur tekanan ini sudah tida layak digunakan dan harus segera diganti.

  1. SARAN

Sebaiknya untuk penelitian selanjutnya dianjurkan untuk mengganti test gauge analog diganti dengan test gauge digital. Hal ini dikarenakan pembacaan skala dalam test gauge analog membutuhkan waktu yang lama dan sangat tergantung pada ketelitian pembaca skala.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

British Standard Specification for Bourdon Tube pressure and vaccum gauges BS  EN 837-1 : 1998

DIKTAT, Sistem Kalibrasi, Laboratorium Kalibrasi.

DIKTAT, Kalibrasi Tekanan, Laboratorium Kalibrasi.

DIKTAT, Ketidakpastian Pengukuran Pada Pengujian, AMTeQ 2007.

Guide to Expression Uncertainty in Measurement, 1992

Http://lemigas.esdm.go.id.2009

Http://patmawati.wordpress.com. 2009

ISO 4787- 1984(E).

Manual For The Ashcroft Type  1305D Deadweight Tester and Type 1327D Portable Pump.

User Handbook Hydraulic Deadweight Tester -Pressurements Ltd.